old-clock-chain-hd-wallpaper

Tahun 2016 baru berjalan dua pekan. Namun tanpa diduga Januari yang hangat kali ini menyisakan berita duka, menyelipkan kesedihan dalam rutinitas yang kita kira akan biasa-biasa saja. Tak seorangpun berharap dia atau siapapun yang berada di sekelilingnya akan ditimpa kesedihan. Tapi setiap kesedihan atau sesuatu yang kita namakan musibah barangkali menjadi pengingat bahwa tidak selamanya kehidupan ini bahagia. Tidak selamanya kehidupan akan berjalan sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Ada kalanya kesedihan menjelma pelengkap rasa yang bersemayam di dada. Dan membuktikan bahwa yang Maha Kuasa itu benar-benar ada.

Ya, musibah yang datang tiba-tiba itu memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi ia merupakan obat paling ampuh untuk menyadarkan kita agar tidak berjalan dengan congkak di muka bumi ini. Kita tidak lebih dari butiran debu yang bisa terbang atau hilang kapan saja. Yang kita perlukan hanyalah alarm bahwa kehidupan selalu berputar. Tidak ada yang tahu nasib seperti apa yang akan menimpa kita esok hari, yang kita perlukan hanyalah persiapan.

Dua kepergian yang datang di Januari ini menjadi sesuatu yang menyentil alam sadarku. Tuhan Yang Maha Esa dapat dengan mudah mengambil nyawa makhlukNya.Siapapun ia ketika saat itu tiba, maka tidak ada yang dapat mencegah ataupun  merencanakan kematian seperti apa yang akan ia hadapi. Semua sudah ditetapkan menurut kehendak-Nya.

Kepergian dua sosok yang telah aku kenal sejak beberapa tahun terakhir, yaitu Dosenku, Dr. Alqanithah Pohan dan seniorku di Suara Kampus, Sutan Zaili Asril (mantan CEO Padang Ekspres) merupakan sesuatu yang mengejutkan. Aku sama sekali tidak menyangka jika kedua sosok ini pergi begitu cepat. Kedua sosok ini merupakan panutan yang telah menebar kebaikan dengan cara yang berbeda dalam kehidupanku. Segala yang terekam dalam ingatan dan pikiran ini semoga akan menjadi kenangan yang indah. Pelajaran yang berharga dan motivasi yang mencerahkan.

Tidak ada yang mengharapkan kesedihan. Terlebih ketika pergantian waktu masih menyisakan ribuan harapan dan mimpi akan kehidupan seperti yang kerap kita dengungkan.

Pada akhirnya duka merupakan rahasia. Tangis adalah pelipur lara. Lantunan doa ialah sebaik-baik pengharapan akan kekuasaan-Nya.

Selamat jalan Ibu Eka dan Pak Zaili.

Terima kasih untuk kebaikan yang telah ditabur.

Salam

 

 

Iklan