“Tugas akhir menjadi Puteri Indonesia adalah untuk berjuang di ajang Miss Universe.” Pikiran saya tergelitik saat mendengar pernyataan yang disampaikan oleh Elvira Devinamira, Puteri Indonesia 2014 yang baru saja mengakhiri kiprah satu tahunnya dalam ajang kecantikan yang cukup bergengsi di tanah air tersebut, Jum’at (20/2) tadi malam. Pernyataan yang merupakan testimoni dari perjalanannya sebagai Puteri Indonesia 2014 itu menjadi sesuatu yang janggal bagi saya.

Para puteri
Puteri Indonesia dari tahun ke tahun

Puteri Indonesia sebagai sebuah ajang pemilihan kecantikan yang diadakan di tanah air lambat laun kini telah menjadi sebuah standar dalam menilai keberadaan putri atau wanita Indonesia. Kontes yang mengadopsi ajang serupa di benua Amerika, Miss Universe itu telah serta merta menjadi ukuran atau standar yang dapat menggambarkan citra wanita Indonesia di level nasional hingga internasional. Keputrian Anda diragukan hingga Anda mengikuti ajang tersebut. Hal ini terbukti dengan tidak pernah absennya Yayasan Puteri Indonesia mengadakan pemilihan setiap tahunnya dan lalu mengirimkan wakilnya (Pemenang 1) di ajang kecantikan dunia, Miss Universe.

Setiap tahun persyaratan yang diminta bagi kontestan yang mendambakan mahkota kecantikan yang mengusung tagline 3 B (Brain, Beauty, Behaviour) semakin mendekati level untuk dapat menjadi Miss Universe. Yang dinilai bukan hanya isi kepala namun adalah kecantikan dan tubuh. Sejauh ini bukankah persyaratan setiap ajang kecantikan masih meminta ukuran dada, pinggul, berat badan, dsb. Jika kita simpulkan untuk dapat menjadi seorang Puteri kita harus memenuhi kriteria yang dibuat oleh orang lain (perusahaan kecantikan, sponsor/iklan atau lembaga-lembaga lain yang ikut serta). Bukan lagi penilaian real yang kita miliki sebagai seorang pribadi.

Puteri yang terpilih nantinya mendapatkan berbagai hadiah dan diminta untuk melaksanakan tugas “keputrian” yang telah diamanahkan padanya. Hal ini menjadi ironi, karena masih ada anggapan bahwa untuk berbuat baik/ menjalankan tugas kemanusiaan  kita haruslah memiliki tinggi sekian meter dan berat badan sekian kg dan kita harus memenangkan ajang kecantikan terlebih dahulu. Pandangan ini sebenarnya menyulitkan langkah kita sebagai seorang wanita Indonesia. Saya rasa untuk melakukan tugas kemanusiaan atau berempati terhadap kesulitan orang lain bukanlah tubuh semampai atau tubuh aduhai yang kita perlukan ataupun dengan mengikuti ajang tertentu kita baru bisa berbuat baik. Tapi yang diperlukan hanyalah otak yang berpikir dan hati yang merasa, cukup itu saja. Bagaimana wajah ataupun bentuk tubuh tidaklah menjadi soal.

Kita menemukan banyak contoh puteri/ wanita Indonesia yang mampu melakukan sesuatu demi bangsanya dan dapat dibanggakan. Sebut saja saja Rohana Kudus, Cut Nyak Dien, Martina Christina Tiahahu ataupun Siti Walidah. Dari masa sekarang ada Butet Manurung, Najwa Shihab, dan sebagainya

Saya tidak ingin menyudutkan ataupun menyinggung ajang putri-putrian yang ada di tanah air. Namun yang saya lakukan adalah mempertanyakan kembali apa yang menjadi pedoman hidup kita hari ini. Apakah selamanya kita akan berpatokan pada kehidupan barat yang selama ini memang bebas nilai dan jauh dari unsur agamis yang menjadi dasar kita sesuai sila 1 Pancasila. Barangkali sudah saatnya kita mengevaluasi kembali apa yang selama ini kita lakukan. Apakah kita perlu untuk mengubah kepribadian dan nilai yang kita miliki hanya demi memenangkan sebuah ajang kecantikan yang pada akhirnya hanya memberikan kita kesempatan selama satu tahun untuk berbuat sesuatu dan selanjutnya dilupakan sejarah dan anak cucu? Hmm…kita patut berpikir ulang. (Padang, 21-2-2015)

Iklan