Cari

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

bulan

Juni 2008

Nice Picture

Ini 2 foto yang aku temukan di situs magnum photos lainnya. Tahu nggak, foto-foto ini bagus banget dan paling aku suka. Misterius sekaligus bikin kita pengin liat terus, dijamin nggak bakalan bosan.

Salah Ramal

Ramalanku tentang unggulan jawara EURO 2008 kali ini ternyata 100 % salah, hehehe…! Karena tak satu pun dari tim yang aku unggulkan menang. Ternyata 2 tim yang berhasil masuk FINAL adalah tim besar yaitu SPANYOL dan JERMAN! Dua-duanya dah langganan masuk kompetisi dunia, pastinya pertarungan bakalan lebih seru. tapi aku pribadi milih SPANYOL deh buat juara. Soalnya pemain2nya masih muda2 dan semangatnya lebih besar. Kalau JERMAN kan sudah sering menang, mendingan buat kompetisi kali ngalah deh buat SPANYOL negerinya RAUL GONZALES, yang sanyang banget pada perhelatan kali initidak dimainkan.

Euro 2008 TOP Abiess…

Akhirnya…di tengah situasi negara yang tak menentu (kacau) saat ini ada sesuatu yang dapat menjadi pelipur lara bagi kita semua. Apalagi kalau bukan hajatan terbesar sepakbola negara-negara Eropa, EURO 2008.

Ajang ini sepertinya datang di saat yang tepat. Pada saat bangsa ini sedang perang urat syaraf, tenaga, pikiran yang hanya bikin pusing dan cuma nambah runyam masalah EURO 2008 hadir untuk sedikit mengendurkan urat syaraf yang kendur. I’m so glad and happy for this even!

meskipun pada perhelatan EURO kali ini tim kesayanganku tidak hadir tetapi tidak mengurangi serunya jalan pertandingan. Buktinya lebih kurang selama 2 minggu pelaksanaannya kejutan-kejutan yang dihadirkan benar-benar di luar dugaan. Seperti berhasilnya 2 tim non-unggulan menembus babak semifinal, Turki dan Rusia, yang masing-masingnya sukses mengalahkan tim-tim besar. Belum lagi kepulangan tim peraih PIALA DUNIA 2006, ITALIA, Prancis, Belanda yang menjadi unggulan untuk memenangkan EURO kali ini. But, it’s a football. There’s a lot of surprise…!!!

Tapi apakah keajaiban itu akan terus terjadi…??! Kita hanya dapat membuktikannya melalui beberapa pertandingan yang masih tersisa. Yaitu ntar malam pertandingan antara Jerman dan Turki, dan malam berikutnya antara Spanyol dan Rusia.

So berdasarkan pengamatan sementaraku yang bakalan memperebutkan trophy EURO 2008 akhir Juni mendatang adalah RUSIA Vs TURKI. Tapi yang bakal menjadi pemenang sejati adalah TURKI. Nggak tahu kenapa feelku ke negara yang satu ini. Soalnya ingat bagaimana hebatnya YUNANI waktu euro 2004 yang bikin kejutan dengan “Dewi Fortunanya” berhasil bikin Portugal nangis dan pulang dengan tangan kosong. kali ini benar nggak ya ramalanku??? Just see it…

