Sebuah Persembahan 10 Tahun pertama (1999-2009)

zelfeni Kampung halaman dengan segala rupa persoalan yang membelenggunya memang akan menyajikan banyak kegundahan, kegelisahan, kegamangan serta harapan-harapan yang patut untuk diceritakan, apabila mungkin juga menghadirkan sebuah solusi. Begitu pula halnya dengan ranah Minang. Ranah yang sejak dahulu di antara gelimang kekayaan dan pesona alam yang dimilikinya secara diam-diam telah banyak melahirkan “pencerita-pencerita” ulung. Tentunya tak perlu lagi disebutkan siapa saja mereka, juga mengalami hal serupa. Perubahan zaman yang sejauh ini belum mampu ditaklukkan anak nagari justru semakin menggerus nilai-nilai adat yang dahulunya dipegang teguh.

Kekhawatiran akan memudar dan pupusnya nilai-nilai adat dan persoalan lain yang melingkupinya kembali menjadi perhatian dan bahasan dalam karya penulis negeri ini. Ragam perubahan yang membuahkan persoalan-persoalan bagi anak nagari kembali menjadi tema sentral dalam kumpulan cerpen Pengantin Subuh yang ditulis oleh Zelfeni Wimra. Pengantin Subuh merupakan kumpulan karya (cerpen) pertamanya yang sekaligus menandai 10 tahun pertama (1999-2009) kegemilangannya dalam dunia kepenulisan. Bukan hanya pada tingkat lokal tetapi juga nasional. Kisah-kisah yang tersaji di dalamnya bukan hanya patut untuk dibaca, tetapi juga sudah selayaknya menjadi sesuatu yang harus disimak, direkam hingga dapat mengurai kembali benang kusut yang melanda tanah leluhur para pahlawan kemerdekaan bangsa ini.

Beberapa judul cerpen di dalamnya seperti, Rumah Kayu Bersendi Batu, Perempuan Bau Asap, Induak Tubo, Menjelang Subuh serta Yang Terbungkuk-bungkuk di Halaman mewakili keprihatinan penulis yang lahir pada tanggal 26 Oktober 1979 akan kampung halamannya (Minangkabau) yang semakin lengang. Tanah rantau kini bukan lagi sekedar sebuah penghidupan. Tempat mencari hidup, tempat mencari uang. Namun sudah berubah menjadi impian, kehidupan baru anak nagari dan nafsu duniawi yang harus dipenuhi. Seperti ketika nafsu untuk menjadi TKW yang telah terpatri di dalam dada Daro mampu membiusnya untuk berpisah dari keluarga, tidak menggubris mamaknya (Mak Sutan), meninggalkan kampung halaman dan secara diam-diam berjingkat di antara sunyi dalam “Menjelang Subuh”. Kesunyian yang mendera perempuan yang terbungkuk-bungkuk di halaman melihat rangkiang dan rumah gadang yang telah ditinggal pergi ketiga putrinya ke tanah rantau. Begitu pula dengan beberapa judul di atas. Pepatah karatau madang di hulu, babuah baguno balun – marantau bujang dahulu di rumah baguno balun lambat laun serupa boomerang yang melayang ke tanah tempat ia semula dilempar. Dilema dan konflik batin akan senantiasa bermunculan dari sebuah isyarat adat (Minangkabau) ini.

Bukan hanya kegelisahan akan nasib kampung halaman ataupun keselamatan adat (Minangkabau) yang dibingkai dalam kumpulan cerpen yang tersaji sebanyak 22 judul ini saja yang menarik. Namun juga penyesalan, harapan, ironi serta pencarian akan Tuhan (agama) yang menyelubungi kisah lainnya. Serupa yang terurai dalam judul, Madrasah Lumut, Bunga dari Peking, Pengantin Subuh, Jalan Mati, Madah Anak Laut, dll. Penulis dengan kelihaiannya mampu untuk merunut kesejatian manusia akan perasaan ingin tahu akan segala sesuatu serta mencari jawabannya. Maka tak salah kiranya jika buku ini pantas untuk menjadi koleksi berikutnya. Selain cerita dan kisah, apalagi yang dapat dikenang seseorang (anak nagari) selain keriangan, keluguan dan keakraban dengan tanah leluhur di masa sebelum rantau yang kelak (juga) kan menyergap sekujur tubuh, menghantarkan kepergian?! Padang, 21 April 2009

NB :
Judul : Pengantin Subuh
Penulis : Zelfeni Wimra
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Jakarta, 2009
Tebal hal : 200 halaman
Resensiator : Ade Faulina

Iklan