Menjadi seorang mahasiswa ternyata tidak dapat lepas dari yang namanya TUGAS, setidaknya itulah yang aku rasakan. Pada awalnya kunjunganku (Kamis, 5/6) dan teman-teman lokal kemarin ke Museum Adityawarman dilatarbelakangi untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Namun satu hal yang pasti “tidak semua tugas yang dikerjakan dengan terpaksa akan berakhir dengan buruk”, setidaknya itulah kesimpulan yang aku dapat setelah melakukan kunjungan tersebut.
Suasana yang sejuk dan asri menyambut kami dengan hangat setelah selama lebih kurang 20 menit menempuh perjalanan ke sana. Kondisi yang tadinya tegang dan capek berangsur hilang setelah Bangunan Rumah GAdang yang menjadi ciri museum berdiri gagah di depan kami. Antusiasme mulai merasuk ke jiwa kami semua. Alhasil dengan SEMANGAT 45 kami pun menjelajahi satu per satu ruangan yang ada di museum tersebut.
Banyaknya ruang dan sempitnya waktu yang tersedia (museumnya mau tutup) menyebabkan kami tidak dapat berlama-lama untuk melihat berbagai benda yang ada. Namun demikian kami cukup puas karena setidaknya kami sudah melihat secara dekat benda-benda peninggalan budaya Minangkabau di masa lalu yang sebagian ada yang baru kami lihat. Beberapa ruangan yang sempat kami jelajahi diantaranya, ruang pamer pakaian daerah, rumah adat, alat kesenian tradisional, senjata tradisional, dan lukisan.
Karena rasa penasaran kami yang masih tersisa dari kunjungan ke museum tersebut, maka kami pun berencana buat melanjutkan penjelajahan ini di lain waktu.
Oh…ya sebelum pulang kami jugasempat melihat rombongan Wapres Jusuf Kalla dan Pengurus Partai GOLKAR SUMBAR yang lewat di depan museum. Kemudian dengan berbasah-basah ria (lagi hujan) kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Kalo tugasnya kayak gini sih, berapa pun banyaknya kita akan ikhlas kok. Belajar yang FUN memang harusnya di luar ruangan yaaa…?!

HASIL KUNJUNGAN :

Kunjungan ke Museum Adityawarman yang saya dan teman-teman lakukan pada Kamis (5/6) lalu membawa manfaat besar bagi kami. Bagaimana tidak, benda-benda tradisional (kuno) yang biasanya hanya dapat kami lihat melalui buku atau televisi saat itu dapat kami lihat langsung. Keberangkatan yang diawali dengan hujan pun tak mematahkan semangat kami untuk menjelajahi museum dengan latar arsitektur rumah gadang tersebut.

Meskipun tidak semua ruang dapat kami masuki, dikarenakan keterbatasan waktu (museum hampir tutup) tetap tak menyurutkan langkah kami. Maka dari hasil penjelajahan dan pengamatan kemarin, kami sempat masuk dan melihat ruang pakaian tradisional (busana pengantin), model kamar atau bilik-bilik rumah gadang di masa lampau, makanan dan perlengkapan perhelatan (upacara adat) Minangkabau seperti, turun mandi, baralek, aqiqah, alat kesenian tradisional yang bentuknya unik-unik, ruang pamer foto-foto, lukisan dan gambar kehidupan masa lalu dan terakhir ruang pamer alat atau senjata-senjata tradisional.

Khusus untuk hasil penjelajahan dan pengamatan alat-alat kesenian tradisional Minangkabau kami menemukan dan mendapatkan sejumlah keterangan. Keterangan tersebut bahwasanya alat musik tradisional Minangkabau memiliki ragam dan kekhasan tersendiri. Dapat kita lihat pada masing-masing jenis alat musik tersebut, yaitu :

  1. Alat Musik Tiup

Alat musik tiup biasanya dibunyikan secara tunggal atau dalam bentuk instrumentalia, namun juga untuk mengiringi dendang. Irama dan dendang pada umumnya bersifat sentimental atau bernada sedih. Namun terkadang juga diselingi dengan kata-kata lucu dan menyindir yang membuat pendengar tertawa geli. Di antara alat-alat tiup tersebut antara lain :

1) Pupuik

2) Saluang panjang

3) Pupuik tanduk

4) Bansi

5) Sodam

6) Pupuik sarunai

7) Saluang darek

8) Sarunai

9) Pupuik silangkiang

10) Saluang sirompak

11) Pupuik baranak

12) Pupuik sarunai agam

13) Pupuik sarunai singgalang

  1. Alat Musik Pukul

Alat musik pukul biasanya digunakan untuk mengiringi atau menjadi pelengkap alat-alat musik lain. Seperti saluang atau rebab yang mendatangkan nada-nada khas Minangkabau. Alat-alat musik tersebut antara lain :

1) Tambur

2) Gandang

3) Gandang katindiak

4) Rebana

5) Rapai

6) Gandang puluik-puluik

7) Dulang

8) Talempong batuang

9) Talempong unggan

10) Talempong kayu

11) Tasa

12) Rebana

  1. Alat Musik Petik dan Gesek

Alat musik petik dan gesek tradisional Minangkabau dipengaruhi budaya asing seperti rebab terbuat dari tempurung kelapa dengan tangkai bambu. Rebab digantikan biola yang lebih modern atau gitar atau kecapi yang dulunya tidak dikenal di Minangkabau.

Alat musik tradisional yang mengakar kuat di tengah masyarakat adalah genggong yang dipetik melalui rongga mulut sebagai media getar. Dari pengaruh budaya Jepang, kemudian dikenal kecapi yang digunakan untuk mengiringi permainan basijobang di Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota.

Rebab terdiri dari 3 jenis, yaitu rebab darek, rebab pesisir, rebab pariaman. Jenis alat musik petik dan gesek tersebut antara lain :

1) Genggong (petik)

2) Kecapi Japang (petik)

3) Rebab darek (gesek)

4) Rebab pesisir (gesek)

5) Rebab pariaman (gesek)

Dari keterangan-keterangan tersebut dapatlah kita simpulkan kegiatan ke museum dengan tujuan untuk mengetahui dan mengenal kekayaan warisan budaya merupakan sesuatu yang penting dan hendaknya selalu dilakukan. Dalam rangka untuk mewariskan dan melestarikan kekayaan tersebut di masa yang akan datang. Jadi bukan hanya budaya Minangkabau saja yang dikenal, tetapi seluruh kebudayaan bangsa Indonesia hendaknya.

Iklan