Berkunjung ke Museum Adityawarman

Menjadi seorang mahasiswa ternyata tidak dapat lepas dari yang namanya TUGAS, setidaknya itulah yang aku rasakan. Pada awalnya kunjunganku (Kamis, 5/6) dan teman-teman lokal kemarin ke Museum Adityawarman dilatarbelakangi untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Namun satu hal yang pasti “tidak semua tugas yang dikerjakan dengan terpaksa akan berakhir dengan buruk”, setidaknya itulah kesimpulan yang aku dapat setelah melakukan kunjungan tersebut.
Suasana yang sejuk dan asri menyambut kami dengan hangat setelah selama lebih kurang 20 menit menempuh perjalanan ke sana. Kondisi yang tadinya tegang dan capek berangsur hilang setelah Bangunan Rumah GAdang yang menjadi ciri museum berdiri gagah di depan kami. Antusiasme mulai merasuk ke jiwa kami semua. Alhasil dengan SEMANGAT 45 kami pun menjelajahi satu per satu ruangan yang ada di museum tersebut.
Banyaknya ruang dan sempitnya waktu yang tersedia (museumnya mau tutup) menyebabkan kami tidak dapat berlama-lama untuk melihat berbagai benda yang ada. Namun demikian kami cukup puas karena setidaknya kami sudah melihat secara dekat benda-benda peninggalan budaya Minangkabau di masa lalu yang sebagian ada yang baru kami lihat. Beberapa ruangan yang sempat kami jelajahi diantaranya, ruang pamer pakaian daerah, rumah adat, alat kesenian tradisional, senjata tradisional, dan lukisan.
Karena rasa penasaran kami yang masih tersisa dari kunjungan ke museum tersebut, maka kami pun berencana buat melanjutkan penjelajahan ini di lain waktu.
Oh…ya sebelum pulang kami jugasempat melihat rombongan Wapres Jusuf Kalla dan Pengurus Partai GOLKAR SUMBAR yang lewat di depan museum. Kemudian dengan berbasah-basah ria (lagi hujan) kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Kalo tugasnya kayak gini sih, berapa pun banyaknya kita akan ikhlas kok. Belajar yang FUN memang harusnya di luar ruangan yaaa…?!

HASIL KUNJUNGAN :

Kunjungan ke Museum Adityawarman yang saya dan teman-teman lakukan pada Kamis (5/6) lalu membawa manfaat besar bagi kami. Bagaimana tidak, benda-benda tradisional (kuno) yang biasanya hanya dapat kami lihat melalui buku atau televisi saat itu dapat kami lihat langsung. Keberangkatan yang diawali dengan hujan pun tak mematahkan semangat kami untuk menjelajahi museum dengan latar arsitektur rumah gadang tersebut.

Meskipun tidak semua ruang dapat kami masuki, dikarenakan keterbatasan waktu (museum hampir tutup) tetap tak menyurutkan langkah kami. Maka dari hasil penjelajahan dan pengamatan kemarin, kami sempat masuk dan melihat ruang pakaian tradisional (busana pengantin), model kamar atau bilik-bilik rumah gadang di masa lampau, makanan dan perlengkapan perhelatan (upacara adat) Minangkabau seperti, turun mandi, baralek, aqiqah, alat kesenian tradisional yang bentuknya unik-unik, ruang pamer foto-foto, lukisan dan gambar kehidupan masa lalu dan terakhir ruang pamer alat atau senjata-senjata tradisional.

Khusus untuk hasil penjelajahan dan pengamatan alat-alat kesenian tradisional Minangkabau kami menemukan dan mendapatkan sejumlah keterangan. Keterangan tersebut bahwasanya alat musik tradisional Minangkabau memiliki ragam dan kekhasan tersendiri. Dapat kita lihat pada masing-masing jenis alat musik tersebut, yaitu :

  1. Alat Musik Tiup

Alat musik tiup biasanya dibunyikan secara tunggal atau dalam bentuk instrumentalia, namun juga untuk mengiringi dendang. Irama dan dendang pada umumnya bersifat sentimental atau bernada sedih. Namun terkadang juga diselingi dengan kata-kata lucu dan menyindir yang membuat pendengar tertawa geli. Di antara alat-alat tiup tersebut antara lain :

1) Pupuik

2) Saluang panjang

3) Pupuik tanduk

4) Bansi

5) Sodam

6) Pupuik sarunai

7) Saluang darek

8) Sarunai

9) Pupuik silangkiang

10) Saluang sirompak

11) Pupuik baranak

12) Pupuik sarunai agam

13) Pupuik sarunai singgalang

  1. Alat Musik Pukul

Alat musik pukul biasanya digunakan untuk mengiringi atau menjadi pelengkap alat-alat musik lain. Seperti saluang atau rebab yang mendatangkan nada-nada khas Minangkabau. Alat-alat musik tersebut antara lain :

1) Tambur

2) Gandang

3) Gandang katindiak

4) Rebana

5) Rapai

6) Gandang puluik-puluik

7) Dulang

8) Talempong batuang

9) Talempong unggan

10) Talempong kayu

11) Tasa

12) Rebana

  1. Alat Musik Petik dan Gesek

Alat musik petik dan gesek tradisional Minangkabau dipengaruhi budaya asing seperti rebab terbuat dari tempurung kelapa dengan tangkai bambu. Rebab digantikan biola yang lebih modern atau gitar atau kecapi yang dulunya tidak dikenal di Minangkabau.

