Assalamu’alaikum…

Masih dalam nuansa bulan Syawal saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, Minal Aidin wa Faidzin buat teman-teman yang telah berkenan singgah di blog ini. ^_^

Selamat Hari Raya Idul Fitri dari kami semua ^_^
Selamat Hari Raya Idul Fitri dari kami semua ^_^

Segala yang datang dan pergi 

Selama beberapa waktu terakhir banyak hal yang telah terjadi. Baik kegembiraan, kesedihan, kecemasan maupun kekecewaan. Semuanya masih dibalut dalam nuansa Syawal yang memberikan banyak makna. Tak terduga apa yang Allah berikan kepada kita semua. Ada kemenangan, sukacita mulanya. Lalu segala ujian itu pun kembali tiba. Apakah kita mampu untuk meneruka ladang makna yang telah disiapkannya melalui kejadian ataupun peristiwa yang barangkali sempat membuat kita goyah dan merasa sebagai orang yang paling merana. Seperti, ujian kekosongan saat keluarga yang dulunya lengkap dengan kehadiran orang-orang yang kita sayangi, namun karena suatu alasan pada kemeriahan Syawal ini dia tidak lagi hadir. Ketidakhadiran tidak berarti kita meluputkan ia dalam segenap harapan maupun doa akan kebaikan-kebaikan yang ingin diraih. Allah selalu mempunyai maksud, yang kita perlu yakini hanyalah dibalik kesedihan, Allah telah menyiapkan sukacita yang tentunya akan mengingatkan kita akan nikmatnya kebahagiaan yang telah diberikan. Jangan luputkan kenangan, dan jangan tenggelam dalam kesedihan. Selalu sediakan waktu untuk mendekap segala yang baik dari apa yang pernah kita alami atau rasakan bersama orang-orang terkasih.

Segala yang datang dan pergi

Segala yang datang dan pergi

Selain ketiadaan orang terkasih, Allah juga akan menguji kita dengan hal-hal yang tidak pernah kita duga. Seperti nikmat sehat yang kita rasakan tiba-tiba berganti jadi sakit. Namun jangan pernah berpikir bahwa itu adalah sebuah azab atau hal negatif lainnya. Sesungguhnya Allah juga memberikan “sakit” sebagai sebuah nikmat. Karena Allah sesungguhnya sedang memberikan nikmatnya yang lain. Betapa ketika kita sehat kita disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan yang membuat kita lupa untuk meperhatikan kebutuhan diri. Betapa ketika kita sehat kita jarang melakukan interaksi dengan orang-orang terkasih karena kesibukkan yang menyita waktu dan tenaga. Betapa kita luput untuk memperhatikan keadaan di sekeliling dan menyadari bahwa waktu merupakan sesuatu yang berharga. Dengan nikmat “sakit” tadi Allah memberikan kesempatan dan menyadarkan kepada kita bahwa waktu yang kita miliki sesuatu yang berharga. Bercengkrama dan memperhatikan keadaan satu sama lain merupakan wadah untuk saling berbagi dan mengingatkan kita bahwa silaturrahim merupakan bagian dari tahap penyembuhan itu sendiri. Ketika sakit kita semakin mendekatkan diri dengan Allah. Kita dapat menjadi hambanya yang bertawakkal. Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali menyeimbangkan kehidupan duniawi dan akhirat. Subhanallah…

Di antara kemarau, tetap saja Allah akan menurunkan nikmatnya berupa hujan yang menyejukkan. Kita tidak akan pernah tahu rupa seperti apa yang akan diberikan Tuhan dalam kehidupan kita. Namun yang perlu kita ingat dan yang paling penting adalah jangan pernah berputus asa. Nikmat Allah bisa berupa apa saja, meskipun dalam kacamata kita adakalanya kita menganggap itu bukan nikmat.

Masih dalam suasana kemenangan ini saya hanya ingin menyampaikan kepada siapa saja (termasuk saya) yang merasa dalam “pederitaan”, jangan berhenti untuk mengharapkan kebaikan. Dan jangan berhenti untuk mengingat Allah. Kecintaan itu sesungguhnya tidak pernah ada batasnya, jika kita sungguh-sungguh mencintai. Meskipun itu sakit, kehilangan maupun hal-hal yang membuat kita merasa tidak sanggup untuk bertahan, itu tidak akan menjadi alasan bagi kita untuk melepaskan sesuatu yang pada dasarnya akan memberikan rasa yang utuh pada diri kita.

Cinta yang baik adalah cinta yang mampu menghadapi kesengsaraan. Karena Cinta tidak mengenal hari yang baik dan hari yang buruk. (Padang, 30/7/2015)     

Iklan