Apa jadinya dunia ini jika manusia dilahirkan tanpa imajinasi (imajination)? Barangkali dunia akan terasa gersang, membosankan dan tak akan menjadi seindah seperti sekarang. Manusia tanpa imajinasi hanyalah seperti robot berjalan. Robot yang memiliki kemampuan untuk melakukan ini dan itu. Namun sayangnya, ia tidak dibekali rasa dan pikiran untuk melakukan sesuatu yang berada di luar kendalinya. Ia hanya tunduk pada perintah yang telah tersistem pada mesin yang ada dalam tubuhnya.

kelly-clarkson--z

Setidaknya hal di atas dapat menggambarkan bagaimana pentingnya sebuah imajinasi. Dengan imajinasi kita bisa membayangkan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang belum pernah diwujudkan oleh orang lain. Kita dapat menciptakan keindahan-keindahan baru yang dapat membuat hidup menjadi lebih menarik. Coba kita bayangkan jika seorang pelukis tidak dapat berimajinasi. Penyair tidak memiliki rasa keindahan dalam dirinya, ataupun teknisi-teknisi (para insinyur) tidak dapat menghubungkan rangkaian gambar bergerak yang ada dalam pikirannya menjadi sesuatu yang imajinatif.

Jika imajinasi tidak ada, tentunya tidak akan ada lukisan-lukisan imajinatif yang menggelitik rasa penasaran kita untuk mengetahui/menerka sebuah lukisan itu bercerita tentang apa. Kita juga tidak dapat membaca bahkan memaknai lirik-lirik puitis yang ditulis para penyair. Seandainya imajinasi itu tidak diberikan Tuhan pada manusia, maka tidak akan ada pesawat terbang, kapal, mobil, hingga internet yang menjadi kebutuhan primer kita saat ini. Contoh-contoh tersebut baru sebagian kecil dari hasil imajinasi manusia.

Dengan imajinasi manusia menjadi lebih bergairah dalam menjalani kehidupan ini. Karena dengan imajinasi manusia diberi “ruang” untuk membayangkan hal-hal yang ia inginkan. Hal-hal yang menjadi impiannya. Imajinasi melengkapi akal pikiran yang menjadi “mesin” utama manusia. Akal pikiran membuat manusia menjadi cerdas. Sedangkan dengan imajinasi manusia menjadi lebih indah. ***
(Padang/28-7-2013)

Iklan