Alat musik tradisional yang mengakar kuat di tengah masyarakat adalah genggong yang dipetik melalui rongga mulut sebagai media getar. Dari pengaruh budaya Jepang, kemudian dikenal kecapi yang digunakan untuk mengiringi permainan basijobang di Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota.

Rebab terdiri dari 3 jenis, yaitu rebab darek, rebab pesisir, rebab pariaman. Jenis alat musik petik dan gesek tersebut antara lain :

1) Genggong (petik)

2) Kecapi Japang (petik)

3) Rebab darek (gesek)

4) Rebab pesisir (gesek)

5) Rebab pariaman (gesek)

Dari keterangan-keterangan tersebut dapatlah kita simpulkan kegiatan ke museum dengan tujuan untuk mengetahui dan mengenal kekayaan warisan budaya merupakan sesuatu yang penting dan hendaknya selalu dilakukan. Dalam rangka untuk mewariskan dan melestarikan kekayaan tersebut di masa yang akan datang. Jadi bukan hanya budaya Minangkabau saja yang dikenal, tetapi seluruh kebudayaan bangsa Indonesia hendaknya.

Kebingungan Pemerintah = Kesusahan Rakyat

Jika menyebut kata Indonesia saat ini, pikiran kita hanya akan tertuju pada hal-hal yang bermakna negatif, yaitu “masalah dan kekacauan-kekacauan”. Hal ini tentunya merupakan suatu yang beralasan mengingat bagaimana keadaan negeri ini dari tahun ke tahun, yang tak henti-hentinya dirundung masalah. Mulai dari yang ringan hingga amat berat yang sepertinya sudah tidak bisa lagi diatasi. Musibah demi musibah pun belum juga sanggup untuk menyadarkan bangsa yang dulu dikenal sebagai Macan Asia ini, yang terjadi justru malah sebaliknya, perselisihan dan pertengkaran selalu saja mewarnai wajah bangsa dalam mengatasi masalah yang ada.

Era reformasi pun belum menampakkan hasil selain adanya “kebebasan sebebas-bebasnya” yang dinikmati seluruh negeri. Keadaan menjadi bertambah buruk ketika pemegang kekuasaan tertinggi (saat ini) yang disebut dengan pemerintah tidak mampu menjadi penyelamat dari situasi-situasi sulit layaknya tokoh utama dalam film-film superhero yang menjadi tontonan wajib generasi muda (penerus bangsa). Pemerintah tidak mampu menunjukkan “taring”nya dalam menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang menghadang, baik dari dalam maupun serangan dari luar.

Jika kita ingin mengetahui contoh (masalah)nya seperti apa, tentunya sudah sangat banyak dan tak terhitung. Seperti, penanganan bencana alam di pelosok negeri, terutama Aceh (tsunami 2004) dan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo Jawa Timur yang kebanyakan dari mereka masih tidur di tenda-tenda pengungsian tak tahu sampai kapan, kasus penganiayaan, pemerkosaan dan pembunuhan TKI yang merupakan penghasil devisa terbesar tak bisa diselamatkan oleh negara yang mestinya memiliki daulat baik ke dalam maupun ke luar, penyelidikan dan sidang kasus-kasus tindak korupsi (KKN) para pejabat Negara maupun elemen asing yang bermukim di negeri ini yang cendrung gone with the wind, belum lagi kasus pencurian dan penjarahan pulau-pulau, SDA, kebudayaan oleh bangsa asing yang ironisnya hanya menjadi buah bibir dan sepertinya “tak usah diambil pusing”. Bahkan untuk kasus-kasus ini pun pemerintah hanya mampu untuk berkata “ jangan gegabah!”

Belum lagi jika ditambah dengan kasus dari segi pendidikan. Biaya pendidikan yang mahal, adanya kekerasan demi kekerasan di lembaga yang harusnya melahirkan pemikir-pemikir cerdas yang memperbaiki bangsa malah menjadi pembunuh-pembunuh berdarah dingin berwajah “bung-bung muda”. Upaya mengungkap kebenaran oleh mereka yang peduli malah menuai mutasi yang herannya justru diamini oleh pemegang tampuk kekuasaan tertinggi. Hingga masalah teraktual saat ini, yaitu kenaikan BBM dan pemberian BLT bagi rakyat yang notabenenya sudah sangat miskin ini.

