Internet sebagai bagian dari perkembangan media massa tidak dapat dipungkiri memberikan pengaruh yang luas dalam kehidupan manusia (siapa saja). Kehadiran internet dan segala fasilitas “maya” yang dimilikinya tidak lagi menjadi milik kalangan tertentu atau sekelompok orang saja. Saat ini segala kemudahan yang ada di dalamnya telah dapat diakses oleh siapa pun dan di mana pun mereka berada. Baik itu dewasa, remaja hingga anak-anak dapat membuktikan kecanggihan yang dimiliki oleh media massa satu ini. Selain batas ruang dan waktu yang secara signifikan menjadikan dunia semakin “kecil”, internet pun berhasil menghapuskan eksklusifitas yang ada dalam diri manusia. Betapa tidak dengan akses yang dimilikinya, internet mampu menghubungkan siapapun dengan latar belakang apapun mulai dari gender, usia, suku, agama, pendidikan, status sosial, pekerjaan dsb hanya untuk satu kepentingan, yaitu memperoleh informasi dan melakukan interaksi.

Internet dengan caranya sendiri mampu menyusup ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia modern yang mau tak mau menggantungkan hidupnya pada kecanggihan dunia teknologi informasi setelah radio dan televisi. Mulai dari kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, pendidikan maupun sendi kehidupan lain yang selama ini menjadi tolak ukur dalam melihat kemajuan suatu bangsa ikut terpengaruh dan menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Namun seperti apa dan bagaimana pengaruh itu hadir dalam masing-masing sendi kehidupan tentunya sangat relatif. Apakah mereka berhasil memanfaatkannya dengan cerdik atau justru sebaliknya, menjadi “korban” dari dunia yang setiap detiknya menyediakan ruang informasi tanpa batas itu. Salah satunya dapat kita lihat pada dunia pendidikan.

Internet antara Tren dan Alternatif Positif
Dunia pendidikan tanah air sejak beberapa tahun terakhir terus menerus mendapat sorotan dari berbagai pihak karena dianggap menunjukkan penurunan kualitas. Berdasarkan data Indeks Pembangunan Pendidikan untuk Semua atau Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 1 Maret silam menunjukkan indeks pendidikan atau education development index (EDI) di Indonesia menempati rangking 69 dari 127 negara di dunia. Padahal tahun 2010 lalu Indonesia berada di rangking 65 (www.kompas.com). Penurunan rangking ini secara tidak langsung menunjukkan perhatian kita terhadap dunia pendidikan tanah air relatif masih rendah. Tak mengherankan jika kemudian salah satu alternatif yang coba digunakan untuk memajukan dunia pendidikan tanah air adalah dengan penggunaan teknologi dan informasi (internet) dalam proses belajar mengajar (PBM). Baik itu tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi.
Penggunaan internet rupanya juga tidak ketinggalan meramaikan dunia pendidikan tanah air dalam satu dekade terakhir. Internet pun ikut menjadi bagian dari media yang membantu proses belajar mengajar para peserta didik. Media baru ini dianggap dapat membantu dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam belajar (proses PBM). Maka sudah hal yang lumrah dewasa ini para pengajar, baik guru maupun dosen menugaskan siswa/murid/pelajar/mahasiswanya untuk belajar melalui internet. Dalam arti guru atau dosen cukup memberikan tema/topik bahasan tentang mata pelajaran atau materi kuliah yang akan disampaikan kepada mereka. Baik itu berupa PR (Pekerjaan Rumah), makalah atau bahan presentasi yang menjadi menu wajib dalam metode pendidikan tanah air. Lalu tugas para peserta didiklah untuk mencari jawabnya melalui internet. Salah satunya dengan menggunakan mesin pencari (situs/website) google.

Keberadaan mesin pencari seperti google, yahoo maupun website lainnya di satu sisi memang memberikan manfaat yang besar dalam dunia pendidikan. Segala pengetahuan atau hal apapun yang ada di dunia akan ditemukan jawabannya lewat satu jari. Cukup meng-klik kata kunci yang kita maksud pada laman google, maka dalam hitungan detik semua informasi yang kita inginkan akan muncul secara serentak. Mulai dari informasi umum, kecil bahkan yang bersifat rahasia dapat kita temukan di sini. Tak mengherankan jika kemudian penggunaan mesin pencari ini dirasa lebih efektif dan efisien digunakan sebagai salah satu media pendidikan tanah air di zaman yang serba instan ini. Mesin pencari satu ini pun kerap dijuluki “mbah google” karena kemampuannya dalam mencari hal-hal yang dulunya kita anggap sulit untuk ditemukan jawabannya.

