Lembaran ilmu
Lembaran ilmu

Saran Seorang Pengarang begitulah judul cerita pendek (cerpen) karya Sori Siregar yang dimuat di Kompas Minggu awal Maret yang lalu. Judul yang mampu menggelitik rasa penasaran pembaca, khususnya saya. Cerpen ini sendiri menceritakan tentang dua tokoh Ikra dan Radit. Diceritakan Ikra merupakan seorang penulis senior yang berupaya untuk memberikan semangat kepada penulis muda (pemula), Radit yang karyanya baru saja dimuat sebuah media melalui cara yang blak-blakan.

Cerpen ini bagi saya terkesan unik, karena secara sepintas saat kita membaca akan terasa seperti membaca sebuah artikel. Karena dari awal hingga akhir cerita, Ikra memberikan wejangan bagaimana cara menulis (fiksi/sastra) yang baik dengan kalimat yang terus terang atau to the point. Berikut beberapa kalimat dari cerpen (ada yang saya ubah untuk kebutuhan tulisan ini) yang dapat dijadikan pedoman buat siapa saja yang saat ini sedang berjuang untuk menjadi seorang penulis.

Teknik menulis karya : 1. Kalau menulis jangan meliuk-liuk. Langsung saja, lugas! 2. Gunakanlah kalimat-kalimat pendek. Karena ia jauh lebih kuat. Bertele-tele dalam menulis merupakan penyakit, dan jangan menggunakan metafora yang terlalu banyak. 3. Jika kau mengarang janganlah semata-mata menggantungkan diri pada imajinasi betapa hebat dan liar pun imajinasimu itu. 4. Banyaklah membaca karya pengarang dunia 5. Jadikanlah mengarang itu seperti berolahraga. Berolahraga untuk sehat bukan untuk menjadi juara. 6. Karya yang baik tidak harus karya perintis atau pelopor.

Selain menggambarkan bagaimana teknik-teknik mengarang secara tidak langsung, Sori Siregar juga tak lupa menyisipkan kritik sosial tentang perkembangan sastra di tanah air. Berikut merupakan beberapa petikan menarik yang perlu untuk dicatat : “Bacalah dan bacalah. Gunakan bahasa Inggrismu yang lumayan baik itu untuk membaca karya-karya dunia. Jangan jadi pengarang seperti “katak di bawah tempurung” yang hanya membaca karya-karya kawan sendiri.”

Baca dan tulislah!
Baca dan tulislah!

“Banyak pengarang muda yang juga mati muda. Maksudnya, setelah merasa tidak berhasil menjadi tokoh penting dalam sastra Indonesia, mereka berhenti menulis. Bisa juga kekeringan ide, karena malas membaca karya sastra yang baik dan sibuk dengan karyanya sendiri. Kalau kamu mau menjadi pengarang, jadilah pengarang seumur hidup, bukan karena terlalu banyak waktu luang, iseng-iseng atau mengisi waktu sambil menunggu lamaran kerja yang kamu kirimkan. Jangan pula kamu berhenti mengarang karena kamu menjadi birokrat yang memegang jabatan penting.”

“Pengarang kau harus sabar. Jika mengirimkan karangan ke sebuah media cetak kau harus siap untuk “menunggu Godot” (merujuk Waiting for Godot). Artinya, tidak ada kepastian karya itu akan dimuat. Sebelum ada kepastian karyamu ditolak atau dimuat, jangan coba-coba mengirimkan karanganmu itu kepada media cetak yang lain.”

“Karya sastra adalah anak tiri yang terpinggirkan.”

Saya merasa beruntung bisa membaca cerpen ini karena semua hal tentang kepenulisan/kepengarangan yang selama ini menjadi pertanyaan di dalam kepala saya mendapatkan jawaban yang komplit hanya melalui membaca cerpen ini. Untuk itu saya pun berharap teman-teman merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. Karena seperti kita tahu Sori Siregar merupakan salah satu penulis senior yang memiliki banyak karya. Maka sebuah hal yang membahagiakan jika ia berkenan memberikan tipsnya dalam mengarang lewat cerpen ini. Sebuah cerpen yang ringkas, padat dan patut untuk disimak.

Yuk Mengarang!

Buat yang ingin baca cerpen lengkapnya, ini linknya. Tq. https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=685867424855511&id=360719200703670&substory_index=

Iklan