Kenaikan harga BBM yang selama ini menjadi kekhawatiran rakyat kecil ternyata sudah tak dapat dielakkan lagi. Maka pada hari Sabtu (24/5) lalu secara resmi harga minyak di tanah air kembali mengalami kenaikan sekaligus menandai adanya pengurangan subsidi pemerintah kepada rakyat. Kebijakan pemerintah ini diambil seiring dengan terjadinya kenaikan harga minyak dunia yang semakin drastis. Tak pelak lagi para ibu rumah tangga pun harus mengencangkan ikat pinggang untuk mengatasi dampak kenaikan BBM dan para bapak pun sepertinya harus lebih giat bekerja untuk membiayai hidup keluarga sehari-hari yang kian hari selalu bertambah sulit.

Sungguh merupakan suatu yang ironis, mengingat negeri ini memiliki kekayaan berlimpah ruah yang sayangnya justru dinikmati oleh bangsa asing. Sektor pertambangan dan hasil bumi yang seharusnya dapat digunakan untuk menghidupi bangsa ini jauh-jauh hari telah jatuh dan dimiliki oleh bangsa asing. Kemudian diperparah dengan adanya penurunan dari segi produksi migas tanah air beberapa tahun terakhir.

Hal ini seperti yang tertulis dalam Koran harian daerah, Sumatera Barat, Singgalang (Kamis, 29/5) yang menyebutkan sebesar 84 % produksi migas yang dimiliki Indonesia kini dikuasai asing. Sementara sisanya kebanyakan adalah sumur tua yang dikelola oleh Pertamina (Persero). Seperti yang dinyatakan oleh Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Erwin Usman bahwa “Sebanyak 329 blok migas di tangan asing. Jika diletakkan titik-titik pada peta Indonesia maka Indonesia sudah tergadaikan”. Dia pun mengatakan luas lahan konsesi yang dikuasai asing untuk migas mencapai 95, 45 juta hektar. Sedangkan luas daratan Indonesia mencapai 192.257.000 hektar.

“Nasi sudah menjadi bubur”, kita tentunya tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam kenaikan harga BBM (minyak dunia) yang memang serempak terjadi di berbagai belahan dunia, namun yang mengherankan kenapa pemerintah (Indonesia) tidak mengatasi atau mencegahnya dari jauh-jauh hari. Bukankah negeri ini juga memiliki ekonom-ekonom (ahli ekonomi) yang katanya diakui eksistensi dan kemampuannya di pentas dunia? Merupakan suatu hal yang amat disayangkan jika lonjakan harga minyak dunia yang pastinya sudah diramalkan (diketahui) akan terjadi tidak dapat dimanfaatkan pemerintah untuk menyejahterakan rakyat, setidaknya untuk menyenangkan rakyat yang seumur hidupnya selalu susah paling tidak untuk “sehari”.

Pemerintah seharusnya dapat memberikan alternatif-alternatif bagi rakyat dalam mencegah dan mengatasi dampak kenaikan BBM ini. Mulai dari skala kecil hingga yang besar. Seperti, memberikan pembekalan ketrampilan dalam bidang usaha kecil dan menengah (UKM) yang lebih inovatif, menawarkan energi-energi baru lain sebagian pengganti energi panas migas (misal: air laut, minyak sayur), dalam skala luas membatasi jumlah kendaraan yang masuk ke dalam negeri serta yang paling penting usaha untuk meningkatkan kembali produksi minyak dalam negeri (jika mungkin) dan mengurangi jumlah ekspor ataupun impor luar negeri.

Jika alternatif-alternatif ini dapat dilaksanakan setidaknya kerepotan-kerepotan dan kebingungan pemerintah selama ini yang sibuk menutupi konsumsi nasional dengan jalan mengambil dana APBN hanya untuk konsumsi BBM yang justru banyak digunakan oleh kalangan menengah atas dapat dikurangi. Dan mengingat seperti yang dikutip dari koran harian pagi Padang Ekspres, Minggu (25/5) bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi bisa saja terjadi dua kali sepanjang tahun ini, mengingat harga minyak dunia yang menunjukkan tren meningkat. Apabila sudah menyentuh level USD 150 per barel, kenaikan harga BBM bersubsidi tidak dapat dihindari, meski pemerintah baru saja menaikkannya, Sabtu (24/5).