Meskipun demikian seperti dua sisi mata uang, dengan segala hal positif yang dimilikinya tidak menutup kemungkinan metode yang demikian juga menimbulkan dampak negatif yang tidak kita sadari. Seperti yang kerap terjadi saat ini. Metode PBM melalui internet (mesin pencari google) ini akan lebih tepat digunakan bagi peserta didik dari kalangan mahasiswa atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dalam arti peserta didik yang telah paham dengan manfaat penggunaan internet. Bagi peserta didik seperti siswa (SD) yang notabenenya belum terlalu mengerti atau paham akan media satu ini, tentunya penerapan hal demikian tidak tepat sasaran. Baik dari segi usia maupun pengetahuan peserta didik yang masih dangkal terhadap fungsi dan manfaat teknologi (internet) itu sendiri. Tak jarang para guru khususnya lebih memilih menugaskan siswa untuk mencari jawaban dari tugas (PR) yang diberikan melalui mesin pencari mbah google, padahal jawaban dari tugas-tugas tersebut masih dapat ditemukan di buku pelajaran yang mereka miliki.

Hal ini tentunya bukan dalam rangka menginginkan kemunduran dunia pendidikan tanah air. Hanya saja para guru atau pengajar juga perlu untuk memahami bahwa penggunaan teknologi dan informasi tidak perlu dilakukan secara membabi buta. Kita pun perlu mempertimbangkan efek atau pentingnya penerapan hal demikian dalam dunia pendidikan bagi siswa. Bukankah dalam pendidikan dasar para peserta didik atau siswa perlu lebih diakrabkan dengan buku yang jamak kita ketahui merupakan jendela dunia. Dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap apa yang ada di sekitar mereka. Memberikan rangsangan bagi siswa untuk menggali apa yang mereka lihat, dengar dan baca. Bukan sebaliknya, menjadikan siswa hanya terpaku pada satu objek atau benda yang memang menyediakan segala sesuatunya secara komplit. Mau tidak mau penggunaan media internet bagi siswa juga perlu mempertimbangkan usia, kemampuan maupun porsi dari si siswa sendiri. Kita tentunya tidak menginginkan jika kemudian para siswa lebih lama bermain game online daripada mencari PR yang ditugaskan oleh guru yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.

Begitu pula halnya dengan yang terjadi di kalangan mahasiswa. Istilah copy-paste dalam pembuatan makalah atau tugas akhir seperti skripsi cukup sering kita dengar bahkan temukan. Ketidaktelitian dari dosen yang menugaskan (mengajar) pun menjadi persoalan yang cenderung memperparah keadaan ini. Kebanyakan dari para dosen pun kerap lengah dan malas untuk memeriksa kembali tugas dari mahasiswanya. Padahal jika diterapkan secara baik, tugas makalah atau skripsi tersebut di satu sisi dapat membantu mahasiswa dalam mengolah pemikirannya ke dalam bentuk kata-kata yang tersusun secara sistematis. Meskipun susunannya tersebut masih dalam bentuk sederhana (belum sempurna). Setidaknya mahasiswa dapat melatih dirinya untuk memiliki pendapat sendiri serta mampu untuk melakukan penelitian kecil-kecilan yang bermanfaat bagi mereka nantinya. Dan seharusnya menjadi tugas dosenlah untuk menanamkan disiplin, melatih kemampuan mereka dan menumbuhkan rasa percaya diri dengan apa yang mereka miliki (pengetahuan/pendapat) tersebut. Namun sejauh ini para dosen pun masih latah untuk tetap menghadapkan para mahasiswanya pada mbah google dalam tiap tugas yang diberikan.

Melihat hal di atas, maka belum terlambat rasanya jika pendidikan ala mbah google ini dievaluasi kembali. Apakah sudah tepat penerapannya, bermanfaatkah serta hasil yang ada selama ini seperti apa. Baik atau burukkah? Beberapa hal yang dapat kita lakukan kedepannnya antara lain, melakukan seleksi terhadap mata pelajaran atau mata kuliah tertentu yang memang membutuhkan penggunaaan internet, memberikan pembekalan atau pemahaman terhadap fungsi dan manfaat internet bagi siswa pendidikan dasar, menetapkan batasan usia (kelas) bagi siswa yang telah dapat diberikan tugas melalui internet, dan meningkatkan kepedulian para pengajar terhadap apa yang telah mereka tugaskan. Baik sebelum maupun sesudah memberikan tugas dapat dijadikan sebagai solusi untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh internet. Hal ini tentunya bukan berarti kita kembali menjadikan mereka awam dengan kemajuan dan perkembangan dunia teknologi dan informasi. Akan tetapi guna mengajarkan peserta didik dan kita semua untuk lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi apa yang ada. Demikian. (Padang, 11 – 21 Oktober 2011)

*Penulis merupakan Alumnus Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Imam Bonjol Padang.

Iklan