Cari

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

bulan

Februari 2015

Beda Generasi Beda Perjuangan

Tanah Air
Tanah Air
Sebuah perjuangan tidaklah harus menggunakan senjata yang sama. Mungkin kalimat ini setidaknya dapat menjadi pelipur lara bagi generasi muda saat ini.

Generasi yang di era kemerdekaan dan pembangunan bangsa ini serta hidup di tengah kegalauan menghadapi globalisasi yang perkembangannya sangat pesat. Generasi yang pada awalnya diharapkan akan mengantarkan bangsa ini kembali ke masa kejayaan seperti sejarah masa lampau. Namun apa daya generasi muda pada akhirnya justru diibaratkan dan kebanyakan bertindak sebagai penghancur bangsa. Continue reading “Beda Generasi Beda Perjuangan”

Mendadak Editor

Tahun 2015 ini alhamdulillah menjadi tahun pencerahan buat saya. Banyak hal yang akan dan telah saya lakukan. Hari-hari yang saya lewati terasa lebih berenergi daripada tahun sebelumnya. Betapa tidak di tahun ini target-target yang saya tetapkan telah tercapai. Seperti memiliki laptop, bekerja dengan maksimal, menghasilkan karya (alhamdulillah cerpen saya diterbitkan dikoran lokal, singgalang). Saya sangat bersyukur dengan apa yang terjadi di tahun ini.

Baca dan tulis
                          Baca dan tulis

Hidup saya dalam beberapa tahun terakhir memang terasa kurang menyenangkan ada banyak hal yang menjadi pemicunya. Tapi hal itu cukup saya saja yang tahu (off the record). Yang saya lakukan sekarang adalah mencoba memperbaiki keadaan dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya yakin jika saya bisa mengubah atau memperbaiki kehidupan saya, maka hal-hal baik lainnya (insya allah) juga akan datang pada saya. Continue reading “Mendadak Editor”

Belajar Speed Writing, Yuk!

Menulis karya
Menulis karya
Belajar hal baru merupakan sebuah kesempatan yang harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Itulah hal yang saya lakukan saat seorang sahabat memberikan ilmu baru, yaitu bagaimana cara menulis dengan menggunakan teknik Speed Writing. Terus terang saya awalnya tidak tahu banyak tentang cara menulis yang satu ini. Saya berpikir teknik menulis yang saya lakukan selama ini merupakan teknik yang lumrah dan biasa saya pakai, yaitu menulis biasa. Seperti menunggu ide datang lalu menulis. Namun sahabat saya tersebut memberikan pengalaman dan cara belajar (menulis) yang baru.

Teknik menulis dengan metode speed writing ini lebih menekankan kepada unsur kecepatan kita dalam mengetik dan merangkai kata. Namun berbeda dengan metode menulis biasa yang menunggu ide (matang/sudah jadi) terlebih dahulu baru kemudian menulis. Sedangkan speed writing ini yang diutamakan adalah kecepatan dalam mengetik dan mengembangkan ide secara spontan. Continue reading “Belajar Speed Writing, Yuk!”

Puteri Indonesia, Kini dan Nanti

“Tugas akhir menjadi Puteri Indonesia adalah untuk berjuang di ajang Miss Universe.” Pikiran saya tergelitik saat mendengar pernyataan yang disampaikan oleh Elvira Devinamira, Puteri Indonesia 2014 yang baru saja mengakhiri kiprah satu tahunnya dalam ajang kecantikan yang cukup bergengsi di tanah air tersebut, Jum’at (20/2) tadi malam. Pernyataan yang merupakan testimoni dari perjalanannya sebagai Puteri Indonesia 2014 itu menjadi sesuatu yang janggal bagi saya.

