Ketukan Air

senja di tanah ini tidak lagi merah, perempuan

mendung telah menyergap segala kedatangan
yang sempat merupa ragu
ya, barangkali puisi adalah undangan
paling ramah dan sempurna yang kuterima
**“seakan-akan ada yang mengetuk pintu
dan kresek langkah di laman
tapi aku hanya melihat sisa butir-butir air di daunan bonsai
barangkali hingga senja mempercepat derap tungkainya”

sebuah pesan darimu yang ku baca berulang
perempuan rindu pertemuan, rupanya
sementara hujan jatuh satu persatu
jejakku pun menuju ke lamanmu, gegas

lalu sejumput maaf jadi pengantar ketukan di pintu
derapku telah sampai
dan kita kembali bercakap-cakap
di antara derai yang lamat-lamat kian deras
hari itu
(Padang, 22/10/2011)
**pesan singkat Fitra Yanti

Perempuan
Tentang segala perempuan
Kita tak pernah tahu
Kapan hidup menjadi mati
Ataupun seperti apa kelahiran
Dari segala hanyalah umpama
Yang pura-pura kita kenali
Diam-diam sambil berharap
Tak akan sesat
Sebab seperti umpama
Tiada seorang yang dapat meraba
Merasai akankah atau
mungkinkah ia
Merupa atau menjadi
Segala yang ditinggali
Dan yang kan tertinggal
(Padang, 12/7/2011)

Jalan

Kali ini telah kurapatkan jemari
Merapal segala harap dengan khusyuk
Dalam pejam yang sama
Semoga, perjalanan ini tak lagi sesat
Tuhan
(Padang, 20/2/2011)

Tuhan, Lilin dan Sepotong Kue

Yang datang malam-malam
Dengan ribuan cahaya jatuh
Besijingkat di antara sunyi
Menari dan berkhutbah tentang segala ingatan
Sisa hari lalu yang terlupa
Ku namai dengan butiran do’a
Atau gerak khusyuk
Dalam tahun-tahun yang telah diperkenan
Duhai usia, yang kan terbakar
Saat sepotong kue belum sempat dicecap
Namun Tuhan telah berlalu
Dengan segala firman
Sedangkan kita mengira segala bahagia
Telah tiba
(Padang, 1/2/2011 – 13/7/2011)

Bayang-bayang Bunga

Pernah kita bersitegang
Perihal bunga yang tidak dikenali
Berdiri congkak di balik tembok
Dan sinar yang menyentuh kelopaknya
”Hanya merupa bayang-bayang,” ujarmu
Waktu pun kembali berdetak
Sambil kita kenali suara angin
Saat itu
(Padang, 25/1/2011 – 13/7/2011)

Ketika Tuhan Mengucapkan Selamat Malam

Kita telah lama pulas
Dalam ruang sementara yang kita hadirkan
Berupa rangkaian kisah
Yang datang dan pergi
Merupa duka ataupun suka cita
Yang menyelimuti gelap

Seperti burung
Kita akan bersarang di ranting-ranting mati
Mendapati hari-hari
Yang kian menjadi resah
Dan mencipta perih

Ketika cahaya jatuh dan menjadi malam
Usai langkah-langkah lunglai
Kita pun luput dalam diam
(Padang, 10/1/2011)

NB: Puisi-puisi di atas dimuat di Harian Singgalang, Minggu (30/10/2011) lalu. Namun karena tampilan yang kurang memuaskan, maka penulis muat kembali di sini. Semoga kawan-kawan yang membaca suka yaa… ^_^

Iklan