Entah mengapa bagiku menonton film drama menjadi pilihan yang menarik untuk menghabiskan hari. Seperti yang kulakukan kemarin (Sabtu, 20/2). Waktu libur merupakan waktu yang paling aku nantikan. Bukan hanya karena bisa rehat dari rutinitas yang ada, namun juga memaksaku untuk “berbuat sesuatu” bagi diriku. Dan seperti biasa, menonton film dan menulis merupakan pilihan menarik yang aku lakukan. Untuk liburan kali ini aku lebih memilih untuk menonton film New York I Love You dan Little Miss Sunshine. Kedua film ini bergenre drama, yang satu drama percintaan dan satunya lagi drama keluarga. Namun yang ingin saya bahas di sini adalah film pertama New York, I Love You.

Film bagus
bagus!

New York, I Love You merupakan rangkaian kisah tentang “cinta-cinta” yang ada di kota New York. Mulai dari kisah cinta spontan yang dialami oleh seorang copet,cinta seorang ayah pada anaknya, cinta hingga “usia memisahkan” sepasang suami istri yang berusia lanjut hingga percintaan para kupu-kupu malam di sudut-sudut kota “The Big Apple” ini. Secara garis besar film ini ingin menjelaskan bahwa cinta datang dalam rupa dan waktu yang tidak dapat diduga. Semuanya tergantung dari pilihan kita dan bagaimana kita memanfaatkan kesempatan untuk menikmati cinta itu sendiri. Namun dari semua rangkaian cerita yang hadir dalam film berdurasi lebih kurang dua jam ini, cerita yang paling aku sukai adalah fragmen “cinta” sang pelukis dan gadis di sebuah toko yang diperankan oleh Shu Qi.

Kisah ini diawali dengan rasa frustrasi sang pelukis yang belum juga dapat melukis gadis pujaannya “secara sempurna”. Si gadis masih ragu untuk memenuhi undangan sang pelukis untuk memilihnya secara langsung. Seperti yang terwakili dalam ucapak si gadis, “Kenapa memilihku?” Dan Sang pelukis hanya menjawab “Aku tidak tahu!” Sebuah peristiwa mengharukan kemudian menjadi titik balik dari ketertutupan yang diperlihatkan oleh sang gadis. Si pelukis yang senang menenggak minuman keras pun meninggal secara tiba-tiba sebelum sempat menyelesaikan lukisan sang gadis yang ia buat dengan imajinasi yang ia miliki. Di akhir cerita sang gadis pun “melanjutkan kerja” sang pelukis. Ia memotret dirinya dengan sorot mata yang hangat dan menempelkannya (foto mata) di lukisannya wajahnya sendiri.Akhir yang mengharukan dan berkesan bagiku secara pribadi.

Namun New York I Love You sepertinya masih belum mampu mengalahkan pesona film dengan latar serupa, Paris Je’t Aime yang lebih menyajikan kisah-kisah cinta yang menarik. Kemudian juga didukung dengan visual yang lebih berkesan. Meskipun demikian New York,I Love You tetap pantas untuk dijadikan referensi bahwa “cinta di mana pun ia berada selalu menarik kita dan siapa pun ke dalam pusaran yang tidak dapat dihindarkan.”

Iklan