Rutinitas tanpa disadari acapkali menjadikan orang lupa untuk berinteraksi dengan “dunia luar”. Dunia luar yang berarti interaksi dengan hal-hal yang ada di sekeliling kita. Keluarga, teman, tetangga, karib-kerabat ataupun hal-hal lain yang kita sukai (hobi). Kesibukan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan deadline yang telah ditentukan menyebabkan seseorang tidak bisa bergerak secara leluasa. Sebagaimana yang aku alami. Kesibukan menjalankan program dengan rekan-rekan kerja, seperti mengadakan pelatihan, menyelesaikan administrasi kantor, melakukan monitoring dan evaluasi lapangan terhadap program-program yang telah berjalan dan akan dilakukan hingga beres-beres ruangan kantor lambat laun (ternyata) menyita waktu yang hanya disediakan 24 jam sehari itu. Namun sebuah hal yang melegakan ketika kesibukan itu dapat dihentikan sementara. Rehat, refreshing, istirahat atau istilah lainnya menjadi sebuah hal yang ditunggu dan pantas untuk dinikmati yang semoga dapat menjadi penghilang rasa jenuh yang melanda hari-hari sebelumnya.

Perjalanan Pertama dengan Kawan-kawan “Baru”
Perjalanan kali ini memang merupakan sebuah perjalanan pertama yang aku lakukan dengan kawan-kawan baru atau rekan-rekan kerja di kantor. Sebelumnya keluarga, teman-teman (main dan kampus) seringkali menjadi teman seperjalanan. Maka perjalanan ini terasa lebih istimewa. Meskipun tempat rekreasi yang dipilih sudah sering aku datangi, yaitu Bukittinggi.

Pukul delapan pagi kami semua (6 orang) berkumpul di kantor yang berlokasi di Jl. Bundo Kanduang No. 1 Padang tersebut. Setengah jam kemudian perjalanan yang penuh suka cita ini berlanjut. Pilihan rutenya pun sudah tidak asing. Jadilah aku kembali menikmati rute-rute macet yang ada di kawasan Kota Padang, seperti Kh. Sulaiman, Tabing hingga Lubuk Buaya. Sepanjang perjalanan kami tidak hentinya tertawa. Hal apa pun yang kami lihat, dengar dan lakukan menjadi bahan candaan penghilang rasa bosan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Akhirnya kami sampai di tujuan selama lebih kurang dua jam berada di dalam mobil. Kawasan pertama yang kami pilih adalah Kebun Binatang yang dikenal dengan Taman Suaka Marga Satwa dan Budaya Kinantan.

Setelah membeli sebanyak 7 karcis (tambah untuk 1 supir) kami pun masuk ke tempat yang liburan favorit kelurga tersebut. Selama beberapa jam kami mengelilingi kawasan yang terletak di atas bukit itu. Hewan-hewaan seperti unta, kangguru, buaya, gajah, dll menjadi tontonan menarik bagi pengunjung yang dating. Tidak hanya melihat hewan-hewan yang sebagiannya didatangkan dari luar negeri itu yang saja menarik, pemandangan alam dan taman-taman yang indah tetapi pengunjung juga bisa menambah wawasannya tentang ke-Minangkabauan dengan mengunjungi Cagar Budaya atau Museum. Museum Budaya ini pun masih terletak di kawasan tempat kebun binatang berada. Cukup dengan membayar sebesar Rp. 5.000,- pengunjung dapat dengan leluasa menyaksikan benda-benda budaya yang ada di masa lalu. Seperti, replika rumah gadang, peralatan rumah tangga, kitab-kitab kuno, miniatur pakaian adat minangkabau, peralatan dan perlengkapan pertanian ataupun benda-benda menarik lainnya. Secara keseluruhan jika dibandingkan dengan museum lainnya yang ada di Sumatera Barat, memang benda-benda yang ada di dalamnya tidak selengkap museum yang lain. Seperti Museum Adityawarman di Padang ataupun Minangkabau Village di Padang Panjang. Namun setidaknya Taman Suaka Marga Satwa dan Budaya Kinantan patut mendapatkan tempat dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi jika anda berkunjung ke Sumatera Barat.

