Beredarnya video kekerasan yang dilakukan oleh siswa-siswi di salah satu SD di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat menimbulkan keprihatinan di berbagai kalangan masyarakat. Banyak yang menyayangkan kenapa hal yang demikian bisa terjadi. Adu argumen mencari siapa yang salah pun kembali terjadi. Ada yang menganggap bahwa hal ini sebagai bentuk kelalaian pihak sekolah, kesalahan guru yang meninggalkan siswa pada saat jam pelajaran hingga kesalahan yang paling besar justru dilimpahkan kepada si pengunggah (penyebar) video.

Video kekerasan yang berdurasi sekitar 2 menit itu memberikan gambaran kepada kita bahwa kerusakan moral maupun mental tidak saja terjadi pada orang-orang dewasa, namun juga telah menjalar kepada kalangan anak-anak. Anak-anak yang notabenenya merupakan generasi penerus bangsa ini. Kasus kekerasan ini jika kita tilik lebih lanjut tentu akan menimbulkan mata rantai yang panjang jika kita hanya berfokus mencari siapa yang salah. Akan lebih baik bila kita berpikir dan merenung sejenak mengapa hal demikian bisa terjadi. Sejumlah siswa tanpa belas kasihan memukul, menendang dan memperlakukan temannya sendiri dengan tidak manusiawi.
 
Banyak hal yang dapat kita jadikan sebagai alasan mengapa kasus kekerasan yang baru terungkap sejak beberapa pekan terakhir ini bisa terjadi. Pertama, adanya pola asuh atau pola didikan yang kurang menanamkan nilai-nilai kesopanan dan toleransi. Jika dalam keluarga si siswa telah terbiasa untuk bersifat tidak respect ataupun tidak hormat, maka hal ini juga akan terbawa ke lingkungan sekolah. Dalam kasus kekerasan tersebut memperlihatkan realita kepada kita bahwa yang jadi sasaran kekerasan adalah siswi perempuan dan yang menjadi pelaku kekerasan adalah anak laki-laki. Padahal di dalam keseharian kita selalu diajarkan untuk saling menghormati terutama perempuan.

Hal kedua, adanya kelalaian dari guru maupun pihak sekolah untuk mengawasi anak-anak didiknya. Pada dasarnya pengawasan tidak semata-mata dilakukan pada saat guru dan murid dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) saja. Tapi yang perlu disadari adalah pengawasan perlu dilakukan selama siswa – siswi berada dalam lingkungan sekolah. Baik pada saat mereka mengikuti kegiatan PBM (jam pelajaran) maupun tidak. Mulai dari jam masuk kelas hingga pulang sekolah. Selama waktu tersebut si anak merupakan tanggung jawab guru dan pihak sekolah sepenuhnya. Untuk mengingatkan kita kembali, kasus pelecehan seksual yang terjadi di TK JIS beberapa waktu yang lalu merupakan salah satu bentuk kelalaian guru dan pihak sekolah dalam mendampingi anak didiknya.

Kemudian terjadinya kasus kekerasan ini juga dipicu oleh kurangnya pendidikan karakter yang diberikan oleh guru. Selama ini guru kita hanya disibukkan oleh terlaksananya kurikulum pendidikan sebagaimana yang telah ditetapkan kementerian pendidikan. Tanpa mengindahkan pola ajar maupun pola asuh yang tepat dan dapat diterapkan kepada anak-anak (siswa). Bagaimana cara mereka bersikap maupun bersosialisasi dengan teman-teman, beradaptasi, serta menanamkan nilai-nilai luhur, seperti rasa simpati dan empati sejak dini terhadap para siswa tidak mendapat porsi yang cukup. Dalam rekaman video itu dapat kita saksikan bagaimana anak-anak tersebut tanpa belas kasihan “menganiaya” temannya sendiri. Sementara yang lain hanya menonton tanpa melakukan apa-apa. Mereka justru berubah menjadi makhluk-makhluk kecil tanpa raso jo pareso yang selama ini menjadi tabiat orang Minangkabau, yaitu adanya sensitifitas terhadap lingkungan di manapun kita berada.

Alasan ke-4 yang membuat hal miris ini sampai terjadi adalah tidak adanya sikap tegas dan perilaku masa bodoh dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pendidikan. Adanya pernyataan salah seorang oknum dari Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi yang menyatakan kasus tersebut hanya sebagai “keisengan” anak-anak belaka menjadi sesuatu yang ironis bila kita bandingkan dengan apa yang terjadi. Seharusnya pihak Dinas Pendidikan bisa menyampaikan sesuatu yang lebih manusiawi dan bertanggungjawab terkait kasus kekerasan tersebut.

