(Cerpen ini dimuat di Koran Harian Singgalang, Minggu/ 4 Juni 2017)

Aku tidak tahu apakah perjalanan kali ini akan mendekatkan ataukah semakin menjauhkanku darimu. Aku kembali ke kota ini dengan segala keberanian yang kupunya. Kota di mana segala harapan dan mimpi luruh bersama cahaya. Ada rasa ragu di dalam hatiku mulanya. Namun surat terakhir yang kau kirimkan saat itu menyadarkanku bahwa kita memiliki perasaan yang kekal. Jangan kau tanya bagaimana aku bisa meyakini hal itu. Entah kau menyadarinya atau tidak, beberapa kalimat yang kau tulis saat itu mampu membangunkanku untuk keluar dari bilik sunyi yang telah membuat kita kian berjarak. Aku masih ingat kalimat-kalimat itu.

18836691_10203100285465701_3915953842133543442_o
Foto oleh : Yeni Purnama Sari 

“Ketika kau tahu debar itu masih ada, maka pada saat yang sama rasa itu juga akanberdetak pada diriku. Hanya kita yang mampu merasa dan menyelamatkan diri dari sunyi.”  

Salam hangat,

Athalia

Maaf karena aku membiarkan rasa ragu melumatku hidup-hidup. Keraguan yang membuatmu tidak lagi mempercayai siapa-siapa dan melarikan diri ke kota yang semakin menjadikanmu sepi. Jakarta. Tempat di mana kini aku berada. Aku berdiri di depan rumah kayu bercat putih dengan halaman yang cukup luas. Dari alamat yang aku dapatkan, rumah ini benar milikmu. Rumah ini persis seperti yang kau inginkan. Mungil dan memiliki halaman yang cukup bagimu untuk menanaminya dengan tumbuhan yang kau suka. Bagian terbaik dari rumah ini adalah sebatang pohon bunga tanjung yang kau tanam di pintu masuk. Kau sangat menyukai wangi bunga dengan kelopak serupa bunga matahari itu namun dalam ukuran yang lebih kecil dan pohon ini selalu mengingatkan akan asal usulmu.

Di halaman tanpa pagar ini kau juga menanaminya dengan berbagai jenis bunga. Seperti mawar merah, krisan, melati ataupun lavender. Tampaknya kota ini tidak cukup berhasil menghilangkan kecintaanmu akan tumbuh-tumbuhan.

Barangkali aku salah membiarkanmu pergi. Tidak mengejarmu ataupun mengirimi surat-surat seperti permintaanku sejak kita berhubungan. Aku ingin bahagia itu datang dengan tenang. Tidak seperti ombak yang memecah batu karang. Bagiku rasa ini adalah angin. Aku tidak ingin mengumbar rasa seperti mereka. Kau tahu bukan, aku tidak menyukainya. Banyak hal buruk yang sudah terjadi akibat membiarkan rasa di dada buncah ke mana-mana. “Tidak ada lagi ruang pribadi. Segala sesuatu yang berasal dari dalam seharusnya disampaikan dengan cara yang indah, termasuk masalah rasa. Jika kita melakukan hal yang sama, maka kita akan mudah untuk saling melupakan,” aku beralasan saat itu padamu. Kau cemberut tidak terima.

Kau menginginkan hubungan seperti orang lain. Pertemuan rutin malam minggu, telepon yang berdering setiap saat, saling mengirim foto dengan berbagai gaya, ataupun ungkapan kata sayang yang bisa kau minta kapan saja. Aku tidak mengada-ada, namun keinginanku hanya satu. Ketika salah satu dari kita tiada, akan ada hal-hal yang mengingatkan bahwa kita pernah bersama dan melakukan hal-hal menyenangkan di masa lalu, meski tidak setiap waktu.

Barangkali tidak semua hal, tapi satu dua hal yang benar-benar akan membawa segala ingatan kepada peristiwa-peristiwa kecil yang pernah kita lihat, dengar, rasakan ataupun lakukan bersama. Setidaknya itu yang coba aku lakukan hari ini. Aku membawa tanaman yang kau sukai. Tanaman yang pernah kau minta kepadaku sebagai hadiah ulang tahun ke duapuluh duamu. Namun, sayang hadiah itu tidak pernah sampai. Karena seminggu sebelum hari jadimu, kau justru meninggalkan desa, perbukitan dan juga aku. Entah, aku harus berterima kasih untuk segala kenangan ataukah memaksamu minta maaf untuk kesendirianku selama lima tahun ini. Tapi aku berharap, aku tidak terlambat.