Oleh sebab itu untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk seperti demo-demo anarkis yang banyak terjadi dari berbagai kalangan pra dan pasca kenaikan BBM saat ini, ada baiknya pemerintah melakukan introspeksi diri dan menetapkan langkah-langkah bijak, bukan malah membuat kebijakan yang beranjak dari “alternatif terakhir” yang menjadi pilihan. Sehingga usaha yang dilakukan pemerintah itu setidaknya dapat mengurangi rentetan panjang persoalan yang ada dan tidak teratasi di negeri zamrud khatulistiwa ini.

Jurnalis Bukanlah Pekerjaan yang Gampang

Menjadi seorang jurnalis jika dilihat secara sekilas merupakan profesi yang menyenangkan. Dapat mengunjungi banyak tempat, bertemu dengan orang-orang baru bahkan orang ternama serta dikenal oleh berbagai kalangan adalah sebagian dari suka bekerja seebagai seorang jurnalis. Namun bagaimana halnya jika yang terjadi justru sebaliknya. Ada ungkapan dalam dunia pers bahwa orang yang bekerja sebagai seorang wartawan/jurnalis sebelah kakinya bebas dan yang lainnya berada di penjara. Ungkapan ini menggambarkan bagaimana kerja jurnalis yang sebenarnya. Seorang jurnalis haruslah benar dalam menyampaikan suatu informasi yang hendaklah dilengkapi dengan data dan fakta yang akurat.

Adanya tuduhan pemerintah Timor Leste yang disampaikan secara gamblang oleh Presiden Ramos Horta atas dugaan adanya campur tangan asing dalam usaha pembunuhannya beberapa waktu silam dapat dijadikan sebagai bukti konkret. Tuduhan ini dialamatkan kepada jurnalis senior (Desi Anwar) yang kini bekerja di stasiun tv swasta (Metro TV). Hal ini dapat dijadikan sebagai bukti bahwa pekerjaan sebagai seorang jurnalis sangat beresiko dan bukan pekerjaan main-main. Pekerjaan “senang-senang” ini sebenarnya menuntut kesiapan fisik dan mental bagi siapa pun yang ingin terjun dan menekuninya. Seorang jurnalis dituntut untuk berani, sigap, bersikap kritis, rela berkorban dan pantang menyerah dalam memperoleh suatu berita. Bagaimana tidak karena yang mereka hadapi bukan hanya masyarakat biasa, tetapi juga para penguasa (pemerintah) yang notabenenya merupakan orang yang berkuasa dan dapat melakukan apa saja tanpa pandang bulu kepada “musuhnya”.

Maka apapun profesi yang akan kita tekuni nantinya diharapkan dapat dilakukan secara baik dan serius. Karena setiap pekerjaan itu pasti memiliki resiko tersendiri yang harus dihadapi.

Sinetron Indonesia Lebih “tele” dari Telenovela?

Banyaknya stasiun televisi swasta nasional yang menayangkan sinetron-sinetron produksi dalam negeri merupakan hal yang membanggakan. Kebanggaan itu ditambah dengan rating (peringkat) sinetron-sinetron yang selalu berada di urutan atas yang menandakan bahwa sinetron mengalahkan program-program unggulan lainnya dari stasiun televisi tersebut. Sebut saja dari Putri Terbuang, Bawang Merah Bawang Putih, Benci tapi Rindu, Intan, Kasih dan puluhan judul lainnya yang menghiasi televisi kesayangan kita. Namun yang menjadi pertanyaan di sini apakah sinetron-sinetron yang berada pada posisi puncak perolehan rating dalam hal jumlah penonton sudah memiliki kualitas atau mutu cerita yang juga bisa dibanggakan?

Jika kita bersikap objektif, jawabannya tentu sudah bisa ditebak “sama sekali belum”. Tema cerita yang disuguhkan masih berkisar seputar persoalan cinta yang membabi buta, kejamnya ibu tiri, kekerasan, perkosaan, pengkhianatan yang berujung pada dendam dan berbagai tema lainnya yang pada dasarnya tidak memiliki “isi”. Belum lagi dengan tokoh atau pemeran yang itu-itu saja, tidak beranjak dari satu nama atau artis-artis yang sedang naik daun. Membosankan memang, tapi apa daya masyarakat terutama ibu-ibu memang haus akan hiburan di antara waktu senggang mereka. Mau tidak mau ya…ditonton juga. Walaupun terkadang tak jarang juga disertai dengan ocehan yang bernada menggerutu.