Para puteri
Puteri Indonesia dari tahun ke tahun

Puteri Indonesia sebagai sebuah ajang pemilihan kecantikan yang diadakan di tanah air lambat laun kini telah menjadi sebuah standar dalam menilai keberadaan putri atau wanita Indonesia. Kontes yang mengadopsi ajang serupa di benua Amerika, Miss Universe itu telah serta merta menjadi ukuran atau standar yang dapat menggambarkan citra wanita Indonesia di level nasional hingga internasional. Keputrian Anda diragukan hingga Anda mengikuti ajang tersebut. Hal ini terbukti dengan tidak pernah absennya Yayasan Puteri Indonesia mengadakan pemilihan setiap tahunnya dan lalu mengirimkan wakilnya (Pemenang 1) di ajang kecantikan dunia, Miss Universe. Continue reading “Puteri Indonesia, Kini dan Nanti”

Kepada Sahabat

Terkadang kejujuran meskipun pahit lebih baik daripada sikap manis yang ditunjukkan sejak awal namun pada akhirnya menyimpan kekecewaan yang tak terkatakan.Ketika seseorang percaya dan memberikan satu ruang di hatinya untukmu, maka itu merupakan sebuah hal yang harus  dihargai. Jangan pernah menyia-nyiakannya.

Saya tidak tahu mengapa harus merasa kecewa setelah apa yang terjadi. Saya pun tidak bermaksud menjadikannya sebagai sesuatu yang dramatis. Apa yang terjadi membuat saya menjadi banyak belajar dan berkaca. Apa yang kita lakukan dan rasa sebagai sesuatu yang baik, bagi orang lain belum tentu seperti itu. Kita perlu melihat segala sesuatu dari banyak sisi. Tidak mungkin orang akan mengerti apa yang kita maksud jika tidak kita sampaikan. Tidak mungkin orang akan merasakan apa yang kita rasakan jika kita tidak mengizinkan orang lain untuk masuk ke dalam hati kita dan bersimpati untuk itu. Jadi, jujurlah.

kejujuran
kejujuran

Mungkin saya memang salah dalam hal terlalu bersemangat dan lupa mengindahkan rambu-rambu yang ada dalam sebuah persahabatan. Kedekatan bagai dua sisi mata pedang, dapat membawa manfaat ataupun mudharat. Apakah saya harus sepakat bahwa seorang sahabat harus mengerti luar dan dalam diri sahabatnya tanpa diminta? Entahlah. Barangkali saya tidak bisa seperti itu. Saya adalah tipikal orang yang begitu riang apabila teman atau sahabat saya mengatakan segala sesuatu dengan terus terang. Baik itu kegembiraan, kesedihan maupun kekekcewaan. Saya tahu seseorang tidak akan bisa bergembira selamanya, kesedihan akan berganti apabila sudah tiba saatnya ataupun perasaan yang lain akan berganti seiring waktu. Termasuk rasa tidak suka akan sesuatu. Seperti sifat, sikap, cara ataupun mungkin pribadi sang sahabat. Namun semuanya akan bermuara pada satu hal, kejujuran.

Kita tidak pernah tahu apa yang telah terjadi di balik layar. Kita tidak bisa masuk begitu saja ketika sebuah pintu tertutup dan kita perlu meminta izin untuk melongok masuk ke sebuah jendela untuk melihat ada apa di sana. Jangan kita mereka-reka hal yang terjadi dengan sekehendak hati dan mengira kita yang benar. Setiap orang punya kekurangan dan kekurangan yang dimiliki teman atau sahabat kita tersebut harusnya kita perbaiki. Yang saya inginkan hanyalah kejujuran yang murni sejak awal, tanpa menambahkan alasan tertentu sebagai pembenaran. Jangan menunggu hingga segalanya dikira sebagai saat yang tepat. Saat yang tepat bisa jadi menjadi saat yang salah untuk mengungkapkan sebuah kebenaran yang sudah kita simpan sejak lama. Maka, jujurlah sejak awal. Termasuk dalam hal memberi kritik.

Kejujuran adalah hal yang paling baik. Sedangkan kritik yang baik adalah kritik membangun yang disampaikan sejak awal. Baik teman/ sahabat kita menyukainya atau tidak. Tak masalah apakah dia sudah mampu untuk menerimanya atau tidak. Karena pada dasarnya usia dan waktu akan membantu seseorang untuk menerima kritik yang diberikan padanya. (Padang, 15/2/2015)

Atas ↑

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Rara89's Weblog

Just another WordPress.com weblog