Menjadi seorang jurnalis jika dilihat secara sekilas merupakan profesi yang menyenangkan. Dapat mengunjungi banyak tempat, bertemu dengan orang-orang baru bahkan orang ternama serta dikenal oleh berbagai kalangan adalah sebagian dari suka bekerja seebagai seorang jurnalis. Namun bagaimana halnya jika yang terjadi justru sebaliknya. Ada ungkapan dalam dunia pers bahwa orang yang bekerja sebagai seorang wartawan/jurnalis sebelah kakinya bebas dan yang lainnya berada di penjara. Ungkapan ini menggambarkan bagaimana kerja jurnalis yang sebenarnya. Seorang jurnalis haruslah benar dalam menyampaikan suatu informasi yang hendaklah dilengkapi dengan data dan fakta yang akurat.

Adanya tuduhan pemerintah Timor Leste yang disampaikan secara gamblang oleh Presiden Ramos Horta atas dugaan adanya campur tangan asing dalam usaha pembunuhannya beberapa waktu silam dapat dijadikan sebagai bukti konkret. Tuduhan ini dialamatkan kepada jurnalis senior (Desi Anwar) yang kini bekerja di stasiun tv swasta (Metro TV). Hal ini dapat dijadikan sebagai bukti bahwa pekerjaan sebagai seorang jurnalis sangat beresiko dan bukan pekerjaan main-main. Pekerjaan “senang-senang” ini sebenarnya menuntut kesiapan fisik dan mental bagi siapa pun yang ingin terjun dan menekuninya. Seorang jurnalis dituntut untuk berani, sigap, bersikap kritis, rela berkorban dan pantang menyerah dalam memperoleh suatu berita. Bagaimana tidak karena yang mereka hadapi bukan hanya masyarakat biasa, tetapi juga para penguasa (pemerintah) yang notabenenya merupakan orang yang berkuasa dan dapat melakukan apa saja tanpa pandang bulu kepada “musuhnya”.

Maka apapun profesi yang akan kita tekuni nantinya diharapkan dapat dilakukan secara baik dan serius. Karena setiap pekerjaan itu pasti memiliki resiko tersendiri yang harus dihadapi.

Iklan