pertemuan lalu telah menyisakan hitungan kehilangan yang banyak
puan enggan menyusuri lamanku, kini
entah rupa kesangsian mana yang bersidekap di raganya
setelah janji lalu yang ia ungkap di hadapanku
“nampaknya kita akan menjadi puisi yang saling menunggu
sebab kutahu, langkahmu langkahku dipotong pisau waktu yang tajam
suatu ketika akan kutumpulkan atau kupatahkan saja mata pisau itu,
untukmu!”

aku masih ingat itu
namun sayang kedatangan pun masih berupa rapalan
jangan terlalu lama
sebab pertemuan lalu selalu jelma pertanyaan ganjil
“bagaimana setiap kali kita bercakap
membuatku bersukacita?”
walaupun yang kita utarakan hanya sedikit
namun saat itu selalu menyisakan rindu
barangkali pada akhirnya
kita harus menjadi perahu
dan beranjak dari dermaga

NB: kalimat bercetak miring merupakan puisi Fitra Yanti πŸ™‚

Iklan