Bahagia sebuah kata yang menjadi impian banyak orang. Bahagia barangkali berarti merasa senang terhadap apa yang kita lakukan atau apa yang kita peroleh dalam hidup ini. Namun darimana sesungguhnya asal dari bahagia itu. Apakah dari diri sendiri, orang lain maupun lingkungan di sekitar kita? Hmm..mari kita berpikir sejenak.


Tentunya kita banyak melihat dan menemukan orang yang berbahagia dengan apa yang mereka peroleh dalam hidup. Berbahagia, menyenangi setiap keadaan yang dialami oleh seseorang. Misal: memperoleh pekerjaan, memiliki materi yang didapat dengan bersusah payah ataupun dapat menggapai cita-cita yang telah lama kita impikan. Dari contoh tersebut kita dapat melihat bahwa hal-hal di luar diri dapat menjadi sebuah alasan untuk berbahagia. Namun bagaimana cara kita mempertahankan kebahagiaan bukanlah hal yang gampang. Karena sesuatu yang berasal dari luar diri hanya bersifat sementara.

Kita pun menyadari pada dasarnya kehidupan manusia selalu berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Kadang bahagia, bersuka cita dengan hidup. Dan adakalanya hidup kita justru sebaliknya. Menyedihkan ataupun mengalami berbagai hal yang membuat kita berduka cita. Nah bagaimana cara kita menyikapi itu semua menjadi kunci bagi dalam memandang hidup. Karena cara kita dalam memaknai kehidupan menjadi penentu bagaimana kita bertindak atau bertingkah laku dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang terkadang juga terasa berat.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memiliki tujuan dalam menjalani kehidupan ini. Kita harus mengetahui apa keinginan kita yang sesungguhnya. Merenung juga merupakan salah satu cara yang dapat kita gunakan untuk mereka-reka sumber kebahagiaan kita. Apakah itu memiliki rasa syukur dalam menjalani hidup. Bersikap optimis dalam menghadapi setiap hal yang datang kepada kita. Baik itu berupa peluang maupun tantangan.

Kemudian hal selanjutnya adalah mengenali dan mengetahui segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Kita tidak akan pernah menjadi manusia yang lebih baik jika terus menerus melihat kelebihan orang lain. Selalu merasa rumput tetangga lebih hijau bisa menjadi kerikil yang membuat kita terjatuh. Hal yang perlu kita lakukan adalah bersikap sebaliknya, yaitu menghargai setiap kelebihan yang kita miliki dan memanfaatkannya secara maksimal. Serta menyadari setiap kekurangan yang kita miliki. Bukan untuk membuat diri merasa minder akan tetapi kita perlu memperbaiki setiap kekurangan tersebut.

Hal ketiga adalah menjadikan hal-hal di luar diri sebagai sebuah pendukung untuk berbahagia. Mulai dari keluarga, teman, rekan kerja ataupun hal lainnya. Mengapa faktor di luar diri kita anggap hanya sebagai pendukung? Hal ini dikarenakan oleh faktor di luar diri tidak bisa bertahan lama. Kita tidak bisa mengetahui apakah orang-orang tersebut akan berada bersama kita selamanya atau justru sebaliknya. Dan pendukung sesungguhnya untuk merasa bahagia adalah diri kita sendiri. Tidak peduli kapanpun dan dimanapun kita berada diri sendiri merupakan teman yang paling dekat yang kita miliki.

Hanya diri sendirilah yang paling paham apa yang kita mau dan apa yang tidak kita inginkan dalam hidup ini. Bukan berarti kita menyepelekan faktor-faktor yang berada di luar diri sendiri. Namun kita perlu menempatkan mereka pada tempat yang tepat dan dengan porsi yang sesuai. Karena dengan demikian kita telah menjaga diri sendiri untuk tetap berbahagia. Dengan berbahagia kita akan merasakan dunia lebih lapang. Segala kemujuran akan menghampiri kita. Dan dengan demikian kita akan merasa puas terhadap apapun yang kita peroleh dalam hidup ini. Selamat mencoba! *** (Padang, 10 Juni 2012)

Iklan