Dari tadi yang kulakukan hanya mengenangmu, merangkai cerita tentang kau dan aku. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah lima jam aku menunggu. Malam kian pekat, udara yang menyergap tubuhku terasa semakin asing. Mungkin kau terlambat pulang kali ini. Tanaman pemanggil kupu-kupu ini, aku tinggalkan di terasmu. Jika aku beruntung, sesudah ini barangkali akan ada pertemuan. Jika tidak, maka aku harus melepasmu. Benar-benar merelakan segala yang ada. “Sampai jumpa, manis. Tidak akan ada lagi tangis. Kau tahu aku begitu menyukaimu.

*

Cahaya matahari yang masuk melalui kisi-kisi jendela kamarku, selalu terasa menyenangkan seperti biasanya. Pagi ini aku pikir akan terasa sama. Aku akan melakukan ritual pagiku, menikmati secangkir teh sambil membaca novel kesukaanku. Namun tidak, dari balik tirai jendela sejak beberapa menit yang lalu pandanganku tertuju pada sebuah benda asing. Asing karena aku tidak tahu siapa yang meletakkannya di situ. Awalnya aku pikir, seseorang telah salah meletakkan tanaman ini di rumahku. Akan tetapi sesuatu dari dalam diriku memaksa untuk mendekat dan melihatnya.

“Buddleja Asiatica.” Ah, aku kembali menggumamkan kata-kata itu. Kata-kata yang sejak lima tahun lalu sudah berhenti aku ucapkan ataupun pikirkan. Tepatnya sejak aku meninggalkan masa lalu. Saat aku ingin membebaskan diri dari segala kenangan dan melepaskan diri dari segala ikatan. Antara kau dan aku. Athalia dan Arki. Entah kenapa meski hari-hariku diisi dengan rutinitas kantor yang tiada henti, kunjungan ke berbagai daerah ataupun jadwal rapat yang tidak memberikan ruang untuk memikirkanmu, tetap saja kau selalu ada di dalam ingatanku. Terlebih hari ini. Ketika melihat benda yang kukira asing, namun ternyata sangat kukenali. Tanaman pemanggil kupu-kupu, kau lebih suka menyebutnya tanaman harum manis. Berbeda denganku yang lebih menyukai istilah latin untuk tanaman ini. Tanaman dengan bau harum yang selalu mengundang kupu-kupu untuk datang. Kau tahu, sekarang, segala ingatan itu kembali terbentang.

Entah kenapa rasa bersalah itu kembali muncul di hatiku. Pilihanku untuk meninggalkanmu dan mencoba peruntungan lain di dalam hidupku justru menjadi bumerang yang membuatku selalu murung. Meskipun aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan dan berkecukupan seperti impian yang diam-diam aku miliki selama ini. Tapi itu tidak lagi terasa menyenangkan. Saat ini aku bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan di ibukota. Kota yang tidak akan pernah kau kunjungi.  Kau membencinya karena kau percaya seorang perempuan yang merantau ke ibukota tanpa ijazah sarjana maka tidak mungkin akan berhasil jika ia tidak mengikuti jalan yang salah, berbuat menyimpang. Kau menyebut nama-nama gadis di desa kita yang terjebak dan terjerumus menjadi wanita simpanan ataupun penjaja seks di jalanan gelap ibukota. Tak terkecuali, Risya, adikmu yang sangat kau sayangi.

Aku mengerti jika kau akan salah paham saat di desa beredar kabar bahwa aku dibawa oleh lelaki tua dengan kekayaan berlimpah yang berasal dari ibukota. Tapi entah kau percaya atau tidak jalan yang dimiliki oleh setiap orang berbeda. Termasuk dalam hal peruntungan. Lelaki tua itu adalah pamanku yang berasal dari pihak ayah yang memang sudah sekian lama tidak pulang. Kedatangannya saat itu adalah untuk menjenguk kampung yang telah lama ia tinggalkan. Melepaskan kerinduan kepada ayahku, adik satu-satunya yang ia miliki. Kau tahu kunjungan itu merupakan yang pertama dan terakhir baginya. Dua bulan setelah pertemuan mereka, pamanku meninggal dunia karena serangan jantung. Keberangkatanku ke Jakarta seminggu sebelum hari ulang tahunku adalah untuk melepas kepergiannya. Sejak itu memang aku tidak pernah kembali ke desa, perbukitan dan kau.

