SDC15690.JPG

Rasanya baru kemarin aku duduk di deretan kursi kayu dengan cat kusam di ruangan yang asing itu. Duduk dengan pikiran tak menentu. Gelisah. Menunggu giliran. Beberapa mahasiswa yang sebaya denganku tampak lega setelah menghadapi tes yang membuat hatiku tidak karuan. Perasaan bahagia bercampur cemas, penasaran, tidak sabar dan entah apalagi menjadi satu. Ya, hari itu aku akan menjalani sebuah sesi wawancara yang di kemudian hari menjadi hal berkesan yang akan aku ingat sepanjang hidup.

Saat itu aku mengikuti tes wawancara untuk penerimaan anggota baru LPM Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Tahun 2005. Bermodalkan rasa penasaran dan mencoba peruntungan, aku, seorang mahasiswa semester I memberanikan diri untuk mendaftar sebagai salah satu peserta seleksi. Tahap demi tahap aku lewati dengan antusias. Aku pun tidak mengerti mengapa aku begitu tertarik untuk bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa yang ada di kampusku itu. Namun aku tetap melanjutkan tekadku untuk meneruskan “perjuangan”.

Tibalah giliranku untuk diwawancara. Dengan ilmu yang pas-pasan dan berbekal pengalaman pernah menulis majalah dinding di sekolah menengah pertama aku menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan dengan penuh percaya diri. Aku tidak tahu apakah jawabanku cukup bagus atau tidak. Ah, tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting aku sudah melewati tes. Urusan beres. Aku lega. Tapi itu tidak berlangsung lama.

Layaknya sebuah kompetisi yang menempatkan seseorang pada posisi kalah menang, aku pun merasa penasaran, apakah aku diterima atau tidak. Apakah aku menang (lulus) atau sebaliknya? Hari demi hari aku lewati dengan penantian. Aku tidak tahu apakah sesuatu yang telah aku niatkan sebelum masuk di kampus islami itu akan menjadi kenyataan atau tidak. Aku berniat untuk menyalurkan minat dan bakat yang aku miliki, yaitu tulis menulis. Sebuah kegiatan yang telah aku senangi sedari SD, tentu saja dengan bermodalkan Diari layaknya kegemaran anak-anak seusiaku. 

Hari yang aku nantikan pun tiba. Sepulang kuliah bersama beberapa orang teman aku bergegas menuju redaksi LPM Suara Kampus. Sebuah kertas dengan sejumlah nama rupanya telah terpampang di pintu masuk. Aku menelusuri nama itu satu per satu. Yap, aku menemukan namaku. Bersama dengan Ratna Yulia, Pepi Rosanti, Roma Gusti, Arteta, Sari dan nama-nama lainnya. Aku ingat, saat itu ada 30 orang yang diterima untuk menjadi anggota baru LPM Suara Kampus yang baru saja bangkit dari vakumnya.Syukur dan bahagia tak terkira aku tujukan pada Yang Maha Kuasa karena telah mengabulkan permintaanku. Aku lulus!

Selanjutnya hari-hariku dipenuhi dengan kesibukan sebagai anggota baru setelah terlebih dahulu mengikuti Diklatsar Jurnalistik selama beberapa hari. Banyak hal yang aku dapatkan setelah bergabung sebagai anggota LPM Suara Kampus selama 4 tahun dan beberapa kali mendapat kesempatan sebagai pengurus. Selain pengetahuan tentang dunia jurnalistik, teman maupun pengalaman baru yang aku dapatkan.

