Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu (6/2) saya berkesempatan menjadi salah seorang pembicara dalam acara Bedah Buku Hati Prajurit di Negeri Tanpa Hati bertempat di Rest and Reading Room Toko Buku Sari Anggrek, Padang. Alhamdulillah, ini merupakan kesempatan kedua saya berbicara tentang karya sastra di depan umum. Dan seperti biasanya rasanya tetap menyenangkan. ^_^

12640343_10205791392684488_6115524580970377659_o

Buku yang saya ulas bersama tiga narasumber (pembaca inti) lainnya, yaitu Mahatma Muhammad (dramawan), Denni Meilizon (penyair/cerpenis), dan Ria Febrina (penulis) merupakan antologi puisi yang ditulis oleh ayah dan anak, Zaidin Bakry dan Sastri Bakry. Meskipun menggeluti dua profesi yang berbeda, Zaidin Bakry merupakan seorang prajurit dan Sastri Bakry berkecimpung di dunia birokrasi kedua sosok tersebut tetap menjadikan puisi sebagai suatu hal yang penting dalam hidup mereka. Hal ini terbukti dari hadirnya buku tersebut ke hadapan pembaca. Sebuah arsip berharga bagi dunia sastra Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Karena tidak banyak sosok bertalian darah yang sama-sama berkecimpung di ranah sastra dan kemudian menghasilkan karya.

Continue reading “Bedah Buku “Hati Prajurit di Negeri Tanpa Hati””