Kerapihan dan keindahan berbusana atau dalam hal gaya berpakaian sudah semakin ditinggalkan oleh masyarakat Sumatera Barat yang identik dengan keminangkabauannya. Cara berpakaian masyarakat Minangkabau saat ini sudah centang-parenang dan compang-camping. Kiblat dalam berbusana atau gaya berpakaian sehari-hari seperti yang kita lihat, sepenuhnya menghadap ke arah Barat atau ke negara-negara yang berpaham liberal. Etika dan estetika dalam berpakaian sudah tidak diindahkan. Minangkabau yang dahulu identik dengan baju kurung dan selendang yang menutupi kepala hampir sudah tidak ada lagi. Sekarang, pakaian yang seharusnya di dalam menjadi di luar letaknya begitu pun sebaliknya. Bahkan untuk membedakan pakaian mana yang pantas dikenakan di rumah, pergi ke pasar, ke pantai, ke kenduri atau untuk acara santai (piknik) orang Minang sudah tidak tahu lagi. Parahnya penyakit berpakaian secara asal-asalan ini sudah mewabah hampir ke semua lapisan masyarakat dari berbagai usia dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Dari usia anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua, semuanya berpakaian semaunya dan sekehendak hati mereka saja, tidak peduli apakah mereka berasal dari kalangan berada (kaya) atau miskin, berpendidikan atau tidak.

Cobalah kita tengok di Jln. Permindo yang sepertinya menjadi tempat mangkal (gaul)nya muda-mudi Kota Padang. Dapat kita lihat secara kasat mata dari ujung rambut hingga ujung kaki, pakaian yang mereka kenakan 100 % bukan lagi penampilan orang Minang. Belum lagi pakaian para pelajar menengah (SLTP/MTs, SMA/MAN) yang lalu lalang di kawasan tersebut. Mereka memang mematuhi peraturan yang telah ditetapkan sekolah atau departemen pendidikan agar berpakaian seragam putih-biru atau putih abu-abu pada hari-hari atau waktu-waktu sekolah. Namun yang menjadi bahan perhatian di sini adalah cara mereka mengenakannya masih tidak lepas dari tren modis atau gaul yang sedang marak saat ini.

Bagi para pelajar pria rambut ala Mohawk yang dipopulerkan oleh pemain sepak bola Swedia yang bernama Ljungberg, kemeja junkies atau pendek, celana pensil (kecil di bawah) dan sepatu warna-warni menjadi hal wajib untuk dipraktikkan. Belum lagi para pelajar perempuan yang tampil dengan jilbab seadanya, sedikit poni di depan seperti halnya jilbab Mbak Tutut, putri mantan Presiden Soeharto, kemeja yang ukurannya pendek dan pas badan serta rok mengembang telah menjadi ciri khas dan sepertinya wajib diikuti, walaupun itu dikenakan pada saat ke sekolah (menuntut ilmu).

Hal ini sungguh memprihatinkan mengingat mereka adalah orang-orang yang seharusnya menjadi contoh dan teladan di tengah-tengah masyarakat nantinya. Dengan cara berpakaian yang demikian tentunya tidak mengherankan jika generasi muda kita dipandang sebelah mata. Tidak berisi, malas, tidak kreatif dan entah cap apalagi..?! Karena bagaimanapun juga yang menjadi perhatian utama bagi orang lain adalah penampilan lahiriah seseorang, tidak peduli sehebat apapun ilmu yang dimilikinya.

Jika ingin menyalahkan mereka begitu saja, tentunya tidak akan mungkin. Derasnya arus globalisasi yang tidak diantisipasi dengan kematangan mental serta pemahaman akan nilai-nilai ketimuran dan agama menjadikan mereka dengan mudah terbawa arus. Apalagi kontrol terhadap itu semua juga kurang, maka lengkap sudah “penyakit’ yang diderita.

Adanya anjuran dari pemerintah daerah dan kota untuk berpakaian tertutup dan sopan bagi para pelajar (Islam) merupakan langkah pencegahan yang bagus dan patut dihargai. Namun yang disayangkan di sini adalah pemerintah luput untuk melakukan pengawasan dan evaluasi tentang anjuran tersebut. Maka yang terjadi celana pensil dan jilbab Mbak Tutut wajib untuk ditiru dan menjadi tren di kalangan pelajar. Peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut jika dilaksanakan secara tepat dan sesuai sebenarnya akan sangat membantu dalam membenahi kembali cara berpakaian masyarakat Sumatera Barat khususnya para pelajar. Untuk itu pemerintah pastinya butuh bantuan dan dukungan semua pihak agar peraturan itu tidak hanya sebagai palapeh hutang!

Bantuan dan kerjasama berbagai pihak menjadi hal utama yang harus diusahakan. Seperti cara berpakaian seragam para pelajar dewasa ini, bantuan guru dan keluarga sangat diharapkan untuk mengawasinya. Sekolah juga ikut memantau, menetapkan standar bahkan menghukum (dengan hukuman yang mendidik) jika mereka masih tidak mengindahkan peraturan. Jadi tidak cukup hanya dengan “mematuhi” maka persoalan bisa selesai, tapi juga harus ada tindak lanjut yang jelas. Begitu pun hendaknya yang dilakukan oleh pihak keluarga dari para pelajar tersebut.

Istilah don’t judge the book by it’s cover sepertinya harus kita tinggalkan untuk sementara waktu. Karena pada realitasnya penampilan luar tetap menjadi penentu dan penilaian serta perhatian utama dalam mengetahui karakter dan kepribadian seseorang di mana pun ia berada.

Padang, 2008

Iklan