Di dunia ini segala sesuatunya senantiasa berjalan selaras atau seimbang. Tuhan dengan lapang dada telah menciptakan berbagai hal dalam dua sisi mata uang yang akan menuntun kita dalam kehidupan. Seperti sisi hitam putih, masa lalu masa depan, hari ini  hari esok, kelahiran kematian yang juga dirangkum dalam riwayat perjumpaan dan perpisahan. Demikianlah hidup. Kita tidak dapat menyalahkan siapa-siapa atas kisah-kisah yang mewarnai kehidupan di dunia fana ini. Sebagaimana sebuah persahabatan yang menjadi bagian dari bingkai kehidupan kita semua. Tak terkecuali saya. Awal dari sebuah perjumpaan yang mungkin akan menyeret kita ke dalam kisah-kisah yang menumpuk dalam ingatan.

sebuah perhelatan

Persahabatan yang berjalan secara alami. Selalu bersama dalam suka dan duka bukanlah hal yang mudah untuk didapat. Persahabatan yang bisa saja berawal dari pertemanan disekolah, pertemuan di kafe atau took buku, organisasi ataupun tempat-tempat tak terduga lainnya barangkali menjadi bagian dari sejarah kita keesokan hari. Yap, di antara sekian banyak keberuntungan yang saya miliki adalah pertemanan yang erat dengan sahabat-sahabat yang saya miliki saat ini. Oleh sebab itu jika kita memperoleh keberuntungan kita mesti bersyukur dengan cara mempertahankannya.

Memiliki tiga belas orang sahabat (8 perempuan dan 5 laki-laki) merupakan hal yang menyenangkan. Persahabatan yang berawal dari Sekolah Menengah Atas (satu kelas) maupun organisasi seni (drum band) menjadi awal dari perjumpaanku dengan  para sahabatku hingga detik ini. Tepatnya persahabatan itu mulai terbina sejak tahun 2002. Ketika masa puber benar-benar membuat kami gembira. Tak ada hal yang kami pikirkan. Semuanya hanya berputar di dunia sekolah, bergembira dan bersenang-senang. Urusan lainnya bukanlah masalah. Tipikal dunia remaja ^_^

Perlahan namun pasti persahabatan remaja kian meningkat menjadi pemahaman orang-orang yang beranjak dewasa. Mulai dari menghadapi persoalan remeh temeh seperti, tugas sekolah, guru yang menyebalkan hingga kisah cinta monyet yang menyiksa hati (hehehee) hingga persoalan rumit seputar keluarga, cita-cita ataupun pilihan hidup. Masa remaja hingga menuju dewasa memang dianggap sebagai masa-masa yang rawan dalam kehidupan seseorang. Tidak mengherankan jika kemudian kita membutuhkan orang lain (di luar diri sendiri dan keluarga) untuk mengatasi hal-hal tersebut. Namun seberapa baiknya masukan atau saran-saran yang diberikan segala keputusan dan pilihan-pilihan itu tetap berada di tangan kita, orang yang memiliki hidup!

Persabatan yang berawal dari sebuah perjumpaan lalu berkembang menjadi perkenalan dan pertemanan yang menyenangkan itu pun tidak luput dari sebuah konsekuensi. Sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya, kehidupan dan segala sesuatu yang ada di dunia ini senantiasa akan berjalan dengan selaras. Maka tak mengherankan jika kita kemudian juga harus berani menghadapi segala konsekuensi yang tidak semuanya berakibat negative terhadap diri. Konsekuensi dari sebuah perjumpaan adalah perpisahan. Perpisahan tidak hanya dalam bentuk jarak maupun fisik. Seperti jauh, dekat, hidup ataupun mati. Perpisahan dapat juga diartikan kita harus siap melepaskan segala kenyamanan dan kesenangan yang selama ini menjadi teman kita sehari-hari. Sebagaimana sebuah hubungan yang berjalan secara murni, maka begitu pula halnya dengan sebuah persahabatan.

Kebersamaan yang senantiasa menjadi penyemangat dalam menghadapi hari-hari (di sekolah) itu lambat laun tidak lagi dapat berjalan seperti itu. Tanpa unsur kesengajaan ataupun mencoba untuk menghindar satu per satu, teman atau sahabat yang kita miliki akan mulai melepaskan diri dari simpul yang kita ikat tersebut. Urusan pekerjaan, usia, kesibukan maupun tuntutan dan pilihan hidup seperti menikah dan berumah tangga menjadi hal mau tidak mau harus kita terima secara lapang dada.

Sebuah kehidupan

Siapa pun kita barangkali menginginkan kehidupan ideal sebagaimana yang dialami orang lain. Termasuk pilihan untuk menikah. Proses kehidupan yang sadar tidak sadar menuntut kita untuk dapat meleburkan diri dengan orang lain (pasangan). Nah, akan berbeda halnya jika yang menikah itu adalah sahabat kita (laki-laki maupun perempuan). Berbeda dalam arti kita pun harus rela untuk membiarkan proses hidupnya berlangsung. Dan barangkali proses itu pun akan segera menghampiri kita. Lalu, tentunya secara spontan tanpa kita sadari akan terbangun sekat-sekat maupun aturan-aturan tak terlihat yang mesti kita maklumi dan patuhi. Seperti tak dapat lagi dengan leluasa menghabiskan hari untuk bersenda gurau, bermain-main dengan waktu ataupun melakukan hal-hal yang menantang diri sendiri maupun sahabat. Karena kini ada tanggung jawab baru maupun peran baru yang harus mereka jalani.

Proses “melepaskan” para sahabat ke dalam dunia kecil itu tentunya juga tidak mudah. Tak jarang rasa sedih, haru maupun kecewa menjadi hal yang bersarang di dalam diri. Bukan karena rasa iri ataupun tak terima sahabat yang kita cintai memperoleh kebahagiaan. Namun lebih kepada menemukan cara untuk memaklumi dan menerima proses tersebut terjadi. Mungkin akan ada sedikit ruang kosong yang tertinggal. Ruang yang telah lama kita tempati bersama para sahabat tadi. Tempat di mana kita berbagi segala yang kita alami, mengekspresikan diri maupun berbagi hal-hal yang mungkin saja tidak pernah kita ungkapkan kepada orang lain selain sahabat. Proses memaklumi dan menerima ini tentunya tidak akan mudah. Tetapi juga tidak sesulit yang kita bayangkan. Dengan tetap menjaga komunikasi dan tidak mengurangi perhatian yang kita berikan setidaknya tetap menjadikan persahabatan kita sebagai sesuatu yang manis (berkesan) bagi sahabat. Karena ketika satu proses (baru) dalam hidup berlangsung bukan berarti kita boleh congkak untuk melupakan hal berharga di masa lalu yang kita miliki *** (Padang, 17-19 Feb 2011)

NB: Untuk Sahabat-sahabatku di IDUB dan kawan-kawan yang telah menikah ^_^

Iklan