Perhentian Selanjutnya
Setelah puas menyaksikan hewan-hewan tersebut dari dekat dan melihat benda-benda seni budaya yang ada, maka persinggahan kami selanjutnya adalah Pasar Tradisional (Pasar Atas) yang berdekatan dengan kawasan Jam Gadang dan Istana Bung Hatta. Selain berbelanja cindera mata dan makanan khas Bukittinggi kami pun beristirahat sejenak dan bersiap-siap untuk melanjutkan misi (berbelanja). Sebelum itu kami pun sempat singgah untuk makan siang dan melaksanakan salat Zuhur di Rumah Makan dan Mesjid terdekat. Alhasil kami pun sukses membawa beberapa pasang sandal, jilbab, baju, celana serta kerupuk dan makanan khas Kota Bukittinggi).

Mencoba bertahan
Meskipun kami sudah menyinggahi dua tempat (Kebun Binatang dan Pasar Tradisional) rupanya rasa penasaran dan antusias mampu mengalahkan penat yang mendera. Tur Lobang Jepang dan Ngarai Sianok menjadi tujuan kami berikutnya. Setelah terlebih dahulu membayar karcis masuk dengan semangat 45 kami pun menjejakkan kaki ke tempat persembunyian para penjajah pada saat zaman perang dahulu. Namun tidak seperti yang kita bayangkan, Lobang Jepang bukan merupakan tempat yang menakutkan dengan ruangan gelap dan sebagainya. Tempat ini ternyata telah dilengkapi dengan lampu-lampu penerangan dan plank atau papan nama (penunjuk arah dan nama tempat) di kiri kanannya. Pada saat masuk dan keluar ruangan (Lobang Jepang) kami sempat menghitung anak-anak tangga yang ada. Dan ternyata hitungan kami pun tidak meleset. Anak tangga yang berfunngsi untuk memudahkan para pengunjung untuk berjalan dan masuk itu berjumlah 131 buah. Kalau masih ragu, silahkan dating dan dhitung kembali, hehehehehe….
Mengunjungi Lobang Jepang tak lengkap rasanya jika tidak singgah ke Ngarai Sianok begitu pun sebaliknya. Maka sebelum menyudahi tur Lobang Jepang kami pun menyempatkan diri untuk berkeliling dan melakukan sesi pemotretan di beberapa sudut di Ngarai Sianok tersebut. Yap, sebagai bukti dan kenang-kenangan ^_^

Sebelum Pulang
Adanya beberapa titik jalan yang rawan ambrol di Bukittinggi – Padang dan menghindari macet, kami pun berinisiatif untuk memutar arah. Jika jalan alternatif yang banyak dilewati oleh pengendara, maka kami lebih memilih melewati Maninjau yang juga merupakan objek wisata unggulan di Sumatera Barat. Dan ini juga kunjungan pertamaku ke sana. Jalan yang berliku dan berkelok dalam beberapa kali kesempatan menjadi penyebab aku enggan untuk ke sana. Tapi hal menarik selalu saja terjadi tanpa kita duga.

Pemandangan yang indah dan rumah-rumah (bagonjong) yang berdiri di kiri kanan jalan membuatku tak henti-hentinya melepaskan pandangan. Udara sejuk yang diam-diam menyentuh wajah dan kulitku menambah kesenangan itu. Bagiku pemandangan yang ada di luar jendela ketika kita melakukan sebuah perjalanan memang selalu “mencipta ragam peristiwa dalam detik yang singkat” dan tentu saja sayang untuk dilewatkan.

Dengan segala keindahan dan hal menyenangkan yang aku temui selama perjalanan singkat itu tentunya aku berharap kami dapat kembali melakukannya ke tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi pastinya. ^_^ (Padang, 2010-2011)

Iklan