Melihat wajah persinetronan Indonesia saat ini kita serasa diajak kembali pada tontonan yang disajikan oleh stasiun TV swasta nasional sekitar tahun 90-an, yaitu telenovela yang menjadi tontonan wajib ibu-ibu rumah tangga kala itu. Telenovela merupakan tontonan impor dari negara-negara Amerika Latin yang menyajikan kisah-kisah drama yang mengharu biru lengkap dengan konflik dan intrik yang membawa penonton ke dalam situasi emosional yang tak menentu, dengan menampilkan tokoh dan pemeran yang sedap dipandang hingga puluhan bahkan ratusan episode.

Telenovela dan sinetron Indonesia yang ada saat ini bagaikan pinang dibelah dua. Cerita yang panjang tak berkesudahan menjadi penanda utama dari kemiripan keduanya. Belum lagi banyaknya tokoh-tokoh baru yang bermunculan dalam tiap episodenya semakin mengidentikkan kedua istilah tersebut.

Keduanya memang bertumpu pada selera pemirsa atau penonton yang menyaksikan. Jalan cerita disesuaikan dengan keinginan mereka tidak peduli apakah itu ceritanya itu masih masuk akal dan pantas ditonton ataupun sudah bertele-tele yang penting pemirsa senang serta kantong rumah produksi mengalir lancar, so… everything is OK!

Melihat kenyataan ini bukanlah suatu hal yang mengherankan jika sinetron kita hanya menjadi barang dagangan layaknya jajanan gorengan, yang laku dijual tapi rasa enaknya hanya sampai di lidah. Sinetron belum dapat menampilkan dirinya sebagai salah satu alterantif pembelajaran dan hiburan yang berkualitas dalam memperbaiki bangsa ini. Sinetron justru menampilkan hal yang sebaliknya. Mereka justru menampilkan wajah-wajah kemuraman dan kebobrokan lebih parah dari bangsa ini dibandingakan dengan yang sebenarnya terjadi.

Jadi harapan kini hanya tertuju kepada para pemirsa atau penonton dari tayangan sinetron itu sendiri. Apakah mereka sanggup untuk menyaring dan mencerdasi tiap tontonan yang ada. Mana yang pantas ditonton, masuk akal dan tidak membodohi kaum ibu yang kita sadari juga butuh hiburan di tengah rutinitas yang mereka jalani?!

Padang, 2008

Tampilan Pelajar Minang : Dari Celana Pensil Hingga Jilbab Mbak Tutut…?!

Kerapihan dan keindahan berbusana atau dalam hal gaya berpakaian sudah semakin ditinggalkan oleh masyarakat Sumatera Barat yang identik dengan keminangkabauannya. Cara berpakaian masyarakat Minangkabau saat ini sudah centang-parenang dan compang-camping. Kiblat dalam berbusana atau gaya berpakaian sehari-hari seperti yang kita lihat, sepenuhnya menghadap ke arah Barat atau ke negara-negara yang berpaham liberal. Etika dan estetika dalam berpakaian sudah tidak diindahkan. Minangkabau yang dahulu identik dengan baju kurung dan selendang yang menutupi kepala hampir sudah tidak ada lagi. Sekarang, pakaian yang seharusnya di dalam menjadi di luar letaknya begitu pun sebaliknya. Bahkan untuk membedakan pakaian mana yang pantas dikenakan di rumah, pergi ke pasar, ke pantai, ke kenduri atau untuk acara santai (piknik) orang Minang sudah tidak tahu lagi. Parahnya penyakit berpakaian secara asal-asalan ini sudah mewabah hampir ke semua lapisan masyarakat dari berbagai usia dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Dari usia anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua, semuanya berpakaian semaunya dan sekehendak hati mereka saja, tidak peduli apakah mereka berasal dari kalangan berada (kaya) atau miskin, berpendidikan atau tidak.

