Desember yang bahagia
Desember yang bahagia

Kemarin, aku baru saja melihat keceriaan di matanya. Senyumnya terkembang begitu saja. Ia telah tahu bahwa kami menyiapkan sesuatu di hari istimewa itu. Sebuah kebahagiaan di hari yang menandai kelahirannya, 10 Desember. Kue dan sepasang lilin barangkali menjadi sesuatu yang klise. Namun entah mengapa kami pun telah terbiasa menggenapi usia dengan sepotong kue dan tiupan lilin yang menjadi bentuk syukur atas keberkahan usia dan kesempatan untuk menatap esok. Menjalani hari-hari yang tak ubahnya rekaman video. Ada tawa, duka, senyum, kecewa, amarah maupun hal-hal lain yang datang dan pergi.

Ah, tak ada kata yang pantas untuk disematkan selain, “Terima kasih Tuhan, karena kami masih diberi kesempatan untuk bersama. Memberikan bonus berupa waktu untuk bercengkrama dan memaknai hari-hari dengan orang-orang terkasih. Tiada rasa yang patut untuk dipertahankan, selain syukur dan rasa bahagia di saat yang bersamaan. Tuhan limpahkanlah selalu berkah kehidupan dan rahmat semesta kepada mereka yang kami sayangi. Sehatkan dan panjangkanlah usia mereka. Selamat Ulang Tahun Pa, kami menyayangimu!” ^_^

Iklan