pada akhirnya

IN THE END

We only regret the chances we didn’t take

(Kita hanya menyesali kesempatan yang tidak kita ambil)

The relationships we were afraid to have

(Hubungan yang takut untuk kita miliki)

And the decisions we waited to long to make

(Dan keputusan yang kita buat terlalu lama)

Kalimat asing ini secara tidak sengaja penulis temukan dalam kumpulan foto-foto hasil download dari internet. Dari dulu penulis memang hobi mengoleksi foto-foto ataupun gambar-gambar (indah, menarik dan unik) yang saya temukan. Sederhananya penulis menyukai dunia fotografi. Dan secara kebetulan kalimat indah tersebut terdapat di salah satu koleksi yang penulis punya.

Kalimat-kalimat sederhana yang setidaknya mewakili hal yang pernah kita alami atau rasakan. Mulai dari penyesalan, rasa takut hingga sesuatu yang datang terlambat. Tidak bisa dipungkiri ataupun disangkal kita semua pasti pernah berada dalam keadaan seperti kalimat-kalimat di atas. Menyia-nyiakan kesempatan yang ada di hadapan kita, ketakutan untuk membangun sebuah hubungan hingga berpikir terlalu lama untuk membuat sebuah keputusan. Hal-hal tersebut tentunya merupakan sesuatu yang wajar. Namun akan menjadi tidak wajar jika kita kerap terjebak dalam hal yang sama lebih dari satu kali dan dalam setiap situasi. Dalam arti kita lebih memilih untuk berbuat kesalahan (di satu sisi) daripada mencoba untuk mengubah keadaan dengan melakukan hal yang berbeda.

Barangkali tidak setiap orang diberi kesempatan yang menggembirakan atau menguntungkan dalam hidup. Seperti, memiliki kesempatan untuk berkarya, berbuat sesuatu yang lebih baik untuk diri sendiri dan orang lain maupun menyia-nyiakan kesempatan yang pada dasarnya akan membantu menerangi atau melapangkan kita dalam menjalani kehidupan. Contoh sederhana, sekolah, kuliah, dll. Karena tidak semua orang beruntung memperoleh kesempatan yang serupa dan memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut. Karena pada dasarnya kehidupan pun berawal dari kecerdasan kita dalam memanfaatkan kesempatan yang ada. Kesempatan yang tentunya tidak datang begitu saja ke hadapan kita. Namun demikian dalam beberapa kasus kita pun perlu memilah dan memilih kesempatan yang hadir tersebut. Bukan untuk menakut-nakut diri sendiri akan konsekuensi yang harus kita hadapi jika mengambil kesempatan itu, tapi lebih kepada menguji diri sendiri apakah kita berani untuk melakukan sebuah perubahan yang mungkin saja akan menjadi awal dari kesempatan dan keuntungan-keuntungan lain yang akan kita terima atau barangkali (semoga saja tidak) adalah hal sebaliknya.

Memiliki sebuah hubungan mungkin saja menjadi salah satu kesempatan baik yang kita punya. Tidak hanya hubungan asrama yang tentu saja menjadi dambaan setiap orang. Tetapi juga hubungan yang lebih universal dengan seisi dunia. Hubungan persahabatan, kerja, kekeluargaan, dsb. Sengaja saya tulis demikian karena banyak kasus yang juga berkutat di seputar hubungan-hubungan itu. Memutuskan hubungan silaturrahmi dengan keluarga hanya karena hal sepele bisa dijadikan salah satu contoh. Ketika kita menyadari akan kekeliruan yang kita buat tak jarang kita enggan untuk memperbaikinya. Padahal kekerabatan dan silaturrahim merupakan salah satu hal terindah yang kita miliki di atas dunia ini. Tentunya dengan hubungan (sosial) tersebut kita menjadi lebih mampu untuk bertahan dalam menjalani hari-hari.

Dan pada akhirnya hidup pun tak lebih dari keputusan-keputusan yang mesti kita buat. Jangan menunggu terlalu lama dalam mengambil sebuah keputusan. Hal ini bukannya mengajarkan kita untuk ceroboh. Hanya saja mengisyaratkan setiap detik yang kita miliki dalam hidup begitu berharga. Maka tak ada salahnya kita (untuk) sedikit bergegas. Bukankah ketika dunia berputar kita diisyaratkan untuk berlari!!! ***(Padang, 19/2/2011)

Iklan