Aku terjaga dari resah perjalanan panjang dalam pejam yang singkat. Ada indah yang tidak nyata berkali-kali menimpukiku dengan gambar-gambar serupa rangkaian film yang belum sepenuhnya diedit, kasarnya disensor. Tentang alam bawah sadar yang mengucurkan peristiwa yang terjadi ataupun yang kuharap tidak terjadi. Semuanya melengkapi subuh yang malas ataupun alarm weker pukul 5 yang tak kunjung buatku jaga. Ini mimpi ini nyata, sama-sama membingungkan rupanya.

Aku meraba keningku berkali-kali. Ini pagi kesekian aku mendapati diriku antara sadar dan tidak. Antara hal yang layak dan tak layak. Entahlah, mimpi acapkali tidak senonoh. Kala jaga mengurai semua dalam bingkai malu saat lelap semua terbusai apa adanya. Aku tidak tahu apa dosaku di masa lalu hingga aku selalu berhadapan dengan gejolak-gejolak terlambat dari tubuh mereka yang mendekatiku. Satu hal yang menjadi pelajaran terbesar dalam hidupku. Tidak ada orang yang tulus. Semua hal selalu dilatari oleh motif! Oh Tuhan, pesakitan macam apa yang bisa menerima itu semua?

Hidupku memang tidak bergejolak seperti hidup mereka. Mendapati peristiwa-peristiwa tragis yang melumuti kaki dan membusukkan hati. Sejauh ini aku masih berjalan di ruteku. Tidak membelot. Entahlah, aku memang tidak terbiasa berkelakar dengan anehnya hidup, sungsangnya peristiwa ataupun menjadikan hidup ironi-ironi yang memiriskan diri. Aku terbiasa melewatkan hal-hal yang dalam anggapanku tak usah terlalu dipikirkan. Bukan karena aku takut. Aku hanya merasa itu sama sekali tidak penting (acapkali aku menjadikannya demikian). Aku selalu belajar untuk menentukan hitam putih hidup. Selalu berada dalam jarak halal dan haram. Jika demikian, masihkah ku salah?

Kadangkala aku memang menginginkan merasakan kehidupan yang demikian. Singkatnya, “Hidup yang bermasalah, hidup yang tidak selalu berada di jalur mapan!” Namun sejauh ini hidupku tidak jauh berubah. Gejolak-gejolak aneh itu hanya muncul sesekali. Seperti sebuah pesan yang kudapati pagi ini, “padahal di ruang jantung yang rahasia itu, aku memanggilmu kekasih.” Bukan dari kekasihku. Hanya seseorang yang menyukaiku lebih dulu. Namun kini telah meminang temanku. Udara pagi kembali menyerbuku dari berbagai penjuru. Terik yang menyilaukan dari jendela, kali ini memaksaku untuk benar-benar bangun. (Padang, 8-1-2010)

*****

Iklan