Cari

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

bulan

Oktober 2010

Seketika Itu Jua

Kita tidak pernah tahu kapan ide akan datang dan berdiam di rumah yang kita miliki. Hal yang harus kita lakukan adalah menyambutnya dengan penuh suka cita. Mungkin dengan sekerat roti dan secangkir teh akan menyenangkan hatinya.

Yap, aku sangat menyukai fase atau proses ketika ide-ide itu memburuku. Terlebih ketika aku telah lama tidak berjumpa dengannya. Aku pun tidak peduli jika ide itu masih berupa sekerat kata yang belum berbentuk. Namun seperti yang selalu aku nikmati, aku cukup menambahkan beberapa kata atau kalimat lainnya. Aku pun selalu bersyukur untuk sesuatu yang terlintas, sekelebat, sesaat, seketika itu jua. Tak peduli apapun bentuknya, seperti rupa di bawah ini….

*Tidak sempat memunguti ide-ide
Hari ini hanya ada remah-remah kata
Entah dapat mengenyangkan atau tidak

*Sejarah hanyalah ilusi angka-angka yang berdiam
di tempat-tempat yang tak pernah kita singgahi

*telah menyepakati
akan berladang
di tanah masing-masing

*bila waktu adalah perundingan
semoga kesepakatan itu ada

*tuan dan puan
di tanah kita masing-masing
hidup lamat-lamat kan bergulir
tak usah risau

*kelak kenang dan usia
hanyalah sekelebat tempat singgah
di waktu lalu

Semoga bermanfaat… ^_*


Iklan

Hadapi Saja!

Tanpa dapat kita prediksi dalam rentang waktu yang tidak diketahui, kita akan dihadapkan  dalam suatu fase meragukan diri sendiri maupun keadaan yang ada. Kita kerap berlindung dengan tameng bahwa kita merupakan manusia biasa. Lalu tanpa disadari kita pun telah menumpuk keluhan demi keluhan akibat dari adanya keraguan terhadap diri tadi. Keluhan-keluhan yang justru semakin memperparah situasi atau keadaan yang dialami. Bukan hanya memperparah keraguan-keraguan tersebut. Tetapi juga menjerumuskan diri kita pada ketidakmampuan untuk melihat potensi diri. Dalam arti tidak memaksimalkan potensi yang dimiliki. Singkatnya, menyia-nyiakan kelebihan tersebut. Jujur, saya, anda, ataupun orang lain pasti pernah mengalami fase di mana setiap hal selalu mendatangkan keluhan. Entah itu berupa persoalan sepele, maupun persoalan-persoalan besar yang tidak dapat kita kendalikan.

Banyak hal yang menjadi faktor kita kerapkali menjadi seseorang yang hobi mengeluh. Ketidakpuasan akan hal yang diperoleh, tidak maksimal dalam berbuat, tidak dapat mengatasi ketakutan-ketakutan dalam diri ataupun belum memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu yang sama atau melebihi orang lain merupakan sebahagian dari faktor-faktor yang menyebabkan seseorang, kita ataupun orang lain untuk mengeluh. Baik keluhan untuk muncul secara sengaja atau tidak dalam skala besar maupun kecil. Pada dasarnya persoalan “keluh-mengeluh” ini selalu muncul pada saat kita tidak sadar dengan apa yang telah kita peroleh. Selalu melihat keberhasilan-keberhasilan maupun pencapaian-pencapaian yang diperoleh oleh orang lain. Padahal keberhasilan-keberhasilan yang diperoleh oleh orang lain itu juga melalui perjuangan. Perjuangan yang barangkali justru lebih berat dari yang kita hadapi.

Maka ketika kita mengeluh tanpa kita sadari alam bawah sadar akan merespon apa yang kita pikirkan dan rasakan itu menjadi sebuah hasil pencapaian dari “mengeluh” tadi. Andaikan kita mau menerima apa pun yang ada dalam hidup secara lapang dada (bukan pasrah) tentunya akan mendatangkan hasil yang berbeda. Baik bagi diri sendiri, lingkungan sekitar dan alam semesta ini tentunya. Belajar melihat apa yang kita peroleh sebagai sebuah usaha maksimal dan menjadikannya sebagai hasil yang memuaskan (tidak mengecewakan) justru akan lebih bermanfaat. Kita belajar  untuk menjadi manusia yang lebih “beradab” dalam arti menghargai kemampuan diri sendiri dan hasil yang telah dicapai. Karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dengan yang kita peroleh. Jadi sudah sepantasnya kita mensyukurinya. *** (Padang, 26/9/2010)

 

 

Atas ↑

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Rara89's Weblog

Just another WordPress.com weblog