Cari

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Kategori

Resensi

Sebuah Bukti Kemahiran Berkata-kata

34745951._UY439_SS439_

(Tulisan ini telah dimuat di Koran Harian Singgalang, Minggu/ 18 Juni 2017)

Kata-kata mutiara atau yang kerap disebut quotes, dewasa ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah buku fiksi. Baik kumpulan cerpen maupun novel. Selain tokoh utama, alur/plot serta cerita yang ditawarkan, quotes juga menjadi sesuatu yang menarik minat pembaca. Tak mengherankan bila seorang penulis bersusah payah untuk meracik, menyunting kata-kata ataupun kalimat dalam setiap paragraf menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dibaca. Bukan hanya sekedar menarik untuk dibaca, namun rentetan kalimat indah itu mampu membuat pembaca terus mengingatnya bahkan tak jarang quotes di buku fiksi bisa merangsang indera pembaca untuk ikut merasakan apa yang dialami oleh para tokoh di dalam cerita tersebut.

Continue reading “Sebuah Bukti Kemahiran Berkata-kata”

Oprah Winfrey dan Hal-hal yang Ia Ketahui Pasti

(Tulisan (resensi) ini dimuat di Harian Singgalang, Minggu/ 28 Mei 2017)

Pengalaman selalu mengajarkan kita sesuatu. Bahkan ia mengandung makna yang membuat kita berpikir tujuan penciptaan diri kita di muka bumi ini. Namun kadangkala banyak dari kita justru melewatkan momen untuk “berpikir” tadi. Salah satu buku yang memiliki esensi serupa adalah buku “What I Know For Sure” atau Yang Aku Tahu dengan Pasti. Sebuah buku yang ditulis oleh ratu talkshow Amerika, Oprah Winfrey. Di dalam buku setebal 189 halaman ini Oprah mengungkapkan momen-momen yang memberikan kesadaran ataupun membuat dirinya menemukan sesuatu yang kerap disebutnya sebagai “AHA, moment” dalam kehidupan yang dijalaninya lebih dari setengah abad.

Buku Oprah

Continue reading “Oprah Winfrey dan Hal-hal yang Ia Ketahui Pasti”

“Sabtu Bersama Bapak” Sajian Istimewa Seorang Adhitya Mulya

d7604a092fabb111342f4246c5fb94ad

Good book always makes me crazy (in positive way). ^_^

Yap, membaca buku selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan. Terlebih ketika kita menemukan buku dengan isi dan penyajian yang menarik. Seperti hari ini, saat saya menamatkan buku Sabtu Bersama Bapak yang ditulis oleh Adhitya Mulya. Awalnya buku ini direkomendasikan oleh Ketua (Bos) saya di kantor. Dia mengatakan kalau buku ini bagus dan ceritanya mengharukan. Alhasil saya pun tertarik dan penasaran ingin merasakan pengalaman yang sama.

Continue reading ““Sabtu Bersama Bapak” Sajian Istimewa Seorang Adhitya Mulya”

Buku Bagus: Langkah Sejuta Suluh

imageMembaca biografi tokoh merupakan salah satu hal yang saya gemari. Entah kenapa saya selalu merasa senang saat dapat mengetahui jalan hidup maupun apa yang terjadi dalam hidup seseorang. Beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan membaca buku Langkah Sejuta Suluh yang ditulis oleh Clara Ng, buku ini menceritakan sepak terjang seorang Merry Riana dalam membangun bisnisnya di Singapura.

Sebelumnya saya juga sudah membaca buku Merry Riana, Mimpi Sejuta Dolar karangan Alberthiene Endah. Awalnya saya mengira kisah yang diceritakan di buku yang kedua (Langkah Sejuta Suluh) akan sama saja. Namun ternyata buku kedua ini lebih menarik jika dibandingkan dengan buku pertama. Walaupun memang dalam buku kedua ini masih mengisahkan bagaimana jatuh bangun seorang Merry Riana dalam meraih mimpinya.

Cerita dibuat dengan detail yang baik. Penceritaan di dalam buku pun terasa lebih sastra. Hal ini lumrah mengingat si penulis (Clara Ng) merupakan seorang penulis (cerpenis/novelis) yang mumpuni di tanah air. Dengan bahasa yang teratur dan lembut satu per satu si penulis menceritakan kehidupan Merry Riana. Jika di buku pertama penulis menceritakan Merry Riana dengan kehidupan kampus, dan upaya untuk meraih pekerjaan/mimpinya. Maka di buku kedua ini diceritakan bagaimana Merry Riana membangun bisnisnya dari nol.

