1930000_1112853459238_7398269_nKetika ide-ide datang menyergap, maka kamu tidak ada pilihan selain mengikuti apa yang dia mau. Setidaknya itulah yang aku rasakan selama beberapa hari terakhir. Ide-ide terus datang di kepala. Seperti sebuah kemacetan, ide-ide itu padat merayap. Maka yang dapat kamu lakukan adalah berupaya untuk mengurai kemacetan itu.

Ide-ide yang datang itu pada mulanya aku biarkan begitu saja. Tidak aku apa-apakan. Aku hanya mendengarkan, menyimak ataupun meredamnya agar tidak mengusikku. Kesibukan kantor, kelelahan dan rasa penat yang mendera tubuhku menjadi alasan bagiku untuk membiarkan ide-ide itu menggerayangi kepalaku. Aku benar-benar tidak sanggup, ketika di kantor aku sudah berkutat sekian jam dengan komputer dan pada saat aku tiba di rumah aku juga harus kembali membuka laptop untuk menumpahkan atau menempatkan ide-ide tersebut di wadahnya. Aku tidak sanggup dan tidak mau! Namun rupanya aku tidak dapat berbuat seperti yang aku mau. Ide-ide itu terus merecoki kepalaku. Seperti kutu di kepala yang akan terasa gatal bila tidak digaruk, maka ide melakukan hal yang sama pada diriku.

Hari ini aku merasa gelisah dan kepalaku terasa sakit. Aku terus memikirkan berbagai hal yang silih berganti mendatangi pikiranku. Mereka benar-benar tidak sabar. Aku tidak tahu jika ide tidak disalurkan ia akan berubah menjadi “penyakit”. Dan ketika kamu sudah sakit maka kamu akan perlu obat. Tentu saja sebagai seorang yang sadar aku tidak mau sakit. Istilah lebih baik mencegah daripada mengobati juga berlaku pada hal ini. Sebagai bentuk pencegahannya aku melakukan apa yang ia mau.

62997_1626884949704_2608261_n

Sepulang dari kantor, setelah berbenah aku langsung menyalakan laptop. Menulis satu demi satu ide-ide yang bermunculan bak cendawan di musim penghujan itu. Sebenarnya aku masih merasa tidak enak (di kepala), karena sepertinya ia meminta agar ide-ide itu ditumpahkan semuanya. Namun karena keterbatasan yang aku punya, aku belum bisa menuangkan semuanya. Apa yang aku tulis hari ini merupakan permulaan dari caraku untuk menghentikan “gatal” di kepala dan melegakan atau melapangkan pikiranku.

Aku sudah pernah merasakan apa dampaknya ketika ide-ide tidak dituangkan. Rasanya sungguh tidak menyenangkan. Sebenarnya apa yang dilakukan ide-ide itu di satu sisi baik bagi diriku. Karena ia akan mengasah kreativitasku dan meningkatkan kepedulian pada sekitar. Karena dari apa yang kita lihat, dengar, rasakan dan lakukan dapat mendatangkan ide atau sesuatu yang bermanfaat, khususnya di bidang yang kita gemari atau kuasai. Seperti aku yang mempunyai hobi menulis (kreatif).

Tapi yang mengherankan aku merasa ide-ide itu tidak datang tepat waktu. Terkadang aku merasa ia benar-benar mengganggu. Aku merasa tidak lagi pernah benar-benar santai menjalani hari-hariku. Sebagian keluarga maupun lingkungan tempat aku berada mengatakan aku terlalu tegang / kaku, terlalu serius, kurang relaks. Kadangkala aku ingin menangis. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali santai dalam menghadapi hari-hari yang aku jalani.

69151_1645379812064_5819112_n

Aku pun di sisi lain tidak ingin menjadi orang yang tidak bersyukur. Karena aku tahu segala ide itu datangnya dari Allah SWT, Yang Maha dalam segalanya. Aku seharusnya bersyukur!

Aku berharap, Dia tidak marah padaku. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Karena di satu sisi aku harus mengerjakan apa yang menjadi tugasku (bekerja) dan di lain sisi aku juga memerlukan istirahat sejenak. Aku tidak ingin Tuhan tidak menyayangiku, karena tanpa kusadari hal inilah adalah salah satu bentuk kasih sayangnya. Maka aku harus berupaya untuk mensyukuri dan melakukan sesuatu untuk menghargai apa yang Ia beri. Aku tidak bisa bersikap acuh tak acuh, atau tidak peduli dan menggerutu ketika di waktu lain “kepala kosong” tanpa satu pun ide. Aku harus “bergairah!” Aku harus berbuat sesuatu agar apa yang ada di kepalaku ini tidak menjadi sia-sia dan aku menjadi orang yang merugi. Aku tidak mau seperti itu. Insya Allah, mulai saat ini aku akan berbuat yang terbaik. Karena aku menghargai keberadaan-Nya dan bersyukur atas apa yang telah Ia beri dan yang paling utama aku ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi semesta saat ini, maupun di masa mendatang. Amin. ^_^ (Padang, 25/3/2015)

Iklan