“Panggil saja, Bet,” begitu dirinya memperkenalkan diri dalam perjumpaan pertama kami. Kami berada dalam satu kelas yang sama, I 2 di MAN 2 Padang. Dia duduk di belakangku. Perjumpaan pertama ini masih membekas dibenakku. Aku tidak pernah menyangka jika kebersamaan kami ini akan bertahan lama. Pertemanan yang awalnya biasa saja berubah menjadi persahabatan yang sangat dekat.

Panggil saja, Bet
Panggil saja, Bet

Ya, persahabatan kami tidak berhenti hanya di ruang kelas saja. Kami berada dalam satu ekskul yang sama, yaitu drum band. Pertemuan kami yang hampir tiap hari terus menemukan ritmenya. Dalam hal pelajaran kami memang mempunyai kelebihan masing-masing. Bet atau yang bernama lengkap Betria Sari itu unggul dalam hal pelajaran hitung-menghitung (matematika, akuntansi dan ekonomi) sedangkan aku lebih menyenangi pelajaran bahasa. Tak jarang kami “bekerjasama” dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Bersama beberapa teman lain, kami pun tergabung dalam satu geng.

Banyak hal yang kami lakukan bersama. Kami sering bercanda, bercerita, menghabiskan waktu bersama. Tak jarang kami melakukan kenakalan-kenakalan khas remaja. Seperti, cabut ketika kegiatan forum annisa, mencontek ataupun kegiatan lain yang menambah kedekatan kami. Masa-masa SMA selama tiga tahun kami habiskan dengan membuat begitu banyak hal yang pada akhirnya menjadi kenangan yang tak dapat kami lupakan.

Persahabatan dari SMA
Persahabatan dari SMA

Meskipun memiliki 12 orang teman lainnya (8 perempuan dan 4 laki-laki), namun aku merasa lebih dekat dengan Bet. Sifatnya yang periang, humoris dan dewasa membuatku dapat lebih leluasa untuk berbagi tentang apa yang aku pikir, rasakan ataupun ingin aku lakukan. Banyak hal yang aku bagi dengan dirinya. Rahasia-rahasia yang tidak aku ceritakan kepada teman lainnya, justru disimpan oleh Bet. Umurnya yang satu tahun lebih tua dariku membuatku nyaman untuk menumpahkan berbagai hal padanya. Hal ini berlangsung tidak hanya ketika aku bersekolah di MAN, namun juga hingga aku kuliah, tamat dan bekerja.

Alhamdulillah, persahabatan kami bertahan hingga lebih dari satu dekade. Tepatnya 13 tahun kami lewati dengan segala suka dan duka. Banyak peristiwa yang telah kami alami bersama, banyak hal yang telah kami lakukan dan banyak keinginan yang telah kami bagi dan wujudkan bersama. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk mengenal dan bersahabat dengan dirinya. Karena mencari dan menemukan seorang sahabat yang sehati bukanlah perkara mudah. Aku merasa sangat beruntung karena pernah merasakan persahabatan sejati itu.

Selalu bersama
Selalu bersama

Sebuah persahabatan yang hanya dipisahkan oleh kematian. Ya, kepergian Bet pada Senin, 3 Agustus lalu memang membuatku merasa begitu kehilangan. Meskipun kepergian Bet pernah terbersit dalam benakku karena kondisinya yang begitu lemah setelah melahirkan putra pertamanya membuatku gusar dan memikirkan hal yang tidak-tidak. Namun Berita kepergiannya yang aku terima pukul 02.30 WIB dini hari menjadikan firasat yang aku rasakan seminggu sebelum kepergiannya menjadi kenyataan. Kesedihan tidak dapat dielakkan. Dalam keheningan malam, Bet menyusul putranya yang meninggal tiga hari setelah dilahirkan ke haribaan Yang Maha Kuasa.

Aku tak dapat menahan air mata yang tumpah itu. Semua kenangan yang pernah kami alami menderas di pikiranku. Tak ada yang dapat aku lakukan, aku hanya bisa berdoa. Barangkali Allah memang menggariskan perpisahan kami seperti ini, aku tidak bisa mendampinginya. Karena saat berita kepergian Bet aku terima, aku sedang berada di Makassar. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kepergiannya.

Kebersamaan kami yang terakhir
Kebersamaan kami yang terakhir

Sebelum keberangkatanku ke Makassar aku sudah merasakan hal yang tidak enak. Aku merasa kami tidak akan bertemu lagi. Namun, aku terus menghilangkan kegusaranku dengan memikirkan kesembuhan Bet. Aku pun bersyukur saat itu aku mengikuti perasaanku. Aku mengunjungi Bet beberapa kali saat dirawat di RS. Dalam pertemuan terakhir kami di Rumah Sakit M. Jamil, Padang aku masih sempat menggenggam tangannya, menyentuh pipinya, mendengarkan curahan hatinya (seputar sakit yang ia alami), maupun mendapatkan perhatiannya akan persoalan yang sedang aku hadapi.

Bet dan aku
Bet dan aku

Au tidak banyak berkata-kata, aku hanya berkata, “Cepat sembuh, Bet.” “Ya, setelah ini Bet akan sehat. Dan kita akan jalan-jalan,” begitu ucapannya saat menanggapi perkataanku. Dia tersenyum dan aku tersenyum. Perasaanku agak tenang. Namun rupanya itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dan menjadi salam perpisahan kami untuk selama-lamanya.

Aku tidak tahu sampai kapan perasaan sedih ini akan menghinggapi diriku dan teman-teman yang lain. Kami hanya bisa berdoa dan mengharapkan yang terbaik untuk sahabat kami. Kehidupan Bet membawa banyak kenangan bagi kami. Segala tingkah polahnya akan menjadi cerita yang akan kami bagi saat bersama. Perjalanan hidupnya telah mencapai tempat yang dituju.

Innalillahi wa innailaihi rajiun…

Selamat jalan sahabat kami tercinta Betria Sari.
Doa kami selalu menyertaimu…

Iklan