Continue reading “Buku Bagus: Langkah Sejuta Suluh”

Belahan Jiwa, Memoar Kasih Sayang Sang Wartawan Tiga Zaman

Bukan hal yang gampang menghadirkan catatan-catatan masa silam ke dalam satu bentuk tulisan yang enak dibaca. Terlebih jika catatan-catatan tersebut merupakan “sejarah” yang bersifat pribadi, seperti perjalanan cinta seseorang. Namun tidak demikian halnya dengan tokoh nasional satu ini. Rosihan Anwar, tokoh pers nasional dalam memoar kisah kasihnya dengan sang istri, Zuraida Sanawi menampilkan hal yang sebaliknya. Dalam memoar dengan judul Belahan Jiwa – Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar dan Zurraida Sanawi, wartawan tiga zaman ini secara runut menceritakan awal pertemuan, pertunangan, pernikahan hingga suka duka kehidupan berumah tangga dengan sang istri secara jujur, ringkas, sederhana dan bermakna.

Memoar yang dimulai dengan bab sejarah keluarga Sanawi ini dengan bahasa yang ringan, lugas dan sistematis menuturkan perjalanan cinta yang unik dua anak manusia ini. Kisah kasih yang bermula dari cinlok (cinta lokasi) itu pun rupanya bukan sekedar cinta monyet. Pertemuan pertama Rosihan yang dipanggil Tjian dengan Ida (Zurraida) terjadi di di ruang redaksi, kantor surat kabar Asia Raja awal April 1943 pada masa pendudukan Jepang. Saat itu Rosihan bertindak sebagai redaktur luar negeri, sedangkan Ida, seorang gadis Betawi merupakan satu di antara dua gadis yang berada di sekretariat. Perkenalan pun berlanjut dengan saling tegur sapa. Rosihan disebut Tuwan, dan Rosihan memanggil Ida dengan sebutan Saudara yang seharusnya Juffrouw. Continue reading “Belahan Jiwa, Memoar Kasih Sayang Sang Wartawan Tiga Zaman”

“Pengantin Subuh”,

Sebuah Persembahan 10 Tahun pertama (1999-2009)

zelfeni Kampung halaman dengan segala rupa persoalan yang membelenggunya memang akan menyajikan banyak kegundahan, kegelisahan, kegamangan serta harapan-harapan yang patut untuk diceritakan, apabila mungkin juga menghadirkan sebuah solusi. Begitu pula halnya dengan ranah Minang. Ranah yang sejak dahulu di antara gelimang kekayaan dan pesona alam yang dimilikinya secara diam-diam telah banyak melahirkan “pencerita-pencerita” ulung. Tentunya tak perlu lagi disebutkan siapa saja mereka, juga mengalami hal serupa. Perubahan zaman yang sejauh ini belum mampu ditaklukkan anak nagari justru semakin menggerus nilai-nilai adat yang dahulunya dipegang teguh.

Kekhawatiran akan memudar dan pupusnya nilai-nilai adat dan persoalan lain yang melingkupinya kembali menjadi perhatian dan bahasan dalam karya penulis negeri ini. Ragam perubahan yang membuahkan persoalan-persoalan bagi anak nagari kembali menjadi tema sentral dalam kumpulan cerpen Pengantin Subuh yang ditulis oleh Zelfeni Wimra. Pengantin Subuh merupakan kumpulan karya (cerpen) pertamanya yang sekaligus menandai 10 tahun pertama (1999-2009) kegemilangannya dalam dunia kepenulisan. Bukan hanya pada tingkat lokal tetapi juga nasional. Kisah-kisah yang tersaji di dalamnya bukan hanya patut untuk dibaca, tetapi juga sudah selayaknya menjadi sesuatu yang harus disimak, direkam hingga dapat mengurai kembali benang kusut yang melanda tanah leluhur para pahlawan kemerdekaan bangsa ini.