Sebelum kepergiannya ternyata paman sudah menyiapkan sebuah pekerjaan untukku di kantornya. Memang bukan pekerjaan seperti yang aku khayalkan, tapi karena pekerjaan itu aku menjadi sadar, tidak ada hal menyenangkan di atas dunia ini yang bisa kita dapatkan tanpa perjuangan.

Mula-mula aku bekerja sebagai petugas fotokopi di kantor paman. Aku melakukannya dengan sungguh-sungguh, meskipun kadang-kadang pekerjaanku dinilai belum cukup baik atau seperti yang orang-orang inginkan. Tapi aku selalu belajar. Apa yang aku lakukan tidak sia-sia, mereka mulai mempercayaiku untuk menangani administrasi seperti surat masuk dan keluar. Pekerjaan yang cukup rapi dan dibantu dengan sifat telaten membuat pimpinan perusahaan tertarik menjadikanku sebagai sekretaris yang mengurusi semua agenda ataupun surat-surat yang ditujukan padanya.

Mungkin ceritaku terlalu panjang, tapi begitulah bagaimana semua bermula dan kau tahu aku begitu sedih saat kau mengirimiku surat yang menyatakan hubungan kita bukanlah sesuatu yang harus dilanjutkan. Kalimat itu, yang dengan marah kau tulis di surat terakhirmu membuatku mengubur semua kenangan dan harapan yang telah aku bangun.

“Kau tahu kebahagiaan tidak bisa terwujud dengan setengah hati. Jika hanya ada satu pihak yang berharap, barangkali itu saatnya untuk melupakan. Dan kepergianmu merupakan pertanda bahwa aku harus mengalihkan semua rasa.”

 “Aku harap kau bahagia!”

 Dariku,

 Arki

 

Sebelum surat itu aku terima, aku telah menyiapkan rencana untuk kembali dan mengajakmu memulai kehidupan di sini bersamaku. Aku mencoba untuk membuatmu memaaafkan ibukota. Kau tahu, ibukota tidak selamanya gelap. Di sini, masih tersisa langit biru untuk kau tulisi ataupun cahaya matahari yang menyemangati agar kita bergegas untuk meraih segala mimpi. Tapi mungkin saja ini sudah terlambat dan tidak ada kesempatan buatku. Meskipun jujur kuakui, semua surat-surat yang kau kirim, masih aku simpan. Kau ingat kata-kata yang kau tuliskan saat itu, yang membuatku memahami bahwa segalanya patut dikenang dan kita tidak perlu terjebak menjadi sama dan melakukan sesuatu yang juga orang lain lakukan, “Kau tahu yang aku sesalkan dari semua peralatan canggih yang ada saat ini, dunia menjadi sama sekali tidak romantis.” Karenanya, setelah itu aku selalu menyimpan surat-suratmu, termasuk surat yang membuatku patah hati itu.

Sepertinya aku harus memberikan tanaman ini pada orang lain. Agar aku tidak lagi mengingat kau atau apapun yang berada di baliknya. Namun, langkahku terhenti. Gaun pastel yang aku kenakan tersangkut di salah satu ranting tanaman dengan daun hijau dan bunga putih kecil-kecil yang mengerucut di bagian ujung serupa payung yang khas itu. Secarik kertas merah jambu menarik perhatianku. Aku membukanya. Napasku tercekat, tubuhku terasa kaku.

“Penantian ini barangkali akan menemu akhir. Entah itu sebuah bahagia ataukah duka. Apapun itu aku akan menerimanya. Namun, aku berharap tidak kembali ke ruang sunyi itu. Kau tahu aku selalu dapat mengingat satu hal yang menjadikan lintasan peristiwa itu bermain di depan mataku. Dan kita kembali bersama. Aku tak tahu apakah ini cukup untuk membuatmu tersenyum dan kembali padaku.”

 Dariku yang pernah luput memahamimu,

 Arki

 

Aku melipat kembali kertas kecil itu. Waktu tampaknya tidak pernah benar-benar mampu untuk menghapus segala kenangan dari ingatan. Tak juga tentang kau. Seekor kupu-kupu dengan sayap putih hinggap di ujung gaunku. Aku ragu, namun dari mataku yang mulai berkaca-kaca aku dapat melihat beberapa ekor kupu-kupu mulai mengerubungi bunga pada tanaman di dekat aku berdiri. Tanaman yang aku minta sebagai hadiah ulang tahunku, darimu. Kini, aku pun tahu ke mana harus pergi. (Padang, 2016)

 

***

Iklan