Cari

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Kategori

Puisi-Ku

Sesudah Keajaiban Kata

Ketika itu

Tiga inti di dalam kepala

Satu rasa merasuk di dada

Jadilah ia keajaiban kata

Para pemuda berpadu dalam doa

Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa

Wujud cita dan cinta

Bagi tanah tumpah darah

Lanjutkan membaca “Sesudah Keajaiban Kata” โ†’

Suara Alam

Ketika bulan tidak terbaca

Cuaca tidak bisa ditebak

dan kita yang tidak bisa berkata-kata

Maka perhatikanlah alam

Desau angin, kelopak bunga bermekaran,

sisa hujan semalam di daun-daun hijau

adalah segala jawab dalam diri

Pada jiwa

Pada ย raga

Menghitung hari

(Padang, 28/5/2016)

CgG6z3eW4AEYGWe

 

 

Mimpi Kecil

Selalu saja ada yang datang diam-diam di kepala ini

Membuat rusuh

Menjadi gaduh

Aku tidak lagi ingin minum pil-pil itu

tuk redam semua demonstrasi ini

yang tiba-tiba muncul

ingin diperlakukan istimewa

sambil coba menarik perhatian

Mimpi-mimpi kecil makin bertaburan di kepala

tanpa kutahu sediakah waktu membiarkanku laju

dan jadikanku mampu

(Padang, 12/1/2016)

Cerita dalam Sebuah Bus Tua

Aku duduk di dalam bus tua
Menjulurkan tangan
Menangkap angin

Aku duduk di dalam bus tua
Meraih cahaya
Mencari-cari ingatan

Aku duduk di dalam bus tua
Menyandarkan diri pada nasib
Senantiasa mengukir mimpi

Kini, aku telah sampai di pintu yang dituju
Meninggalkan jejak sambil berlalu
Melangkah tanpa ragu
(Padang, 7/3/2015)

Ikhtiar Waktu

waktu tiada menunjukkan apa-apa
selain kepasrahan pada kejadian-kejadian
yang membentuk berbagai rupa
ibarar kepulangan senja dengan segenap sukacita
sambil membawa kotak kenangan
ada yang pantas diterbangkan ke udara
atau dibenamkan ke dasar laut saja
tiap-tiap kita selalu menyisakan sedikit ingatan
tentang segala yang terjadi dan
mengira waktu selalu mengejar
saat membuka mata hingga
kedua kelopak itu kembali bertaut
(Padang, 18/9/2014)

Rumah yang Berdetak

141117_desacantik2

waktu adalah seumpama rumah yang berdetak
ia merupa kejadian demi kejadian
yang berjatuhan dalam tanggal-tanggal
serupa ingatan-ingatan kabut di hati
adakalanya kita menjadi terisak sedih
adakalanya kita tertawa bahagia
adakalanya kita kecewa
ya, semuanya selalu menjadi sesuatu
yang mencerahkan jiwa
ataupun menjadi sunyi yang menentramkan
waktu adalah seumpama rumah yang berdetak
yang menciptakan rupa dan warna
sesaat setelah bunga-bunga bermekaran di halaman

Trolly

Pagi

Seperti biasa hari ini dimulai
dengan pukul delapan yang melewati hitungan
kunci yang ketinggalan entah dimana
guguran daun-daun yang menyemaki mata
bunyi klakson kendaraan yang tiada henti
dan langkah tergesa dari ibu-ibu
pemilik kedai yang mencari gula
“Stok gula sudah kami tambah,
harganya pun sudah diturunkan
sayang kami masih belum menjual
bawang dan sayuran, harap bersabar!”
ujar pemilik toko yang
kian hari bertambah necis
Lanjutkan membaca “Trolly” โ†’

Sepasang Rindu Yang Aneh

pertemuan lalu telah menyisakan hitungan kehilangan yang banyak
puan enggan menyusuri lamanku, kini
entah rupa kesangsian mana yang bersidekap di raganya
setelah janji lalu yang ia ungkap di hadapanku
“nampaknya kita akan menjadi puisi yang saling menunggu
sebab kutahu, langkahmu langkahku dipotong pisau waktu yang tajam
suatu ketika akan kutumpulkan atau kupatahkan saja mata pisau itu,
untukmu!”

aku masih ingat itu
namun sayang kedatangan pun masih berupa rapalan
jangan terlalu lama
sebab pertemuan lalu selalu jelma pertanyaan ganjil
“bagaimana setiap kali kita bercakap
membuatku bersukacita?”
walaupun yang kita utarakan hanya sedikit
namun saat itu selalu menyisakan rindu
barangkali pada akhirnya
kita harus menjadi perahu
dan beranjak dari dermaga

NB: kalimat bercetak miring merupakan puisi Fitra Yanti ๐Ÿ™‚

Puisi-puisi Baru

HUJAN DAN LAGU-LAGU TUA

Seperti kata ibu
Hujan dan lagu-lagu tua
Adalah perantara kita dan Tuhan
Tersebab doa-doa terlalu keras
Sedangkan para malaikat
Telah menghilang
Dalam amin yang panjang

Padang, 4/5/2012
Lanjutkan membaca “Puisi-puisi Baru” โ†’

Atas ↑

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Rara89's Weblog

Just another WordPress.com weblog