“Usia hanyalah sekerat waktu yang kita punya untuk memilah sejarah kita sendiri-sendiri.” Saya tidak tahu apakah kalimat tepat untuk menggambarkan usia sebagai sebuah hal yang melekat pada diri kita. Usia merupakan sebuah clue atau ciri khas yang kita miliki sebagai penanda bahwa hidup sudah kita jalani. Hidup yang dimulai dari rahim seorang ibu, tangis pertama hingga perulangan tahun yang mengisi hari-hari kita. Bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan mati. Perjalanan waktu hanyalah demikian. Namun Tuhan tidak ingin kita untuk sekedar lahir, hidup lalu mati. Ia kemudian menciptakan sejarah kita masing-masing.

 

waktu

Sejarah sebuah kata yang khas. Sejarah tidak saja milik tokoh-tokoh atau orang-orang yang kita anggap besar, hebat dan patut dikenang. Sejarah selalu dan selamanya adalah milik kita, anda, saya dan siapa pun! Tuhan telah dengan bijak mengatur sejarah yang akan kita jalani. Bagi saya, sejarah hanyalah penanggalan-penanggalan yang kita lalui dalam hidup disertai dengan nama-nama (orang, tempat, dll) yang akan kita kenang. Setiap peristiwa besar, kecil ataupun hal sepele yang kita alami pada dasarnya adalah suatu hal istimewa yang menunggu untuk menjadi sejarah. Sejarah kita, saya, anda dan siapa saja. Bukankah Tuhan telah memberikan jatah 24 jam, 365 hari ribuan detik dan peristiwa-peristiwa yang akan terus bergulir dan berubah-ubah. Apapun peristiwa itu ia tetap merupakan bagian dari catatan sejarah yang kita miliki. Baik ataupun buruk hal-hal yang terjadi tersebut.

Tugas kita pun sederhana, yaitu menikmati dan mensyukuri setiap peristiwa yang kita alami. Menikmati atau mensyukuri dalam arti kita menjadi makhluk yang dapat menghargai setiap pemberian Tuhan. Termasuk sejarah dan waktu yang kita miliki ataupun peristiwa-peristiwa yang kita alami. Peristiwa-peristiwa yang akan meninggalkan kesan, kenangan, ataupun pelajaran yang membuat kita menjadi lebih menghargai dan mencintai hidup. Dan usia sampai kapan pun hanyalah sekerat waktu yang kita miliki. Maka untuk menjadikannya penuh hanya diri kita masing-masing yang tahu caranya. Sejarah pun telah ada di buku catatan yang kita miliki masing-masing. Saya, anda, dan kita semua cukup membolak-balik halaman demi halaman serta menjadikannya menarik dan layak untuk dibaca siapa saja. Tugas kita hanya itu! *** (Padang, 3 Februari 2011)

Iklan