Cari

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

bulan

Januari 2010

Hidup dalam Kotak

batas
batas

Beberapa tahun lalu sebuah gedung intelektual berdiri perkasa di sudut Kota Padang. Sebuah gedung sederhana yang dapat diistilahkan sebagai rumah intelektual hijau. Tempat para calon ilmuwan berkumpul, berkompetensi dan mencari jati diri. Gerbang selamat datang pun menjadi sapaan hangat pemilik rumah bagi siapa pun yang berkenan berkunjung, bertandang ataupun berdiam agak sebentar. Rumah dengan dua buah tiang penyangga tersebut pada awalnya terlihat sangat kokoh. Namun perlahan waktu dan peristiwa menjadi penanda sebuah siklus. Siklus kehidupan dalam urutan yang tak berubah. Suka duka, senang sedih, bangga dan kecewa, nikmat atau sengsara menjadi sesuatu yang wajib untuk dilewati dan dihadapi.

Di tahun-tahun awal pendiriaanya rumah itu memang mampu bertahan. Perlahan berbagai perubahan tampak di sana-sini. Cat yang mulai pudar, jendela kaca yang mengabur tertutup debu, atap yang bocor dan meneteskan derai hujan di musim curah khatulistiwa serta retakan-retakan yang kian tampak jelas. Tentunya sebuah hal yang biasa jika kita dapati rumah dengan kondisi demikian. Namun agak memprihatinkan kiranya jika kerusakan-kerusakan “kecil” itu dibiarkan begitu saja. Terlebih jika si pemilik rumah mampu untuk “merenovasi” rumah itu.

Agaknya “hidup memang selalu menyisakan kejutan-kejutan.” Sebuah guncangan hebat di suatu senja menjadi klimaks peringatan yang lupa untuk diindahkan. Meluputkan congkak yang bersarang dalam diri. Dua tiang penyangga menjadi goyah, kaca-kaca pecah, berserakan, lorong-lorong pun gelap tak lagi bisa dilewati hingga hamparan sajadah menjadi gersang. Rumah pun luput dari sujud yang tersisanya hanyalah sebuah perasaan kalut dan takut. Sorak sorai yang memekakkan berganti sunyi yang mencemaskan
Roda kehidupan terus berputar. Tiga bulan telah berlalu, rumah itu kini hanya berteman sepi, rintik hujan, sengatan mentari serta desir angin yang sesekali menggoda tirai untuk berayun-ayun di bingkai jendela yang retak. Kepergian pemilik rumah beberapa saat pun sempat menimbulkan kisruh. Rumah itu kini hanyalah tinggal rangka. Satu-satu para penghuni mencari tempat berdiam yang baru. Jauh dari kata sengsara. Namun apa daya, dinding-dinding triplek justru menjadi pelipur diri. Tiada detik yang mesti menjadi sesal. Semua kini seragam, berdiam di dalam kotak. Meringkuk Sambil membebat luka masing-masing yang entah sampai kapan akan sembuh. Padang 20 Desember 2009

NB: Dimuat di Kolom Cerminia Tabloid Suara Kampus Edisi 109 (Januari 2010)

Puisi Perjalanan

Rimbun Kata

maaf kembara lalu
tidak menyisakan sesuatu
hanya rimbun kata yang sempat kupungut
satu per satu
di balik jubahku
(padang, 5-1-2010)

Perempuan-perempuan

pada sebuah senja ku melihatmu menanam sunyi
dari balik rerumputan yang menyimpan jejak
gelisah dalam hari-hari tak terbaca
yang mencipta tikai
(Padang, 5-1-2010)

Jendela

kemilau perjalanan
mencipta ragam musim
dalam detik yang singkat
(padang, 5-1-2010)

Selamat Jalan Presidenku (Abdurrahman Wahid)

selamat jalan
selamat jalan
Selalu saja ada berita mengejutkan datang dari tanah air Indonesia yang kita cintai ini. Dua hari yang lalu, tepatnya tanggalnya 30 Desember 2009 bangsa ini dikejutkan dengan berita wafatnya seorang tokoh penting bangsa. Seorang Bapak Presiden (Era Reformasi) telah berpulang ke rahmatullah. Seperti kepergian tokoh penting lainnya, Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal dengan Gusdur ini diiringi dengan isak tangis negeri. Mulai dari keluarga, sejawat, karib kerabat, murid hingga orang-orang yang mengenalnya lewat Televisi. Kerumunan massa yang ingin mengucapkan salam perpisahan tak lagi bisa dibendung.

Presiden Republik Indonesia (1999-2001) ini menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 18.45 akibat komplikasi berbagai penyakit yang dideritanya. Kepergian tokoh yang dikenal dengan selera humornya ini pun meninggalkan jejak kenangan yang tak akan dilupakan. Mulai dari pembawaannya beliau yang khas (santai), komentar-komentar “nyeleneh” yang kadang menyebabkan salah paham hingga berbagai kebisaan yang beliau miliki. Banyak hal pantas untuk diteladani dari sosok Presiden yang juga kerap diidentikkan sebagai tokoh Pluralis.

Jelang perayaan tahun baru di berbagai belahan dunia, Indonesia kembali harus menusap air mata, mengobati perih dari sebuah kehilangan. “Selamat Jalan Gusdur, Selamat Jalan Presidenku!”

Atas ↑

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Rara89's Weblog

Just another WordPress.com weblog