Gempa bumi, sebuah kata yang dalam beberapa tahun terakhir semakin akrab dalam hidupku. Kata ini bukan lagi hanya sekedar istilah dalam ilmu pengetahuan alam sebagaimana yang aku pelajari selama ini. Terlebih ketika statusku masih “siswa” (SD/ SMP) gempa dan tsunami selalu beriringan dalam satu pertanyaan pada saat mengikuti ujian. Pada waktu itu gempa dan tsunami yang aku tahu hanya terjadi di Jepang, tidak di tempatku. Beranjak dewasa pemahaman ataupun pengetahuanku selama ini dihadapkan pada kenyataan bahwa negaraku justru juga memiliki potensi yang jauh lebih besar untuk terjadinya bencana alam gempa bumi dan tsunami. Maka “aku keliru”.

P9280196
Gedung LIA yang hancur

Gempa bumi berkekuatan 7,9 SR yang mengguncang negeriku menjadi semacam klimaks akan berbagai ramalan para ahli yang selama ini diperdebatkan. Guncangan gempa yang terjadi pada 30 September lalu jauh lebih dahsyat dari gempa pada waktu-waktu sebelumnya. Tentang korban jiwa, mental, dan harta benda serta yang lainnya tak perlu lagi aku sebutkan. Liputan media massa local, nasional dan internasional dapat menjadi gambaran betapa dahsyat gempa yang berpusat di kota Pariaman, Sumatera Barat tersebut. Bagi diriku pribadi gempa ini akan menjadi sebuah ingatan yang akan terkenang seumur hidup. Sebagaimana liputan media massa selama ini kepingan-kepingan peristiwa pra dan pasca gempa pun aku torehkan sebagai sebuah catatan miris serta peringatan perlunya bersahabat dengan alam.

1. Getaran Hebat dan Mati Lampu
Aku dan Ibu baru saja tiba di rumah usai menghadiri rapat di organisasi tempat ibuku bergabung sore itu. Sesampainya di rumah, tidak ada kegiatan istimewa yang kami lakukan sesudah itu. Aku dan ayah menonton tayangan TV, Ibu merapikan file-file organisasi yang berserakan di kamarnya. Singkatnya semua berjalan normal. Namun kira-kira 30 menit kemudian kami bertiga merasakan getaran yang tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa itu gempa. Pada awalnya kami mengira getaran tersebut hanya gempa “biasa” dengan skala yang tidak terlalu besar. Meskipun demikian seperti yang telah diajarkan selama ini, ketika gempa terjadi usahakan untu selalu “berada di luar rumah”.

Kami pun tiak menyangka beberapa detik kemudian getaran semakin kuat. Getaran hebat yang beberapa hari kemudian aku ketahui terjadi pada pukul 17.16 tersebut tidak hanya mengakibatkan kepanikan, kebisingan ataupun hysteria orang-orang (tetangga) yang berada di sekitar rumahku. Namun juga menyebabkan pemdaman serentak listrik secara serentak di kawasan kota Padang, termasuk di tempat aku tinggal. Kebiasaan untuk segera mencari tahu informasi usai gempa tak lagi dapat kami lakukan. Karena barang-barang elektronik yang kami miliki sama sekali tidak berfungsi. Mulai dari TV, radio, internet hingga HP pada saat itu menjadi alat-alat yang tidak berguna yang pada hari-hari biasa tentu menjadi benda kebangaan yang wajib dimiliki.

2. Serasa dalam Adegan Film
Jika memutar kembali kepingan-kepingan awal saat gempa, benar-benar serasa dalam adegan film. Orang-orang bertebaran, berpegangan tangan, merangkak, tangisan bayi dan orang dewasa serta asma Allah terdengar di mana-mana untuk saling menguatkan diri di tengah goncangan gempa. Begitu pula denganku. Saling berpegangan tangan dala kepasrahan bersama kedua orang tua, berkat pertolongan Allah SWT kami pun selamat. Meskipun demikian shock usai gempa masih belum reda. Bukan lagi karena goncangan gempa tetapi kekhawatiran akan keadaan beberapa anggota keluarga yang tidak bersama dengan kami. Kakak dan tiga orang adik sepupuku belum memberikan kabar. Sore sebelum gempa masing-masingnya berangkat ke pasar, bioskop dan kampus.
Senja berangsur kelam. Sore yang mencekam berganti malam nan syahdu. Suara azan di mana-mana. Setelah penantian selama beberapa jam, anggota keluarga kami alhamdulillah kembali dengan selamat. Perjalanan untuk menyelamatkan diri masih berlanjut. Perlahan kami pun meninggalkan perbukitan yang memang dijadikan sebagai jalur evakuasi oleh pemda. Adegan-adegan film pun kembali berseliweran di depan mata kami. Bangunan-bangunan yang roboh, lapangan-lapangan terbuka yang dipenuhi oleh masyarakat dengan bekal seadanya serta lilin-lilin sebagai penerang ramai kami jumpai di kiri-kanan jalan, ibu-ibu yang dengan gelisah mencari jalan pulang, bapak-bapak dalam kendaraan yang melaju dalam kecepatan tak menentu. Dari seberang jalan aku pun melihat serombongan mahasiswa (baru) yang panik sedang mengikuti petunjuk yang diberikan oleh seniornya. Ditambah dengan bunyi alarm, sirine ambulans, pemadam kebakaran yang menjadi pelengkap mencekam dan tragisnya hari itu.

3. Merebus Air Hujan
Hari pertama (Rabu, 30/9) berlangsungnya gempa tidak hanya menyisakan serentetan “kejutan” tetapi juga ketegangan, kecemasan dan kekhawatiran yang silih berganti. Tidak cukup hanya pemadaman lsitrik yang dilakukan oleh PLN, beberapa jam kemudian giliran Air PAM yang tidak lagi berfungsi “mati”. Jangankan air untuk mandi, untuk mencuci tangan barang setetes pun tidak ada. Kenyataan yang sekejap kemudian aku sadari menjadi benda yang benar-benar berharga. Aku pun hanya dapat menarik napas menyesal. Teringat akan pesan Ibu agar selalu menghemat penggunaan air dan listrik. Pfiuuuhhh….
Tapi Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang meskipun dengan kondisi air dan listrik mati (padam), Tuhan (Allah SWT) menunjukkan kemurahannya. Dari kejauhan aku melihat langit berubah warna. Senja nan merah pun pudar, diganti awan kelabu dan tampak berat. Subhanallah, langit mencurahkan karunianya. Desir angin dan hujan samara dan semakin jelas memecah sunyi. Hujan secara merata turun di kota Padang. Kekhawatiran akan kekurangan air untuk sementara dapat teratasi. Maka air untuk mandi, minum, hingga cuci piring kembali tersedia. Salah satu hal yang akan aku kenang, kami “merebus air hujan” untuk persediaan minum beberapa hari ke depan.

4. Hal-hal Aneh dan Tragis
1. Kemarin (Jum’at, 2/10) siang kami dikejutkan oleh fenomena aneh di langit, yaitu sebentuk efek hallo yang menimbulkan lingkaran hitam serta pantulan sinar serupa pelangi di antara lingkaran matahari.
2. satu hari usai gempa (Kamis, 1/10) aku melihat ada dua laying-layang yang melenggak-lenggok di langit. Di sebelahnya rembulan yang tidak penuh pun menambah
3. Lihat masyarakat antri minyak tana. Biasanya Cuma lihat di TV, abis gempa semua gambar itu justru ada di depan mata.

Iklan