Adanya kebijakan pemadaman bergilir yang dipilih oleh berbagai kota di Indonesia ternyata juga merembes ke kota Padang (Sumatera Barat). Kota PADANG yang sebelumnya menghindari pemadaman bergilir pun tak tahan untuk “ikut tren”. Kota Padang yang sebelumnya terang benderang sepanjang waktu sekarang hanya dapat ditemui pada waktu-waktu tertentu.
Kebijakan pemadaman bergilir yang terpaksa dilakukan oleh PLN ini berbuntut panjang dan menimbulkan persoalan, termasuk diriku yang tak bisa jauh-jauh dari “dunia yang terang.” Aku pun dengan susah payah disertai dengan keikhglasan mencoba untuk memakluminya. “BUMI SEDANG KRISIS!” Namun sepandai-pandai diriku menahan perasaan, aku tetap tercipta sebagai manusia biasa. Alhasil kekesalan dan kemarahan yang coba diredam pun akhirnya membuahkan sesuatu yang negatif jua, DONGKOL pastinya.
Bagaimana tidak, lebih kurang sudah 1 bulan pemadaman bergilir ini berlangsung. Kekacauan demi kekacauan silih berganti mewarnai kebijakan ini. Kasus kebakaran pun mulai menghiasi surat kabar daerah. Terakhir kasus kebakaran di Jl. Paus Ulak Karang beberapa hari yang lalu. Tentunya jumlah kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit! Kekacauan ini timbul lebih kepada jam atau waktu pemadamannya yang tak tentu.
Terkadang pagi, siang, sore, pagi menjeLANG siang, tengah malam, magrib, dsb. Jadinya kapan pun waktu kita beraktivitas jadi nggak nyaman deh. Setidaknya itulah yang aku rasakan. Tugas-tugas yang mau dikerjakan jadi terbengakalai, ide yang numpuk di kepala buat bikin sesuatu (tulisan) jadi terbang dan tak tentu rimbanya, dsb.
Jadi MATI LAMPU, MATILAH AKU…!!!!

Iklan