Dalam hidup selalu ada hal-hal yang bersifat kebetulan. Entah kebetulan itu menyenangkan atau tidak, melegakan atau mengecewakan. Sebagai contoh beberapa hari yang lalu terdapat dua hari “penting” yang kebetulan sama dan berdekatan, yaitu hari anti korupsi (9/12) dan hari HAM se-dunia (10/12)

Hari yang pertama, hari anti korupsi (9/12) gaungnya semakin menjadi-jadi setelah pemerintah menetapkan program kerja pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui pergantian orde dalam pemerintahan selalu menyisakan “penyakit”. Maka korupsi menjadi salah satu penyakit yang ditinggalkan oleh orde baru. Penyakit yang hingga kini masih belum sembuh, malah jika tidak segera diobati akan bertambah parah, bahkan tidak tertutup kemungkinan komplikasi yang ujung-ujungnya kematian. Tidak bisa dipungkiri untuk masalah korupsi Indonesia masih dalam “peringkat juara”. Masih bertahan dalam urutan 5 besar di dunia. Kekayaan selalu membutakan mata. Terlebih jika kita menyaksikan tayangan-tayangan hari. Kasus-kasus yang tak terselesaikan, membosankan dan sungguh memalukan!

Ingin bertanya kepada pemerintah, sepertiny percuma. Entah kapan-kapan Indonesia memiliki pemimpin yang benar-benar konsisten, berani, percaya diri, punya harga diri dan tangguh menghadapi segala musuh. Hmmmm….

Satu hari berikutnya adalah hari HAM se-dunia. Seperti yang sudah-sudah, media massa pun tidak mau kehilangan “moment”. Segala persoalan HAM kembali diungkit, luka-luka lama pun kembali berdarah. Namun selanjutnya…???

Jika kita ingin berkeluh kesah mungkin tidak akan pernah selesai di sini. Tapi demikianlah hidup. Dua hari yang kebetulan berdekatan, kebetulan kedua-duanya sama penting dan kebetulan banyak hal yang belum terselesaikan di dalamnya!

Terlepas dari hal di atas, bagiku “kebetulan” ini sangat menyenangkan. Aku baru menyadari jika tanggal 10 Desember memiliki arti tersendiri. Ternyata pada peringatan hari HAM tersebut (10/12), papaku juga memperingati hari jadinya (ulang tahun). Ketika orang sibuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap hari HAM tersebut, aku dan keluarga alhamdulillah diberikan kesempatan untuk merayakannya. Merayakan hari ulang tahun papaku. Tidak mengundang banyak orang. Cukup hanya kami. Sebuah perayaan sederhana yang semoga saja berarti. Hari yang membahagiakan

Iklan