Setelah lebih kurang 45 hari berada di lokasi KKN, akhirnya tanggal 25September kemarin aku kembali ke rumah. Pfuuhhh…perasaan lega, bahagia sekaligus sedih bercampur jadi satu. Lega karena ku bisa kembali ke “kehidupan nyata” alias nggak ada aturan yang mengikat aku. Selama KKN otomatis mau tidak mau kita harus “be nice” pada semua orang yang terdiri dari berbagai tingkah dan polah. Bahagia karena aku bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Sedih karena harus berpisah dari orang-orang yang baru aku kenal, yang notabenenya menyenangkan semua. Terutama adik-adik pesantren yang masih imut-imut.

Berada di tempat baru ternyata tidak sesulit yang selama ini aku bayangkan. Meskipun harus aku akui lokasi KKN bukan daerah yang terlalu “kampung” alias masih di pinggir kota. Namun bukan berarti tidak ada tantangan. Tantangan pertama datang dari Bapak Lurah yang melimpahkan tanggung jawab kepada kami untuk menghandle tiga mesjid sekaligus yang jaraknya pun tidak dekat. Alhasil selama pelaksanaan KKN kami bolak-balik dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Capek…so pasti! Belum lagi tantangan mengahadapi penduduk di sekitar mesjid yang memiliki karakteristik yang berbeda. Alhasil aku dan teman-teman satu kelompok harus pandai-pandai.

Tantangan-tantangan di atas ternyata belum seberapa jika dibandingkan dengan penyesuaian diri yang harus aku lakukan untuk mengahdapi teman-teman satu lokasi, yang semuanya terdiri dari 7 orang itu. Menyatukan isi kepala sungguh merupakan satu hal yang teramat sulit. Belum lagi jika ditambah dengan tingkat sensitifitas masing-masing pribadi yang berbeda. Banyak SABAR menjadi salah satu kunci yang harus aku terapkan. Kalau bisa-bisa SAKIT (fisik dan mental).