Beberapa judul cerpen di dalamnya seperti, Rumah Kayu Bersendi Batu, Perempuan Bau Asap, Induak Tubo, Menjelang Subuh serta Yang Terbungkuk-bungkuk di Halaman mewakili keprihatinan penulis yang lahir pada tanggal 26 Oktober 1979 akan kampung halamannya (Minangkabau) yang semakin lengang. Tanah rantau kini bukan lagi sekedar sebuah penghidupan. Tempat mencari hidup, tempat mencari uang. Namun sudah berubah menjadi impian, kehidupan baru anak nagari dan nafsu duniawi yang harus dipenuhi. Seperti ketika nafsu untuk menjadi TKW yang telah terpatri di dalam dada Daro mampu membiusnya untuk berpisah dari keluarga, tidak menggubris mamaknya (Mak Sutan), meninggalkan kampung halaman dan secara diam-diam berjingkat di antara sunyi dalam “Menjelang Subuh”. Kesunyian yang mendera perempuan yang terbungkuk-bungkuk di halaman melihat rangkiang dan rumah gadang yang telah ditinggal pergi ketiga putrinya ke tanah rantau. Begitu pula dengan beberapa judul di atas. Pepatah karatau madang di hulu, babuah baguno balun – marantau bujang dahulu di rumah baguno balun lambat laun serupa boomerang yang melayang ke tanah tempat ia semula dilempar. Dilema dan konflik batin akan senantiasa bermunculan dari sebuah isyarat adat (Minangkabau) ini.

Bukan hanya kegelisahan akan nasib kampung halaman ataupun keselamatan adat (Minangkabau) yang dibingkai dalam kumpulan cerpen yang tersaji sebanyak 22 judul ini saja yang menarik. Namun juga penyesalan, harapan, ironi serta pencarian akan Tuhan (agama) yang menyelubungi kisah lainnya. Serupa yang terurai dalam judul, Madrasah Lumut, Bunga dari Peking, Pengantin Subuh, Jalan Mati, Madah Anak Laut, dll. Penulis dengan kelihaiannya mampu untuk merunut kesejatian manusia akan perasaan ingin tahu akan segala sesuatu serta mencari jawabannya. Maka tak salah kiranya jika buku ini pantas untuk menjadi koleksi berikutnya. Selain cerita dan kisah, apalagi yang dapat dikenang seseorang (anak nagari) selain keriangan, keluguan dan keakraban dengan tanah leluhur di masa sebelum rantau yang kelak (juga) kan menyergap sekujur tubuh, menghantarkan kepergian?! Padang, 21 April 2009

NB :
Judul : Pengantin Subuh
Penulis : Zelfeni Wimra
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Jakarta, 2009
Tebal hal : 200 halaman
Resensiator : Ade Faulina

Rubrik baru nih…

Resensi merupakan rubrik baru yang sengaja aku bikin di blog. Tujuannya cuma satu, biar tulisan yang selama ini aku bikin jadi bermanfaat (bukan buatku saja!). Jadi di rubrik Resensi ini nantinya akan aku muat resensi dari apapun (buku, kaset, fil, dll) yang aku suka. Buat launching perdana (hehehe) cuma ini dulu yang aku muat. Tunggu aja yang lainnya okey…!

Narasi Cantik : Cari Aku di Canti

Cari aku di canti

Tak banyak yang ingin bergelut dengan keunikan budaya lokal dalam berkarya. Salah satu di antaranya adalah Wa Ode Wulan Ratna. Lewat kumpulan cerpen Cari Aku di Canti, perempuan kelahiran 23 Agustus 1984 itu seolah ingin memperlihatkan dominasinya dalam penulisan karya sastra dengan ciri khas sosial budayanya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ratih Kumala, “Cara bertutur Wa Ode Wulan Ratna dalam cerpen-cerpennya mengalir lancar. Ia juga cerpenis yang tepat jika ingin mengkhususkan diri untuk mengangkat tema lokal yang kental.”
La Runduma menjadi sajian awal dari buku kumpulan cerpen Cari Aku Di Canti yang berhasil menyematkan titel penulis muda berbakat (Khatulistiwa Literary Award 2008) kepada Wa Ode Wulan Ratna. Narasi-narasi selanjutnya pun tak kalah menyentuh dan menyegarkan. Ada 12 narasi yang satu per satu mencoba menyingkap tabir misteri yang ada pada suatu daerah. Pengekangan terhadap perempuan, dilema, penyesalan, serta kemanusiaan menjadi tema yang menarik dari masing-masing cerita. Lewat kumpulan cerpennya Wa Ode Wulan Ratna semakin memperlebar kesempatan penulis-penulis lainnya, khususnya perempuan untuk berkarya dan menyuguhkan sesuatu yang berbeda. (Ade)

NB : Resensi ini pernah dimuat di rubrik suara pustaka, Tabloid Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang ^_^

Atas ↑

Wahrima's Weblog

Dunia Sederhanaku!

Rara89's Weblog

Just another WordPress.com weblog