Suatu hal yang menggembirakan ketika perempuan sebagai sosok yang selama ini mengidamkan kesetaraan mampu untuk berbuat dan berhasil dalam banyak bidang. Bukan sesuatu yang aneh saat ini di mana perempuan mampu menempatkan diri di posisi yang didominasi oleh kaum laki-laki. Banyak bidang mampu mereka kerjakan dan kuasai. Baik itu dalam rupa fisik maupun non-fisik, tentunya tanpa melupakan dan meninggalkan kodrat mereka sebagai kaum perempuan. Namun lain halnya dengan pencitraan yang tersaji dalam dunia simbolis yang dihadirkan oleh media elektronik seperti televisi tentang perempuan.

Menyimak berbagai tayangan (program) yang disuguhkan dunia pertelevisian tanah air kenyataan yang berbeda tak henti-hentinya ditampilkan. Tidak hanya sesuatu yang berbeda, namun cenderung aneh, merusak dan secara sistematis merusak semua pencapaian (positif) kaum perempuan selama ini. Selain komersialisasi dan eksploitasi melalui dunia periklanan yang dianggap “tidak masalah” dan wajar, dunia sinetron semakin memperparah hal tersebut. Tayangan sinetron di berbagai stasiun televisi kebanyakan menghadirkan perempuan sebagai tokoh utama. Sayangnya hal ini belum diikuti dengan pemberian peran (cerita) maupun keteladanan-keteladanan yang pantas dibanggakan dan layak untuk ditiru.

Wajah-wajah perempuan yang ditampilkan justru berbanding terbalik dengan apa yang telah mereka raih dalam “kehidupan nyata”. Kehadiran perempuan sebagai tokoh utama tidak lebih hanya sebagai penghias atau penglaris sinetron. Meskipun perempuan dijadikan sebagai tokoh utama, peran yang dimainkan juga tidak jauh-jauh dari streotip perempuan sebagai makhluk lemah, bodoh, pesimistis dan tidak bijak. Seperti yang tergambar dan ada dalam banyak judul sinetron tanah air. Kehidupan perempuan yang ada dalam sinetron hanya berkisar pada kehidupan dan pekerjaan sebagai, istri yang amat sangat patuh pada suami, pembantu, menantu yang pasrah, tidak sekolah, teraniaya, anak haram serta kaum miskin yang pantas untuk dikasihani. Apakah perempuan-perempuan demikian yang ceritanya layak jual ataukah dalam “kehidupan nyata” mampu menginspirasi perempuan lainnya?

Tidak masuk akal jika jawaban dari pertanyaan di atas adalah “ya”. Dewasa ini perempuan tangguh bukan lagi perempuan yang “tahan banting” tidak mati jika dipukuli, sudah biasa keluar masuk rumah sakit, rela dan pasrah ketika dicaci dan disakiti oleh orang lain secara terus menerus. Namun justru sebaliknya. Mereka adalah perempuan-perempuan dengan keteguhan diri, sifat dan sikap konsekuen, berani, optimistis dan penuh inovasi dalam menjalani hidup. Maka suatu hal yang memprihatinkan mendapati hal demikian secara terus menerus ditampilkan oleh dunia sinetron tanah air. Apalagi sinetron yang juga sebagai program unggulan stasiun televisi disaksikan dan digemari oleh kaum perempuan dari berbagai latar belakang dan usia.

Belum lagi ketika para produser serta kru sinetron menempatkan lawan sesama perempuan. Perempuan selalu ditempatkan sebagai pahlawan dan penjahat, kawan dan lawan, panutan dan cemoohan sekaligus. Ketika tokoh utama (perempuan) dalam cerita adalah golongan teraniaya, maka “penganaiayanya” juga adalah perempuan. Penempatan perempuan sebagai protagonis dan antogonis benar-benar ampuh untuk memperdaya dan menyihir perempuan untuk secara tidak langsung juga untuk membenci dirinya sendiri. Kenyataan lain yang membuat miris dan membingungkan sebagian besar dari penghasil atau pembuat jalan cerita adalah juga kaum perempuan.

Jika harus jujur memang persentase perempuan yang mampu berkiprah dan menunjukkan citra dan jati diri yang membanggakan seperti sukes, bahagia, kaya, taat beragama, optimis dan sebagainya belum secara keseluruhan dimiliki oleh kaum perempuan di negeri ini. Namun bukanlah suatu dosa jika gambaran yang diberikan tidak jauh berbeda (tidak lebih buruk) dari dunia nyata. Kalaupun kenyataan yang coba dihadirkan memang tidak terlalu menyenangkan, maka janganlah terlalu didramatisir, menjadi tidak masuk akal dan cenderung membodohkan. Perayaan (selebrasi) atas pencapaian perempuan dalam bidangnya masing-masing seharusnya tidak diikuti dengan gambaran perempuan layaknya ketika masih dijajah. Propaganda, olok-olok, pemanfaataan, peniadaan yang mengecewakan atau apapun namanya ini seharusnya tidak dibiarkan terus terjadi. Dominasi perempuan yang semakin kentara, jelas membuktikan segala sesuatunya memang sudah tidak sama lagi. Dunia dan perempuan akan terus bergerak!

Iklan