Kalau pukulan, tendangan maupun penganiayaan yang dilakukan oleh bocah kelas 5 SD terhadap teman perempuannya sebagai sesuatu yang biasa, maka kita tinggal menunggu waktu untuk menyaksikan “keisengan” yang lebih brutal yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Dan apakah jika hal demikian terjadi pihak Dinas Pendidikan masih dapat mengatakan hal tersebut sebagai sebuah “keisengan” belaka?

Selanjutnya hal yang paling mendasar yang barangkali bisa mengungkapkan mengapa kasus kekerasan ini bisa terjadi adalah peranan media massa yang tidak dapat memberikan bahan tontonan yang mendidik bagi anak-anak. Sudah bukan menjadi rahasia umum jika berbagai program yang ditayangkan televisi tanah air banyak mengandung unsur kekerasan dan tindakan-tindakan negative lainnya. Kita tahu bahwa anak-anak sangat cepat dalam meniru perilaku dari apa yang ia lihat dan dengar. Tak terkecuali dengan tayangan televisi. Anak-anak dapat menonton tayangan sinetron maupun film-film dengan unsur kekerasan secara leluasa. Tanpa adanya sensor maupun pengawasan orangtua. Maka tak heran jika kemudian mereka dengan gampang dapat meniru semua yang mereka lihat. Entah perilaku itu baik atau buruk.

Alasan-alasan maupun gambaran yang penulis sampaikan di atas hanyalah sebahagian kecil dari penyebab terjadinya kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Masih banyak hal yang dapat melatarbelakangi hal demikian terjadi. Namun, kita jangan melupakan akibat atau dampak dari tindakan kekerasan terhadap si korban sendiri. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siswa/siswi SD terhadap teman sebayanya. Dampak kekerasan fisik maupun psikologis tentunya sangat dirasakan oleh si korban. Karena kejadian ini bisa menimbulkan dampak traumatis yang sulit untuk dilupakan. Oleh sebab itu diperlukan penanganan khusus dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan agar dia dapat melupakan apa yang terjadi dan dapat kembali beraktivitas (sekolah) seperti biasa.

Sedangkan untuk si pelaku kekerasan perlu mendapatkan sanksi yang memberikan efek jera. Jalur perdamaian yang ditempuh antara keluarga memang merupakan langkah yang baik dan perlu diutamakan. Namun selain itu si pelaku juga perlu mendapatkan sanksi yang dapat menimbulkan efek jera tidak hanya bagi dirinya sendiri namun juga bagi teman-temannya yang ikut dalam peristiwa tersebut. Sanksi hukum berdasarkan UU tentunya dapat dilakukan bila hal tersebut diperlukan.

Agar tindak kekerasan ini tidak terulang kembali kita dapat melakukan beberapa hal di antaranya, mewujudkan pola didik maupun pola asuh yang baik bagi anak dalam lingkungan keluarga yang berbasis agama dan adat istiadat, meningkatkan rasa kepedulian dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas yang telah ditetapkan. Tidak hanya mengutamakan pendidikan berdasarkan kurikulum semata, namun sudah menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan pendidikan karakter yang menggabungakan pendidikan intelektual, motorik, emotional secara seimbang. Langkah lain yang dapat kita lakukan adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan ke dalam diri anak-anak melalui tindakan nyata (contoh). Serta membiasakan anak-anak untuk melakukan kegiatan positif yang bermanfaat dalam kesehariannya.

Kita tentunya masih ingat dan paham dengan ungkapan sekolah merupakan rumah ke-2 bagi siapa yang berada di dalamnya. Maka sudah sepatutnya jika guru, pihak sekolah dan kita semua menciptakan sekolah sebagai tempat yang nyaman, aman dan menyenangkan bagi anak-anak. Bukan hanya sebagai tempat menuntut ilmu semata. Namun lebih itu, sekolah haruslah menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan jiwa anak didik. Tentunya kita tidak menginginkan generasi selanjutnya tumbuh dalam fase hidup traumatis yang menyebabkan kenangan pahit seumur hidup. Karena pada dasarnya anak-anak merupakan cerminan dari perkembangan dan peradaban suatu bangsa. (Padang, 15/10/2014)

Iklan