Tanah Air
Tanah Air
Sebuah perjuangan tidaklah harus menggunakan senjata yang sama. Mungkin kalimat ini setidaknya dapat menjadi pelipur lara bagi generasi muda saat ini.

Generasi yang di era kemerdekaan dan pembangunan bangsa ini serta hidup di tengah kegalauan menghadapi globalisasi yang perkembangannya sangat pesat. Generasi yang pada awalnya diharapkan akan mengantarkan bangsa ini kembali ke masa kejayaan seperti sejarah masa lampau. Namun apa daya generasi muda pada akhirnya justru diibaratkan dan kebanyakan bertindak sebagai penghancur bangsa.

Kita pun sudah banyak mendengar, membaca dan melihat bagaimana tabiat generasi muda saat ini. Pemberitaan di berbagai media massa dapat mewakili tentang apa yang dilakukan oleh generasi muda yang tumbuh di tengah derasnya arus globalisasi tersebut. Pergaulan bebas, menyukai huru-hara, tidak agamis, berpenampilan asal (urakan), tidak kreatif (bermental plagiator), penakut, tidak optimis cenderung pemalas dan tidak pintar adalah sebagian dari predikat yang mereka sandang. Sederhananya tidak memiliki kepribadian.

Tujuan
Tujuan

Tidak dipungkiri sebagian dari mereka memang terjerumus bahkan terseret arus yang membahayakan itu. Berbagai seminar, workshop hingga pelatihan pun telah diadakan dalam rangka membahas, memperdebatkan apa yang terjadi serta menawarkan solusi-solusi jitu guna menyelamatkan generasi hura-hura ini.

Kita tentunya mengakui kehebatan generasi muda di masa sebelumnya (pra dan pasca kemerdekaan) sebagai generasi tangguh, religius, cakap, kreatif, berani berinovasi, berjiwa patriot dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Suatu ironi yang mengkhawatirkan jika kita bandingkan dengan generasi muda abad 21. Jika kita bertanya apa yang menyebabkan lemahnya kreatifitas, mental, spiritualita, jiwa kepemimpinan dan rasa nasionalisme yang mereka miliki, layaknya kita mempertanyakan perumpamaan keberadaan asap dengan api atau telur dengan ayam. Tak ada yang tahu pasti, semua kemungkinan dapat terjadi.

Memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berubah mungkin bisa menjadi alternatif yang pantas untuk dicoba. Hidup di tengah kondisi dan situasi yang tidak menguntungkan bukanlah suatu hal yang membahagiakan bagi siapa pun. Kalaulah mereka (kita) diberi kesempatan untuk lahir kapan dan di masa yang kita inginkan tentunya segala sesuatunya akan lebih mudah. Menjadi bagian dari generasi gemilang bangsa ini merupakan impian yang sangat didambakan. Tapi yang terjadi tidaklah demikian. Tuhan lebih berkuasa atas segala sesuatunya. Kesempatan untuk merajuk dan menyesali apa dan siapa kita sudah tidak ada gunanya. Perjuangan tetap harus dilanjutkan.

Jika generasi sebelumnya benar-benar berjuang dngan menggunakan berbagai persenjataan, bambu runcing, pedang, pistol hingga meja diplomasi guna merebut kemerdekaan, lain halnya dengan perjuangan yang dilakukan zaman sekarang.

Sejarah
Sejarah

Setelah kemerdekaan berhasil direbut oleh pemuda-pemudi sebelumnya, sekarang menjadi tugas yang tidak mudah untuk mempertahankan dan mengisinya. Perjuangan yang lebih berat harus kita laksanakan. Perjuangan yang membutuhkan persiapan fisik dan mental. Menggunakan akal sebagai senjata, mental baja sebagai tameng yang tangguh serta agaman sebagai ruh. Globalisasi tak ayal menjadi musuh atau lawan yang tak kalah sepadan dibanding dengan penjajah (Belanda) yang menguasai kita selama 350 tahun.

Perjuangan itu dapat berupa kesanggupan kita (generasi muda) dalam mempertahankan identitas diri yang dimiliki. Menjadi religius tanpa membiarkan diri terhukum oleh sikap fanatisme kelompok, aliran atau organisasi tertentu. Bertindak dan berperilaku secara murni (hati nurani) serta mampu meredam hal-hal negatif yang ada di sekitar kita. Melihat dan bercermin kepada karakter generasi sebelumnya bisa menjadi solusi.

Bahagia
Bahagia

Setiap generasi yang hadir tentunya menghadapi tantangan atau persoalan yang berbeda yang pada akhirnya melahirkan bentuk dan cara perjuangan yang berbeda pula. Generasi muda seperti sudah terlalu banyak dikritik dan dicemooh. Cukuplah melihat seberapa tangguh dan sebesar apa keberanian yang dimiliki generasi muda untuk berjuang dan bertahan dalam hari-hari yang kian tak menentu ini. Hingga dapat meninggalkan warisan yang sepadan lebih berharga untuk generasi sesudahnya pula. (Repro tulisanku, Singgalang 23 November 2008)

Iklan