Banyaknya stasiun televisi swasta nasional yang menayangkan sinetron-sinetron produksi dalam negeri merupakan hal yang membanggakan. Kebanggaan itu ditambah dengan rating (peringkat) sinetron-sinetron yang selalu berada di urutan atas yang menandakan bahwa sinetron mengalahkan program-program unggulan lainnya dari stasiun televisi tersebut. Sebut saja dari Putri Terbuang, Bawang Merah Bawang Putih, Benci tapi Rindu, Intan, Kasih dan puluhan judul lainnya yang menghiasi televisi kesayangan kita. Namun yang menjadi pertanyaan di sini apakah sinetron-sinetron yang berada pada posisi puncak perolehan rating dalam hal jumlah penonton sudah memiliki kualitas atau mutu cerita yang juga bisa dibanggakan?

Jika kita bersikap objektif, jawabannya tentu sudah bisa ditebak “sama sekali belum”. Tema cerita yang disuguhkan masih berkisar seputar persoalan cinta yang membabi buta, kejamnya ibu tiri, kekerasan, perkosaan, pengkhianatan yang berujung pada dendam dan berbagai tema lainnya yang pada dasarnya tidak memiliki “isi”. Belum lagi dengan tokoh atau pemeran yang itu-itu saja, tidak beranjak dari satu nama atau artis-artis yang sedang naik daun. Membosankan memang, tapi apa daya masyarakat terutama ibu-ibu memang haus akan hiburan di antara waktu senggang mereka. Mau tidak mau ya…ditonton juga. Walaupun terkadang tak jarang juga disertai dengan ocehan yang bernada menggerutu.

Melihat wajah persinetronan Indonesia saat ini kita serasa diajak kembali pada tontonan yang disajikan oleh stasiun TV swasta nasional sekitar tahun 90-an, yaitu telenovela yang menjadi tontonan wajib ibu-ibu rumah tangga kala itu. Telenovela merupakan tontonan impor dari negara-negara Amerika Latin yang menyajikan kisah-kisah drama yang mengharu biru lengkap dengan konflik dan intrik yang membawa penonton ke dalam situasi emosional yang tak menentu, dengan menampilkan tokoh dan pemeran yang sedap dipandang hingga puluhan bahkan ratusan episode.

Telenovela dan sinetron Indonesia yang ada saat ini bagaikan pinang dibelah dua. Cerita yang panjang tak berkesudahan menjadi penanda utama dari kemiripan keduanya. Belum lagi banyaknya tokoh-tokoh baru yang bermunculan dalam tiap episodenya semakin mengidentikkan kedua istilah tersebut.

Keduanya memang bertumpu pada selera pemirsa atau penonton yang menyaksikan. Jalan cerita disesuaikan dengan keinginan mereka tidak peduli apakah itu ceritanya itu masih masuk akal dan pantas ditonton ataupun sudah bertele-tele yang penting pemirsa senang serta kantong rumah produksi mengalir lancar, so… everything is OK!

Melihat kenyataan ini bukanlah suatu hal yang mengherankan jika sinetron kita hanya menjadi barang dagangan layaknya jajanan gorengan, yang laku dijual tapi rasa enaknya hanya sampai di lidah. Sinetron belum dapat menampilkan dirinya sebagai salah satu alterantif pembelajaran dan hiburan yang berkualitas dalam memperbaiki bangsa ini. Sinetron justru menampilkan hal yang sebaliknya. Mereka justru menampilkan wajah-wajah kemuraman dan kebobrokan lebih parah dari bangsa ini dibandingakan dengan yang sebenarnya terjadi.

Jadi harapan kini hanya tertuju kepada para pemirsa atau penonton dari tayangan sinetron itu sendiri. Apakah mereka sanggup untuk menyaring dan mencerdasi tiap tontonan yang ada. Mana yang pantas ditonton, masuk akal dan tidak membodohi kaum ibu yang kita sadari juga butuh hiburan di tengah rutinitas yang mereka jalani?!

Padang, 2008

Iklan