Cobalah kita tengok di Jln. Permindo yang sepertinya menjadi tempat mangkal (gaul)nya muda-mudi Kota Padang. Dapat kita lihat secara kasat mata dari ujung rambut hingga ujung kaki, pakaian yang mereka kenakan 100 % bukan lagi penampilan orang Minang. Belum lagi pakaian para pelajar menengah (SLTP/MTs, SMA/MAN) yang lalu lalang di kawasan tersebut. Mereka memang mematuhi peraturan yang telah ditetapkan sekolah atau departemen pendidikan agar berpakaian seragam putih-biru atau putih abu-abu pada hari-hari atau waktu-waktu sekolah. Namun yang menjadi bahan perhatian di sini adalah cara mereka mengenakannya masih tidak lepas dari tren modis atau gaul yang sedang marak saat ini.

Bagi para pelajar pria rambut ala Mohawk yang dipopulerkan oleh pemain sepak bola Swedia yang bernama Ljungberg, kemeja junkies atau pendek, celana pensil (kecil di bawah) dan sepatu warna-warni menjadi hal wajib untuk dipraktikkan. Belum lagi para pelajar perempuan yang tampil dengan jilbab seadanya, sedikit poni di depan seperti halnya jilbab Mbak Tutut, putri mantan Presiden Soeharto, kemeja yang ukurannya pendek dan pas badan serta rok mengembang telah menjadi ciri khas dan sepertinya wajib diikuti, walaupun itu dikenakan pada saat ke sekolah (menuntut ilmu).

Hal ini sungguh memprihatinkan mengingat mereka adalah orang-orang yang seharusnya menjadi contoh dan teladan di tengah-tengah masyarakat nantinya. Dengan cara berpakaian yang demikian tentunya tidak mengherankan jika generasi muda kita dipandang sebelah mata. Tidak berisi, malas, tidak kreatif dan entah cap apalagi..?! Karena bagaimanapun juga yang menjadi perhatian utama bagi orang lain adalah penampilan lahiriah seseorang, tidak peduli sehebat apapun ilmu yang dimilikinya.

Jika ingin menyalahkan mereka begitu saja, tentunya tidak akan mungkin. Derasnya arus globalisasi yang tidak diantisipasi dengan kematangan mental serta pemahaman akan nilai-nilai ketimuran dan agama menjadikan mereka dengan mudah terbawa arus. Apalagi kontrol terhadap itu semua juga kurang, maka lengkap sudah “penyakit’ yang diderita.

Adanya anjuran dari pemerintah daerah dan kota untuk berpakaian tertutup dan sopan bagi para pelajar (Islam) merupakan langkah pencegahan yang bagus dan patut dihargai. Namun yang disayangkan di sini adalah pemerintah luput untuk melakukan pengawasan dan evaluasi tentang anjuran tersebut. Maka yang terjadi celana pensil dan jilbab Mbak Tutut wajib untuk ditiru dan menjadi tren di kalangan pelajar. Peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut jika dilaksanakan secara tepat dan sesuai sebenarnya akan sangat membantu dalam membenahi kembali cara berpakaian masyarakat Sumatera Barat khususnya para pelajar. Untuk itu pemerintah pastinya butuh bantuan dan dukungan semua pihak agar peraturan itu tidak hanya sebagai palapeh hutang!

Bantuan dan kerjasama berbagai pihak menjadi hal utama yang harus diusahakan. Seperti cara berpakaian seragam para pelajar dewasa ini, bantuan guru dan keluarga sangat diharapkan untuk mengawasinya. Sekolah juga ikut memantau, menetapkan standar bahkan menghukum (dengan hukuman yang mendidik) jika mereka masih tidak mengindahkan peraturan. Jadi tidak cukup hanya dengan “mematuhi” maka persoalan bisa selesai, tapi juga harus ada tindak lanjut yang jelas. Begitu pun hendaknya yang dilakukan oleh pihak keluarga dari para pelajar tersebut.

Istilah don’t judge the book by it’s cover sepertinya harus kita tinggalkan untuk sementara waktu. Karena pada realitasnya penampilan luar tetap menjadi penentu dan penilaian serta perhatian utama dalam mengetahui karakter dan kepribadian seseorang di mana pun ia berada.

Padang, 2008

Atas ↑

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Rara89's Weblog

Just another WordPress.com weblog