batas
batas

Beberapa tahun lalu sebuah gedung intelektual berdiri perkasa di sudut Kota Padang. Sebuah gedung sederhana yang dapat diistilahkan sebagai rumah intelektual hijau. Tempat para calon ilmuwan berkumpul, berkompetensi dan mencari jati diri. Gerbang selamat datang pun menjadi sapaan hangat pemilik rumah bagi siapa pun yang berkenan berkunjung, bertandang ataupun berdiam agak sebentar. Rumah dengan dua buah tiang penyangga tersebut pada awalnya terlihat sangat kokoh. Namun perlahan waktu dan peristiwa menjadi penanda sebuah siklus. Siklus kehidupan dalam urutan yang tak berubah. Suka duka, senang sedih, bangga dan kecewa, nikmat atau sengsara menjadi sesuatu yang wajib untuk dilewati dan dihadapi.

Di tahun-tahun awal pendiriaanya rumah itu memang mampu bertahan. Perlahan berbagai perubahan tampak di sana-sini. Cat yang mulai pudar, jendela kaca yang mengabur tertutup debu, atap yang bocor dan meneteskan derai hujan di musim curah khatulistiwa serta retakan-retakan yang kian tampak jelas. Tentunya sebuah hal yang biasa jika kita dapati rumah dengan kondisi demikian. Namun agak memprihatinkan kiranya jika kerusakan-kerusakan “kecil” itu dibiarkan begitu saja. Terlebih jika si pemilik rumah mampu untuk “merenovasi” rumah itu.

Agaknya “hidup memang selalu menyisakan kejutan-kejutan.” Sebuah guncangan hebat di suatu senja menjadi klimaks peringatan yang lupa untuk diindahkan. Meluputkan congkak yang bersarang dalam diri. Dua tiang penyangga menjadi goyah, kaca-kaca pecah, berserakan, lorong-lorong pun gelap tak lagi bisa dilewati hingga hamparan sajadah menjadi gersang. Rumah pun luput dari sujud yang tersisanya hanyalah sebuah perasaan kalut dan takut. Sorak sorai yang memekakkan berganti sunyi yang mencemaskan
Roda kehidupan terus berputar. Tiga bulan telah berlalu, rumah itu kini hanya berteman sepi, rintik hujan, sengatan mentari serta desir angin yang sesekali menggoda tirai untuk berayun-ayun di bingkai jendela yang retak. Kepergian pemilik rumah beberapa saat pun sempat menimbulkan kisruh. Rumah itu kini hanyalah tinggal rangka. Satu-satu para penghuni mencari tempat berdiam yang baru. Jauh dari kata sengsara. Namun apa daya, dinding-dinding triplek justru menjadi pelipur diri. Tiada detik yang mesti menjadi sesal. Semua kini seragam, berdiam di dalam kotak. Meringkuk Sambil membebat luka masing-masing yang entah sampai kapan akan sembuh. Padang 20 Desember 2009

NB: Dimuat di Kolom Cerminia Tabloid Suara Kampus Edisi 109 (Januari 2010)

Iklan