Cccw9-CVIAE97Gl

Inteligensi Embun Pagi (IEP), demikian judul episode ke-6 (terakhir) dari rangkaian novel best seller Supernova karya Dewi “Dee” Lestari. Sebuah novel epik yang menjadi pamungkas dari petualangan tokoh Ferre, Bodhi, Elektra, Zarah, dan Alfa yang mencoba menyingkap tabir misteri yang ada di dalam diri mereka. Novel-novel yang hadir sebelumnya, Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, Partikel, Gelombang telah lebih dulu menyapa pembaca.

Masing-masing episode (1-5) hadir dengan keseruan yang tentu saja membuat pembaca terpikat. Betapa tidak meski mengusung tema “spiritualitas” yang relatif serius, novel ini mampu menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikiran penulis (barangkali juga kita), menjadi suatu hal yang ringan dan terasa dekat. Tentang diri, semesta dan penciptaannya dihadirkan dalam dialog-dialog khas yang mudah diingat. Tak terkecuali dalam episode terakhir, IEP.

Sebuah hal yang menyenangkan ketika novel yang rilis  pada 26 Februari 2016 ini menyajikan klimaks dari pencarian jati diri masing-masing tokoh. Bagaimana para tokoh utama akhirnya bertemu dan bersama-sama memecahkan teka-teki serta bahu membahu untuk mencapai tujuan mereka merupakan sesuatu yang menarik untuk diikuti (untuk review atau resensinya mungkin akan saya tulis di kesempatan lain). Satu hal yang menarik dari seri Supernova adalah kemampuannya untuk membuat pembaca “ketagihan” untuk terus membaca hingga lembaran terakhir. Saya sendiri sebagai pembaca awam merasakan betul hal tersebut.

Sejak membaca episode Supernova KPBJ saya menjadi “ketagihan” untuk menikmati novel yang pertama kali rilis pada 2001 ini. Saya sendiri baru mulai membaca buku ini pada 2014 silam. Dan seperti yang juga dirasakan pencinta Supernova lainnya ada magnet yang terus menarik kita untuk membaca kelanjutan episode demi episode. Ya, bagi saya pribadi, Supernova mampu memberikan suatu keasyikan yang (sepertinya) belum saya rasakan pada buku-buku lain. Dalam arti buku ini mampu membuat saya terikat untuk terus menikmatinya hingga mencari tahu setiap perkembangannya. Bahkan yang menakjubkan karena buku ini ada beberapa rekor pribadi yang tercipta karenanya.

Sang penulis, Dewi “Dee” Lestari dalam sejumlah wawancara yang saya baca menyatakan bahwa buku ini merupakan sebuah pencapaian mengagumkan yang terjadi pada diriya. Baik secara teknis maupun pengalaman batin yang ia peroleh. Buku ini total ia selesaikan dalam waktu 1 tahun, memuat lebih dari 100.000 kata, terdapat 99 keping (bab) yang secara tidak sengaja ia maklumatkan pada dirinya sendiri (dan itu tercapai!), PO buku terbanyak dari semua karya yang ia tulis. Buku ini dicetak sebanyak 13.000 hanya untuk PO. Sedangkan untuk cetakan di toko buku hingga saat ini sudah tersedia sebanyak 50.000 buku (Hitam Putih Trans 7 (9/3)).

Begitupula pencapaian yang saya peroleh sebagai pembaca. Saya tidak ingin menyama-nyamakan  diri (perbandingannya bagai bumi dan langit) dengan seorang Dee. Tulisan ini hanya menjadi salah satu bentuk luapan kegembiraan saya karena berhasil menamatkan novel serial ini. Rekor pribadi yang saya ciptakan, yaitu buku IEP ini menjadi buku pertama yang saya pesan secara pre order di toko buku online bukukita.com. Meskipun buku ini saya terima tiga hari setelah tanggal rilis, namun tidak mengurangi keinginan saya untuk membaca dan menyelesaikannya. Yap, buku dengan tebal 705 halaman ini berhasil saya tamatkan dalam waktu satu minggu saja. Sesuatu yang membanggakan karena IEP merupakan buku dengan halaman terbanyak yang pernah saya baca. Biasanya tebal buku yang saya baca berkisar 300-400 halaman dan itupun saya tamatkan dalam hitungan bulan, hehehe… (waktu membaca saya sesuai mood).  Saya senang karena IEP dapat memotong siklus itu. Buku ini juga menjadi koleksi pertama saya dari genre novel yang langsung ditandatangani oleh penulisnya (melalui PO). Bahkan saya menyaksikan peluncuran buku ini pada 28 Februari lalu via livestreaming website indonesiakaya.com yang juga untuk pertama kalinya saya lakukan.

Dee dan karya yang dihasilkannya merupakan suatu kesatuan yang mustahil untuk dipisahkan. Buku-buku yang ia hasilkan entah bagaimana selalu mampu menampilkan kehangatan, ketulusan, keluasan dalam memaknai hidup serta kelihaiannya dalam menggugah diri para pembaca. Namun satu hal yang selalu saya rasakan dari setiap karyanya yang saya baca adalah selalu ada rasa cinta dan kesungguhan di tiap kata yang ia tulis.  Dan saya sebagai pembaca selalu senang akan hal itu. Semoga kelak saya bisa meniru dan melakukan hal yang serupa. Saya rasa “Dee” adalah jelmaan “peretas puncak”, Permata yang menunggu untuk kelahiran dan mengubah segala. *** ^_^  (Padang, 10/3/2016) 

 

 

 

Iklan