Terkadang dalam kita kerap dihadapkan pada kenyataan harus bersikap berani (brave) dalam menjalani hidup. Bukan hanya keberanian dalam menghadapi hal-hal yang menakutkan berupa benda atau sesuatu bersifat fisik yang memang butuh kekuatan fisik untuk menghadapinya. Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan keberanian kita untuk menghadapi dan menyikapi hal-hal yang berada di dalam diri kita sendiri. Hal-hal negative yang berasal dari dalam diri. Seperti ketakutan-ketakutan, kecemasan demi kecemasan, khawatir berlebihan ataupun pikiran-pikiran negative. Pada dasarnya sebuha hal yang manusiawi jika kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki rasa takut, khawatir dalam menghadapi sesuatu. Sesuatu yang berada di luar diri kita. Baik itu dalam wujud nyata ataupun abstrak seperti perasaan-perasaan atau pikiran negative yang terkadang mendominasi alam bawah sadar kita. Tapi ia menjadi tidak wajar ketika kita justru berkutat dengan semua perasaan itu secara berlebihan dan terus menerus. Tanpa menyadari realitas yang ada justru tidak seburuk itu. Segala sesuatunya tergantung dari cara kita bersikap.

Ketika kita memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu, seperti bekerja di luar kota (merantau) melanjutkan pendidikan, dsb namun karena ketakutan dan tidak adanya keberanian untuk mencoba dan memulai itu semua maka secara tidak langsung kita telah terjebak menjadi manusia yang penakut. Tidak berani. Tanpa disadari diri (pikiran) kita akan membuat alasan-alasan (pe-makluman) atas ketidakberdayaan kita tersebut. Barangkali ini memang kerja pikiran (otak) kita yang selalu mencari rasionalitas terhadap berbagai hal. Termasuk alasan ketidakberdayaan kita untuk melakukan sesuatu tadi. Memang kita tidak dapat secara serampangan menuduh atau menjadikan ketidakberanian (ketakutan) tadi sebagai sebuah vonis bahwa kita tidak akan (pernah) mampu untuk berbuat yang sama ke depannya justru kita harus berpikir sebaliknya. Jika saat ini kita memang tidak mampu, belum mau atau belum ada kesempatan untuk mencoba, berbuat ataupun mengendalikan pikiran kita dan segera bertindak, mungkin segala sesuatunya masih belum terlambat untuk dicoba suatu saat nanti.

Saat kita merasa mampu dan berani mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu demi hidup yang kita miliki. Dan ketika saat itu tiba kita memang benar-benar harus siap (berani) dan siap dengan segala resiko yang akan terjadi. Selain diri sendiri dan Tuhan, siapa lagi yang lebih mengetahui segala keinginan yang kita miliki. Impian-impian yang selalu menunggu untuk kita wujudkan. Cukup dengan sebuah keberanian dan keterbukaan untuk menerima segala kebaikan yang datang dari alam. Barangkali hanya itu saja yang kita butuhkan. *** (Padang, 3 Februari 2011)

Iklan