Indonesiaku
Indonesiaku

Sekitar tiga bulan lamanya rakyat Indonesia menunggu untuk menentukan siapa pemimpin bangsa. Pemimpin yang akan meneruskan cita-cita segenap bangsa Indonesia dan tumpah darahnya. Dalam masa-masa penantian tersebut banyak hal telah terjadi. Berbeda dengan sebelumnya pesta demokrasi saat ini sedikit berbeda dengan pesta-pesta sebelumnya. Mulai dari semangat, fanatisme hingga spirit yang diusung oleh rakyat. Baik itu sebelum, saat hingga sesudah pesta demokrasi (pemilu). Rakyat mengikuti semua tahapan dengan antusias.

Perbedaan umum yang dirasakan adalah tahun ini peserta pemilu yang ikut tidaklah sebanyak sebelumnya. Partai yang ikut pemilu tahun ini hanya 12 partai. Pemilu awal (legislatif) dimenangi oleh 5 partai, yaitu PDI-Perjuangan, Golkar, Gerindra, PAN dan Partai Demokrat. Ada kejutan dari partai pendatang baru Gerindra yang saat itu tidak terlalu diunggulkan. Namun mampu meraih tiga besar sebagai salah satu partai dengan suara terbanyak. Dari sini aroma pesta demokrasi semakin tajam. Setelah terselenggaranya pemilu legislatif dengan baik dan lancar meskipun tidak dapat dipungkiri animo masyarakat untuk memilih belumlah sebanyak (pilpres) yang sekarang. Namun perhatian masyarakat mulai “terusik” untuk pemilu tahap selanjutnya, yaitu pilpres.

Indonesia Cantik
Indonesia Cantik

Dari partai pemenang pemilu legislatif akhirnya didapatlah dua pasang calon, yaitu Prabowo-Hatta Rajasa dan Jowidodo-JK. Dua pasang calon ini berjuang untuk mendapatkan simpati masyarakat. Berbagai iklan, kampanye terbuka, sosialisasi relawan hingga adakalanya black campaign ikut mewarnai pemilu. Berbagai hal dilakukan untuk menarik simpati rakyat yang notabenenya merupakan para calon pemilih. Adakalanya cara-cara yang dilakukan nyaris “meneror” masyarakat. Karena dimana-mana ada mereka. Mulai dari televisi, radio, media sosial, jalanan, spanduk di rumah-rumah, dsb.Perhatian rakyat dialihkan untuk selalu mengingat, mendengar bahkan berbuat sesuatu untuk para pasangan calon. Tak mengherankan jika kemudian banyak debat-debat yang tak ayal menimbulkan pertengkaran terjadi di media sosial. Etika jurnalistik banyak tergadai dalam berbagai wawancara televisi yang mengusung salah satu partai/ pasangan calon. Hingga nilai-nilai moral dan nilai budaya luput untuk dijadikan pijakan dalam berbagai kampanye. Demi memenangkan pasangan capres tertentu.

Akhirnya hari itu pun tiba, pada tanggal 9 Juli yang lalu, segenap bangsa Indonesia pun memilih pemimpinnya. Mereka (termasuk saya) datang ke TPU untuk menyuarakan isi hati melalui kertas suara. Mencoblos nomor pasangan capres sesuai dengan hati nurani. Tugas selesai. Kini saatnya menunggu siapa yang memperoleh suara terbanyak dan berhak untuk memimpin negeri ini.

Namun intrik kembali terjadi di negeri ini. Beberapa jam usai pilpres masih di hari yang sama, kedua pasang capres-cawapres mengklaim diri sebagai pemenang. Kedua-duanya merasa sudah menjadi Presiden, mereka meluapkan kegembiraan secara nyata melalui media elektronik yang tidak lagi objektif. Hasil Quick count diyakini sebagai hasil dari pilpres yang dilakukan oleh rakyat Indonesia. Apa hendak dikata egoisme pribadi dan kelompokk justru mereka kemukakan tanpa sedikit pun memikirkan kepentingan rakyat yang akan kebingungan dan harus menyaksikan kembali “jagoannya” bertarung di level yang lebih rendah sebagai seorang manusia. Jangan sampai apa yang dilakukan untuk menarik simpati rakyat selama ini menjadi pepesan kosong. Kalah jadi abu menang jadi arang, apalah artinya. Andaikan mereka mau sedikit menahan diri dan menjaga rasa hormat terhadap bangsa, pastilah rakyat akan lebih salut dan bangga. Karena pemimpin yang baik itu adalah mereka yang tahu kapan saat yang tepat untuk bicara dan diam sejenak dan pada akhirnya menjadi pemenang yang sesuangguhnya.***

Salam Cinta tuk Indonesia ^_^

Iklan