Facebook situs jejaring sosial yang dalam beberapa tahun belakangan memang sangat mendominasi dunia internet di tanah air. Berbagai kalangan masyarakat dengan berbagai latar belakang (usia, jenis kelamin, pendidikan, wilayah, profesi, dll) secara menakjubkan tumpah ruah dalam ruang komunikasi yang satu ini. Tidak hanya membuat orang-orang menjadi lupa waktu namun website ini mampu mengendalikan ritme kehidupan sebahagian umat manusia di planet bumi. Bukan hal yang aneh jika kemudian banyak berita (informasi) yang menyebutkan jika facebook tak ubahnya seperti wabah yang mudah menular. Segala idealisme yang mulanya dipegang teguh menjadi kendor dan segala nilai moral yang dianut pun mau tak mau menjadi lunak.

Seperti, kinerja karyawan kantor menjadi menurun karena kerap disibukkan oleh kegiatan meng-update status, orang-orang menjadi tidak peduli keselamatan diri mereka karena lupa dimana berada saat meng-upload foto-foto ke situs ini, anak-anak yang notabenenya sangat tidak perlu untuk memiliki FB justru menjadikan situs sebagai ajang untuk mengungkapkan kekesalan kepada orang tua yang mereka miliki, ibu menjadi lupa untuk men-cek keadaan bayi yang ia miliki karena sibuk chatting dan bahkan yang lebih menyedihkan hingga menyebabkan kehilangan nyawa karena para ibu tidak lagi waspada dalam mengasuh putra-putri yang mereka milki. Itulah sebahagian di antara dampak (keganjilan dan keanehan) yang disebabkan oleh situs jejaring yang didirikan oleh mahasiswa Harvard ini. Dan bukanlah sebuah kebetulan jika kemudian saya juga menjadi “korban” akibat tren yang satu ini.

Saya memiliki akun facebook sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya awal tahun 2008. Namun menggunakan situs ini secara intens sejak akhir 2008. Pada awalnya saya hanya iseng untuk menambah situs jejaring social yang saya miliki, sebelumnya saya juga sudah memiliki akun friendster, myspace dan tagged. Namun karena saat itu facebook mendapat sorotan lebih (saya sempat membaca dan mendengar tentang kelebihan-kelebihan situs ini) maka rasa penasaran dan ingin tahu itu pun muncul. Lalu berbekal rasa penasaran dan ingin tahu itulah, saya pun ikut bergabung di situs jejaring social facebook. Pada saat itu memang belum banyak teman yang saya miliki, orang-orang masih disibukkan dengan keberadaan friendster. Maka saya pun malas untuk mengetahui situs ini lebih jauh. Lambat laun publikasi situs ini pun makin menjadi-jadi. Hal ini tampak dari banyaknya facebooker yang mencatatkan namanya, bergabung di facebook. Termasuk teman-teman ataupun orang-orang yang saya kenal. Sejak itulah kegemaran saya untuk “berkunjung” ke situs ini semakin menjadi-jadi.

Jika sebelumnya saya terlebih dahulu harus ke warnet untuk memperbaharui status, maka selama beberapa bulan terakhir saya cukup meng-update status lewat internet (modem) yang saya miliki. Maka kegiatan meng-update status, upload foto, chatting atau sekedar mengkonfirmasi orang-orang yang ingin berteman dengan saya cukup saya lakukan di rumah. Dan hal-hal itulah yang setidaknya paling sering saya lakukan ketika berhadapan dengan facebook. Hal-hal kecil yang sebelumnya saya pandang sebagai sebuah hal yang wajar lambat laun mulai menjadi sebuah kegilaan (terobsesi, fanatik, ekstrem atau apapun namanya). Jika sebelumnya saya menghabiskan banyak uang demi meng-update status ke warnet. Maka kemudian kegilaan itu menjadi lebih meningkat. Tidak peduli hujan panas, pagi, siang, sore, malam, sehat ataupun sakit berkunjung ke halaman facebook menjadi sebuah rutinitas yang wajib saya kerjakan. Terlebih saya juga sering menggunakan HP sebagai media untuk berfacebook-ria.

Yap, perkembangan teknologi dan media memang dapat sangat membantu dalam kehidupan. Namun di sisi lain ia juga perlu kita kontrol. Bukan karena keberadaannya sangat menyenangkan namun juga dapat melumpuhkan. Melumpuhkan kemampuan kita untuk berpikir logis, kemampuan kita untuk berinteraksi dengan dunia dan nyata dan menghilangkan kemampuan kita untuk berbuat hal-hal lain yang lebih bermanfaat dan “lebih hidup”. Facebook dan segala kegilaan ini barangkali akan segera berakhir. Sedangkan kita (manusia) bukan diciptakan untuk sekedar “meng-update status” tetapi lebih dari itu semua. ^_^ (Padang, 3 Februari 2011)

Iklan