Persahabatan serta kekeluargaan yang menyenangkan menjadi salah satu hal terbaik yang aku dapatkan saat bergabung di salah satu LPM tertua ini. Betapa tidak, aku mendapatkan uni, abang yang sangat baik dan “ngemong”. Saat masih sebagai “anak baru” aku ingat bagaimana Bang Ervin Hasibuan dan Bang Seno yang dengan sabar mengajariku menggunakan laptop untuk pertama kalinya. Bang Iswanto JA yang selalu mendorong untuk mengirim karyaku ke media massa yang baru di tahun 2008 bisa aku laksanakan. Rasanya sangat menyenangkan dan sungguh luar biasa ketika tulisan yang kita hasilkan terpampang di surat kabar untuk pertama kali . Jangan malas dan jangan mengeluh! Atau keberanian dan sikap cuek Bang Endar Rambe saat menjajakan tabloid Suara Kampus yang baru terbit “fresh from the oven” kepada dosen maupun teman-teman mahasiswa dari kelas ke kelas. Dan mendapatkan uang tak seberapa sebagai ganti cetak ataupun untuk melepaskan dahaga. Kemudian sikap-sikap konyol dan pecicilan anak Tebo, Bang Islahuddin. Belum lagi jika mengingat sikap lembut dan penuh kasih sayang dari bidadari-bidadari Suara Kampus, Kak Nanik, Kak El dan Kak Bidah. Tiga serangkai yang menjadi kakak asuh bagi adik-adik baru. Semuanya sama menyenangkannya.

Kemudian pengalaman-pengalaman seru saat melakukan tugas jurnalistik ala wartawan kampus juga punya tempat sendiri di ruang kenangan. Mulai dari tidur sampai jam dua pagi hanya untuk mengerjakan beberapa paragraf feature yang ditugaskan oleh senior, penatnya mengikuti rapat redaksi yang saban sore dilakukan, sulitnya mencari narasumber, menyusun pertanyaan untuk wawancara tentu saja dengan resep 5 W + 1 H, pembagian tugas dan persiapan penerbitan menjadi saat yang menegangkan sekaligus menyenangkan, merasakan bagaimana tidak enaknya ketika karya tidak dimuat atau betapa girangnya saat satu dua kolom tulisan muncul di halaman tabloid, pertemuan dengan senior, pengasuh dan pengarah Suara Kampus seperti Kang Ipul Sheiful Yazan, Pak Yulizal Yunus, Bang Acil, Pak Suardi, Pak Fachrur Rasyid, Shofwan Karim, Emma Yohana, Abdullah Khusairi, Zelfeni Wimra yang dengan kerendahan hati berbagi ilmu berbagi cerita dan pengalaman yang sangat bermanfaat.

Kebersamaan dengan LPM Suara Kampus juga berlanjut dengan regenerasi. Alhamdulillah setelah menimba ilmu, saat berbagi ilmu pun datang. Berbagi ilmu berbagi kesenangan dengan teman sebaya maupun adik-adik yang bergabung kemudian menjadi agenda penting yang harus dilakukan. Andri El Faruqi, Miftahul Hidayati, Adil Wandi, Eka Yulina, Syofia Fitri, Angel, Syukri, Herman, Debi Virnando, Ilham Mustafa, Rara Handayani, Yeni Purnama Sari, Rahma  Seswita, Deddy Arsya, Alizar Tanjung, Arya Ghuna Putra, Andika, Ababil Gufron, Zulfikar Efendi hingga generasi sekarang Yogi Eka Sahputra, Taufik Siddiq, dkk merupakan teman-teman maupun adik-adik yang meneruskan estafet Suara Kampus selanjutnya.

Pengalaman bergabung, melewati suka duka, tumbuh dan berkembang di “rumah” ini menjadi sesuatu yang tak ternilai. Barangkali tidak banyak yang dapat diberikan, belum semua yang dapat diceritakan ataupun belum semuanya dapat diwujudkan dan meskipun jalan takdir yang ada hanya mengizinkan beberapa saat saja kepadaku untuk menjadi wartawan, namun itu sudah lebih dari cukup. Untuk semua ilmu, kebahagiaan, kesenangan dan kenangan semuanya mendapatkan tempat. Semuanya menjadi nikmat tak terkira.

Terima kasih LPM Suara Kampus, Selamat Hari Jadi ke-37 (29 November 1978 – 29 November 2015).

Semoga senantiasa menjadi rumah bagi segala yang berharga dan tempat berkumpul semua generasi. Serta menjadi gerbang untuk setiap prestasi. Terima kasih, selalu, doa yang terbaik untukmu. 

Salam,

Ade Faulina ^_^

(Padang, 28 November 2015)

 

 

Iklan