Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu (6/2) saya berkesempatan menjadi salah seorang pembicara dalam acara Bedah Buku Hati Prajurit di Negeri Tanpa Hati bertempat di Rest and Reading Room Toko Buku Sari Anggrek, Padang. Alhamdulillah, ini merupakan kesempatan kedua saya berbicara tentang karya sastra di depan umum. Dan seperti biasanya rasanya tetap menyenangkan. ^_^

12640343_10205791392684488_6115524580970377659_o

Buku yang saya ulas bersama tiga narasumber (pembaca inti) lainnya, yaitu Mahatma Muhammad (dramawan), Denni Meilizon (penyair/cerpenis), dan Ria Febrina (penulis) merupakan antologi puisi yang ditulis oleh ayah dan anak, Zaidin Bakry dan Sastri Bakry. Meskipun menggeluti dua profesi yang berbeda, Zaidin Bakry merupakan seorang prajurit dan Sastri Bakry berkecimpung di dunia birokrasi kedua sosok tersebut tetap menjadikan puisi sebagai suatu hal yang penting dalam hidup mereka. Hal ini terbukti dari hadirnya buku tersebut ke hadapan pembaca. Sebuah arsip berharga bagi dunia sastra Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Karena tidak banyak sosok bertalian darah yang sama-sama berkecimpung di ranah sastra dan kemudian menghasilkan karya.

Dalam acara yang juga dihadiri oleh sang penulis, Sastri Bakry, para narasumber membagi pandangannya tentang buku yang diterbitkan oleh FAM Publishing ini. Mereka pun mengulas sesuai dengan latar belakang dan sudut pandang masing-masing. Ada yang mengulas dari sisi tipologi, teoritis, latar belakang hingga proses penciptaan puisi-puisi itu sendiri.

Bedah Buku yang dimoderatori oleh Alizar Tanjung ini tidak saja mengupas buku dari sisi narasumber, tapi juga dilengkapi dengan sesi diskusi serta penyerahan kenang-kenangan berupa buku kepada peserta yang hadir. Dalam kesempatan ini turut hadir anggota Komunitas Seni Nan Tumpah, Miko Kamal, Maya Lestari Gf, Guru dan siswa SMA 1 Padang, dan SMA Pertiwi 2 Padang.

Pada sesi akhir, tak lupa moderator meminta penulis (Sastri Bakry) untuk berbagi kisah ataupun memberikan tanggapannya terhadap acara yang disponsori oleh salah satu toko buku di Kota Padang itu. Setelah lebih kurang dua jam membedah buku setebal 182 halaman ini, acara pun ditutup dengan foto bersama. (Padang, 13/2/2016)

 

PS: *Semoga ini bukan menjadi yang terakhir bagi saya, mudah-mudahan ada kesempatan serupa di masa mendatang. Kalau ada sumur di ladang bolehlah kita menumpang mandi. Kalau ada kesempatan lain bolehlah kita menjadi pembicara lagi, hehehehe… (ngarep) ^_^

Iklan